Di tepi jalan utama Ambarawa, bangunan besar bercat kusam itu dulu sering dilewati begitu saja. Orang mungkin melirik sekilas, lalu bertanya dalam hati: bangunan apa ini? Sebagian lagi memilih tak mendekat, terlalu rimbun, terlalu gelap, terlalu sunyi.
KINI, suasananya berbeda. Benteng Pendem Ambarawa, atau yang dikenal sebagai Fort Willem I, pelan-pelan bangkit dari keterlupaan. Setelah direvitalisasi, bangunan peninggalan kolonial Belanda ini menjelma menjadi ruang belajar sejarah sekaligus destinasi wisata edukasi yang ramai pengunjung.
Benteng ini dibangun pada sekitar tahun 1833 dan rampung pada dekade 1840-an. Di masa kolonial, Ambarawa bukan wilayah biasa. Letaknya strategis, menghubungkan Semarang, Magelang, dan Salatiga, menjadikannya titik penting pertahanan militer Belanda di Jateng.
“Benteng ini memang sejak awal dibangun sebagai benteng pertahanan,” ujar Heni, salah satu tim marketing Benteng Willem I Ambarawa, saat ditemui di lokasi, belum lama ini.
Baca juga: Sebelas Event Wisata Jateng Masuk KEN 2026
Nama “Benteng Pendem” sendiri lahir bukan dari arsip resmi, melainkan dari lidah masyarakat. Sebagian bangunan berada di bawah permukaan tanah, seolah tersembunyi, terpendam oleh waktu dan lapisan sejarah. Dari situlah sebutan itu melekat hingga kini.
Namun perjalanan benteng ini tak berhenti sebagai simbol pertahanan kolonial. Seiring bergulirnya zaman, fungsi bangunan pun berubah. “Benteng ini sempat digunakan sebagai lapas. Bahkan ada ruangan yang dulu jadi tempat tinggal pegawai lapas beserta keluarganya,” kata Heni.
Perubahan fungsi itu meninggalkan jejak. Lorong-lorong panjang, ruang sempit, dan dinding tebal menjadi saksi bagaimana bangunan kolonial ini terus hidup, meski perlahan kehilangan perhatian.
Belum Tertata
Sebelum direvitalisasi, Benteng Pendem sebenarnya tak sepenuhnya mati. Sesekali ada pengunjung datang, kebanyakan warga sekitar. Namun pengelolaannya belum tertata, belum benar-benar menjadi tempat wisata.
“Dulu masih menerima pengunjung, tapi belum tersistem. Lebih ke warga lokal saja,” ujar Heni. Kondisinya pun jauh dari ramah. Banyak area dipenuhi tanaman liar, semak belukar, dan kesan angker yang menyengat.
“Masih seperti hutan belantara. Kadang orang takut masuk,” kenangnya. Padahal, rasa penasaran masyarakat sudah lama tumbuh. Bangunan besar yang berdiri kokoh di pinggir jalan itu selalu memancing tanya. “Kalau saya pribadi, dulu sering lewat sini dan mikir, ini bangunan apa ya? Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan,” kata Heni.
Titik balik datang saat proses revitalisasi dimulai. Alih-alih sepi, kawasan ini justru mulai ramai, bahkan sebelum resmi dibuka. “Waktu masih pembangunan saja, animonya sudah besar. Banyak orang pengin lihat hasilnya seperti apa,” ujarnya.
Kini, setelah dibuka untuk umum, Benteng Pendem Ambarawa berubah wajah. Area yang dulu rimbun kini lebih tertata. Jalur pengunjung lebih aman. Ruang-ruang tua yang dulu gelap mulai diisi cerita dan penjelasan sejarah.
Pengunjung pun datang dari berbagai kalangan. Namun satu kelompok paling menonjol: pelajar. “Banyak anak-anak sekolah yang datang. Mereka belajar sejarah langsung di tempatnya,” tutur Heni.
Baca juga: Jateng Jadi Provinsi Paling Cuan dari Pariwisata, Kalahkan Bali dan Jogja
Bagi mereka, Benteng Pendem bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruang belajar hidup, tempat sejarah tak hanya dibaca, tapi dirasakan. Meski begitu, revitalisasi ini belum sepenuhnya selesai. Dari keseluruhan kompleks benteng, baru sekitar sepertiga area yang tersentuh pembenahan. “Yang direvitalisasi baru sekitar sepertiganya,” kata Heni.
Artinya, masih ada ruang, secara harfiah dan simbolis bagi sejarah untuk terus digali dan dihidupkan. Kini, Benteng Pendem Ambarawa berdiri sebagai pengingat bahwa bangunan tua bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia bisa menjadi jembatan: antara generasi, antara cerita lama dan cara baru untuk memahaminya.
Dulu, orang lewat sambil bertanya-tanya. Sekarang, orang datang sambil belajar dan bercerita. Benteng yang sempat “terpendam” itu akhirnya menemukan suaranya kembali, pelan, tapi pasti. (dul)


