BACAAJA, PURBALINGGA – Banjir bandang yang menghantam lereng Gunung Slamet di Purbalingga pada 23–24 Januari 2026 bukan cuma soal hujan deras.
Lumpur tebal, batu besar, dan kayu gelondongan yang menyapu permukiman warga jadi sinyal keras: hulu Gunung Slamet sedang tidak baik-baik saja.
Bencana ini bahkan mengubah bentang alam dan memicu potensi aliran air baru di sekitar desa terdampak.
Bacaaja: Banjir dan Longsor Lereng Gunung Slamet: 4 Kabupaten Terdampak, Timbulkan Korban Jiwa
Bacaaja: Banjir Bandang Lereng Gunung Slamet, Warga Purbalingga Terisolasi hingga Jalur Pendakian Ditutup
Desa Serang, Sangkanayu, dan Kutabawa jadi saksi bagaimana kiriman material dari atas gunung menghancurkan rumah, jembatan, hingga memutus total akses Dusun Bambangan dan Gunung Malang.
Satu warga meninggal dunia, sekitar 500 jiwa mengungsi, dan delapan rumah rata dengan tanah. Ini bukan dampak banjir biasa, tapi efek domino dari hulu yang kehilangan daya tahan alamiah.
Kayu gelondongan dalam jumlah masif yang terbawa arus memunculkan pertanyaan serius soal pengelolaan kawasan hutan di hulu.
Saat vegetasi rusak dan tanah kehilangan daya serap, hujan tinggal menunggu momen untuk berubah jadi bencana.
Aliran air yang kini bergeser di sekitar permukiman warga menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi ancaman abstrak, tapi realitas yang langsung menghantam ruang hidup.
Tanpa evaluasi serius terhadap tata kelola hulu Gunung Slamet, upaya bersih-bersih di hilir cuma jadi solusi tambal sulam.
Banjir ini seperti alarm keras: kalau hulu terus dieksploitasi dan dibiarkan rapuh, warga di bawah cuma tinggal menunggu giliran kena dampaknya.
Data BPBD Purbalingga
BPBD Purbalingga mencatat tiga desa kena dampak langsung, dengan kerusakan paling parah terjadi di Desa Serang.
Di Dusun Kaliurip saja, 36 rumah rusak berat tertimbun lumpur, batu, dan kayu setinggi satu meter, sementara enam rumah langsung lenyap rata dengan tanah.
Total ada 210 rumah terdampak dan 500 warga terpaksa mengungsi ke masjid, rumah singgah, villa, sampai rumah kerabat.
Satu warga luka berat dan satu lainnya meninggal dunia. Air bah ini diketahui berasal dari Sungai Soso, yang berubah jadi jalur penghancur setelah hujan ekstrem menghantam kawasan hulu.
Kondisi lebih gawat terjadi di Dusun Gunung Malang. Dua jembatan putus, jalan tertutup material, listrik padam, komunikasi lumpuh total. Warga terpaksa turun mengungsi jalan kaki satu per satu.
Dari 18 rumah terdampak, 12 di antaranya hancur rata dengan tanah dan enam lainnya masih terancam.
Sementara di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, 29 rumah rusak ringan, jembatan penghubung ambruk, dan jalan kabupaten ketutup longsor sepanjang 12 meter.
Di Desa Sangkanayu, banjir merendam 78 rumah, dengan 6 rumah rusak berat dan 7 rumah hanyut terbawa arus.
Kerugian bukan cuma bangunan, motor, mobil, ternak, hingga ratusan hektar lahan pertanian gagal panen ikut hilang.
“Selain rumah, banyak pula harta benda seperti motor, mobil, hingga hewan ternak yang hilang hanyut terbawa banjir. Ratusan hektar lahan pertanian warga juga rusak dan gagal panen,” terang Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Kuat Waluyo.
Pemkab Purbalingga mengakui penanganan dilakukan bertahap karena keterbatasan alat berat. Tapi satu hal makin kelihatan jelas: banjir ini bukan cuma soal hujan, tapi soal hulu yang makin rapuh.
“Semisal pada pemakaian alat berat yang jumlahnya terbatas sehingga harus bergantian,” kata Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif.
Ketika lumpur dan kayu gelondongan turun bareng air, itu alarm keras bahwa tata kelola lingkungan di atas gunung sedang bermasalah.
Kalau hulunya terus dibiarkan rusak, warga di bawah bakal terus jadi korban, lagi, dan lagi. (*)


