BACAAJA, JAKARTA – Bencana gede yang nyerang beberapa wilayah di Sumatera bikin banyak daerah lumpuh, tapi TNI AD langsung gerak cepat buat nutup semua celah bantuan yang dibutuhin warga. Tanpa banyak drama, lebih dari 21 ribu prajurit diterjunkan buat nge-handle banjir bandang, longsor, sampai cuaca ekstrem yang bikin akses ke banyak desa putus total.
Fokus utamanya jelas: nyelametin warga dulu, baru ngejar pemulihan. Makanya, dari logistik sampai evakuasi, semuanya digarap barengan lewat Kodam dan satuan teritorial yang langsung turun ke titik paling parah. Mulai dari angkut bantuan, ngasih dapur lapangan, sampai buka jalur terisolasi, semuanya dikebut biar bantuan nggak berhenti di tengah jalan.
Dari pusat komando, TNI AD memastikan setiap wilayah yang kena dampak terus dipantau ketat. Kadispenad Kolonel Inf Donny Pramono bilang bantuan ini masih tahap awal, dan jumlahnya bakal terus ditambah sesuai kondisi lapangan. Intinya, makin butuh, makin banyak yang dikirim.
Buat wilayah Aceh, prajurit Kodam Iskandar Muda ngurus evakuasi, bantu warga yang rumahnya kebanjiran, plus ngangkut material longsor yang nutup jalan utama. Lain cerita di Sumatera Barat, Kodam XX/TIB ngegas dengan tambahan alat berat buat beresin area yang porak-poranda diterjang banjir bandang.
Di Sumatera Utara, fokus bantuan lebih ke pemulihan fasilitas umum dan ngejar distribusi logistik ke daerah yang masih kejebak tanpa akses. Bantuan tambahan juga dikirim lewat Hercules dan kapal KRI, biar nggak ada daerah yang ketinggalan.
Bantuan yang dikirim pun macem-macem: dari tenda serbaguna, velbed, genset, alat dapur lapangan, air purifier portable, kompor, ban truk, sampai Starlink buat komunikasi. Bahkan ada kantong jenazah, OBM, dan LCR buat operasi di wilayah yang masih tergenang.
Belum cukup sampai situ, mobil RO, jembatan Bailey, excavator, sampai buldoser juga dikirim lewat KRI. Disusul lagi alat kesehatan, perlengkapan bayi, pakaian layak pakai, sampai kendaraan Maung lewat Kapal ADRI. Semua disusun biar tiap wilayah dapat suplai yang proporsional.
Bantuan dana juga dikucurkan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak: Rp200 juta buat Aceh, Rp250 juta buat Sumut, dan Rp200 juta buat Sumbar. Biar operasional penanganan tetap jalan tanpa hambatan.
Dari udara, alutsista TNI AD juga ikut kerja keras. Ada tiga Heli Bell 412, dua Mi-17, dan satu CASA yang disebar ke Kodam IM, Kodam I/BB, dan BNPB. Fungsinya jelas: ngangkat bantuan, pantau kondisi, dan angkut warga yang butuh evakuasi cepat.
Distribusi personel juga masif. Aceh dapat 6.922 prajurit plus armada truk, motor, perahu fiber, sampai heli. Sumut kebagian 7.529 prajurit lengkap dengan excavator dan LCR. Sementara Sumbar digarap 5.731 prajurit dengan tambahan ambulans, truk strada, dan heli bantuan dari Basarnas dan TNI AU.
Donny menegaskan lagi, operasi ini masuk kategori OMSP—alias operasi militer selain perang—yang sifatnya harus cepat, terkoordinasi, dan nyambung terus dengan pihak daerah sampai pusat. Biar proses pemulihan nggak cuma berjalan, tapi benar-benar terasa manfaatnya. (*)


