BACAAJA, SIDOARJO – Operasi penyelamatan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, berubah suasana sejak Kamis pagi, 2 Oktober 2025. Setelah tiga hari penuh harapan, tim SAR akhirnya menurunkan alat berat untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan beton gedung empat lantai yang ambruk.
Langkah ini jadi titik balik. Jika sebelumnya semua fokus cari tanda-tanda kehidupan, kini harapannya menipis. Tidak ada lagi sinyal keberadaan korban selamat di bawah tumpukan bangunan.
Kepala BNPB Suharyanto, bersama Menko PMK Pratikno, turun langsung ke posko darurat. Mereka bertemu keluarga korban, menjelaskan situasi, sekaligus minta restu agar evakuasi bisa dilanjutkan dengan alat berat.
Pertemuan itu berlangsung emosional. Namun pada akhirnya, keluarga korban menyetujui keputusan berat itu. Semua pihak sepakat bahwa evakuasi harus berlanjut, meski peluang menemukan santri dalam kondisi hidup sudah nyaris hilang.
Evakuasi Manual yang Melelahkan
Sejak Senin sore, tim gabungan bekerja keras manual. Dengan sekop, cangkul, dan tangan kosong, mereka gali reruntuhan demi selamatkan nyawa yang masih terjebak.
Upaya itu membuahkan hasil. Hingga Rabu, tujuh orang berhasil dikeluarkan dari bawah beton. Lima selamat, dua meninggal. Setiap korban yang diangkat memberi semangat baru bagi para relawan di lapangan.
Tapi kondisi bangunan bikin pekerjaan makin mustahil dilakukan manual. Beton runtuh berlapis-lapis seperti pancake, akses makin tertutup, tenaga makin terkuras.
Karena itulah, Kamis pagi jadi momen alat berat akhirnya benar-benar diturunkan. Harapan menyelamatkan korban berubah jadi misi mengangkat jenazah.
Data Korban Terus Bertambah
Hingga Kamis sore, jumlah korban yang sudah terevakuasi tercatat 108 orang. Dari jumlah itu, 30 masih dirawat di rumah sakit, 73 sudah dipulangkan, dan 5 meninggal dunia.
Namun daftar korban belum berhenti di situ. Masih ada 58 santri yang dinyatakan hilang, diduga tertimbun reruntuhan. Angka itu bikin operasi terus berlanjut, meski peluang hidup makin menipis.
Tragedi ini bermula ketika ratusan santri sedang sholat berjamaah di lantai dasar. Di atasnya, tiga lantai bangunan baru yang belum rampung langsung runtuh menimpa.
Kondisi itu bikin gedung seperti kue berlapis yang jatuh menimpa penghuni di bawahnya. Gambaran tragis yang bikin keluarga korban hanya bisa berdoa menunggu kabar.
Sorotan pada Bangunan
Emi Freezer, pejabat SAR Nasional, buka suara soal penyebab teknis. Ia menyebut struktur bangunan bermasalah. “Kolom utama berbentuk U, itu tanda kuat kalau konstruksi nggak sesuai standar. Harusnya patah, bukan elastis,” katanya.
Analisis itu menunjukkan kalau bangunan terlalu lentur menahan beban. Elastisitas yang tinggi justru bikin beban numpuk ke tengah gedung, dan akhirnya runtuh.
Akibatnya, terbentuk celah sempit di dalam reruntuhan. Ironisnya, celah inilah yang bikin korban sempat bertahan hidup meski terjebak berjam-jam.
Kenapa Alat Berat Baru Dipakai?
Keputusan menunda alat berat sempat menuai pertanyaan. Tapi alasan tim SAR jelas: getaran dari mesin bisa bikin reruntuhan makin parah. Korban yang masih hidup bisa ikut terkubur.
Karena itu, hari-hari pertama difokuskan dengan cara manual. Lewat celah kecil, tim bahkan sempat kasih makanan dan air ke korban yang terjebak.
Namun setelah tiga hari, situasi berubah. Tidak ada lagi suara, tidak ada lagi tanda-tanda. Maka keluarga korban menandatangani berita acara, menerima kenyataan pahit.
Kini, suara mesin excavator dan backhoe jadi latar baru di lokasi Ponpes Al Khoziny. Evakuasi tetap jalan, meski harapan tinggal menemukan jasad santri untuk segera dikembalikan ke keluarganya. (*)


