BACAAJA, SEMARANG- Belakangan ini demo rasanya gampang panas. Awalnya cuma mau nyampein pendapat, tapi di lapangan massa cepat ke-trigger. Ujung-ujungnya malah jadi chaos, bahkan sampai bentrok sama aparat.
Aktivis dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kota Semarang, Bima, punya usul sederhana biar demo nggak berujung chaos. Kuncinya, pejabat mau turun langsung dan ketemu massa aksi.
Baca juga: Demo Panas di DPRD Jateng! Mahasiswa Soroti Kasus Andrie Yunus, Tolak Peradilan Militer
Ia bilang, demo itu pasti punya tujuan. Setiap aksi goals-nya adalah menyampaikan poin tuntutan. “Sesederhana itu,” kata Bima dalam diskusi program Titik Kumpul 2 SKS yang digelar Peradi SAI dan media BacaAja, Rabu (8/4/2026).
Maka, ia menyarankan pemerintah maupun dewan tidak menghindar saat ada aksi. Justru harus hadir dan mau mendengarkan langsung di lapangan. “Monggo Bapak dan Ibu yang ada di dewan silakan untuk bertemu dengan massa aksi. Dan di situ mendengarkan. Kami yakin dan kami jamin ketika itu dilakukan pasti tidak akan chaos,” sarannya.
Pendekatan Ganjar
Bima mencontohkan pendekatan yang pernah dilakukan Ganjar Pranowo. Saat itu, Ganjar waktu menjabat Gubernur Jateng pernah memilih duduk bersama massa dan mendengar langsung aspirasi mereka. “Mungkin seperti waktu itu pernah dilakukan oleh Pak Ganjar ya. Waktu itu Pak Ganjar pernah melakukan seperti itu. Dan terbukti itu tidak chaos,” katanya.
Meski begitu, ia mengingatkan, pertemuan itu jangan cuma formalitas. Aspirasi yang disampaikan harus benar-benar ditindaklanjuti, bukan sekadar meredam situasi.
Ia menegaskan, mahasiswa siap ikut mengawal hasil kesepakatan. Bahkan terbuka jika dilibatkan sebagai mitra strategis dalam merumuskan solusi. Namun, ia juga mengingatkan pemerintah agar tidak melempar tanggung jawab sepenuhnya ke masyarakat. Peran utama tetap ada di pemangku kebijakan.
Baca juga: Molotov Terbang di Depan Mapolda Jateng, Demo Ojol & Mahasiswa Berubah Chaos
Bima berharap komunikasi dua arah bisa diperkuat. Bahkan, jika perlu, tuntutan massa bisa dibahas lebih lanjut lewat forum resmi seperti rapat dengar pendapat.
Kadang demo jadi ricuh bukan karena suaranya terlalu keras, tapi karena yang dituju terlalu jauh. Mungkin benar, yang dibutuhkan bukan tambahan barikade, tapi keberanian buat turun, duduk, dan benar-benar mendengar. (bae)

