BACAAJA, SEMARANG- Tragedi memilukan terjadi di kawasan padat penduduk Kauman, Semarang Tengah. Sebuah rumah sederhana di Jalan Pedamaran, Gang Buntu No. 10 roboh pada Kamis (30/10) malam, saat hujan deras mengguyur.
Dalam peristiwa itu, Mega Gita Safitri meninggal dunia setelah tertimpa tembok bangunan tua di belakang rumahnya. Dua anaknya, Yuanita Atia Eka (7) dan Ikwan Setiawan (4), serta sang adik, Syahrul Adji Pramuda (20), berhasil selamat meski mengalami luka memar.
Sehari setelah kejadian, Wali Kota Agustina Wilujeng datang meninjau lokasi dan menemui keluarga korban. Ia menyampaikan duka mendalam serta memastikan kebutuhan dasar dan masa depan anak-anak Mega akan dijamin pemerintah.
“Anak-anak korban akan kita beri perhatian penuh, terutama dari sisi pendidikan dan kesejahteraan. Mereka tidak boleh kehilangan masa depan,” ujar Agustina di lokasi.
Dari hasil peninjauan, rumah korban diketahui berdiri di atas lahan dengan status kepemilikan yang belum jelas, sehingga Pemkot belum bisa memberikan bantuan perbaikan secara langsung. Namun, Agustina menegaskan bahwa bantuan kebutuhan dasar dan tempat tinggal sementara tetap disediakan.
Cek Bangunan
“Kami pastikan makan-minumnya aman. Relawan dan warga juga membantu bersih-bersih dan menyiapkan tempat sementara,” katanya. Ia juga memerintahkan camat dan lurah setempat untuk mengecek ulang kondisi bangunan tua di kawasan padat penduduk seperti Kauman agar kejadian serupa tak terulang.
“Anak-anak korban sudah kami minta dibawa ke puskesmas untuk diperiksa. Mereka masuk kategori masyarakat miskin, jadi akan kami pastikan masuk dalam data bantuan sosial dan pendidikan,” tambahnya.
Lebih jauh, Pemkot Semarang akan memperbarui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar warga kurang mampu yang belum terdata bisa segera mendapat bantuan. Selain itu, Agustina juga berencana menghidupkan kembali ekonomi warga Kauman, terutama di sekitar Kampung Semawis dan Klenteng Tay Kak Sie, lewat kegiatan wisata dan UMKM.
“Kami ingin kawasan ini hidup lagi. Warga bisa jualan, bikin kerajinan, atau jadi pemandu wisata. Sore nanti, kita hidupkan lagi pusat keramaian di sini,” pungkasnya.
Kadang miris juga, ya. Rumah roboh baru ramai dicek setelah jadi berita, padahal temboknya udah miring dari lama. Untung aja masih ada yang sigap datang dan peduli.
Kalau kamu, udah pernah lihat rumah di sekitar yang rawan roboh tapi cuma bisa bilang, “Semoga enggak kejadian”? (tebe)


