Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Al-Hujurat Ayat 12: Stop Gibah, Jangan Kepo Aib Orang
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Al-Hujurat Ayat 12: Stop Gibah, Jangan Kepo Aib Orang

Nugroho P.
Last updated: Oktober 29, 2026 2:04 pm
By Nugroho P.
12 Min Read
Share
GHIBAH. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan agar umatnya mampu mengendalikan lisan. Ada beberapa amalan dan kebiasaan yang bisa dilakukan untuk menghindari ghibah, mulai dari memperbanyak dzikir hingga berani mengalihkan obrolan yang mulai tidak sehat. (istimewa)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Di era media sosial, membicarakan kehidupan orang lain terasa gampang banget. Cukup lewat komentar, grup WhatsApp, atau unggahan di media sosial, aib seseorang bisa menyebar ke mana-mana hanya dalam hitungan menit. Padahal, Islam sudah mengingatkan umatnya agar berhati-hati dalam berprasangka, mencari kesalahan, hingga membicarakan keburukan orang lain.

Contents
Bacaan Surat Al-Hujurat Ayat 12 dan Artinya1. Jangan Gampang Suuzan kepada Orang Lain2. Tajassus, Kebiasaan Mengorek Aib Orang3. Ghibah, Meski yang Dibicarakan BenarMengapa Ghibah Diibaratkan Memakan Daging Saudara Sendiri?Cara Mengamalkan Surat Al-Hujurat Ayat 12 di Media SosialPintu Tobat Selalu TerbukaPertanyaan Seputar Surat Al-Hujurat Ayat 12

Peringatan tersebut tertuang dalam Surat Al-Hujurat ayat 12. Ayat ini mengajarkan tiga hal penting yang perlu dijaga dalam pergaulan, yaitu menjauhi prasangka buruk, tidak mengorek aib orang lain, dan menghindari ghibah atau menggunjing.

Pesannya terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Sebab, kebiasaan kepo urusan orang lain, menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi, hingga ikut meramaikan gosip yang belum jelas kebenarannya bisa membuat seseorang terjebak dalam perilaku yang dilarang Allah SWT.

Bacaan Surat Al-Hujurat Ayat 12 dan Artinya

Sebelum memahami tafsirnya, umat Islam bisa mempelajari bacaan Surat Al-Hujurat ayat 12 beserta tulisan Arab, Latin, dan terjemahannya.

Arab:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Latin:

Yā ayyuhal-lażīna āmanujtanibū kaṡīram minaẓ-ẓann(i), inna ba‘ḍaẓ-ẓanni iṡmun wa lā tajassasū wa lā yagtab ba‘ḍukum ba‘ḍā(n), ayuḥibbu aḥadukum ay ya’kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumūh(u), wattaqullāh(a), innallāha tawwābur raḥīm(un).

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat [49]: 12, terjemahan Kementerian Agama RI).

Ayat tersebut bukan sekadar melarang seseorang membicarakan keburukan orang lain. Allah SWT juga mengingatkan agar umat Islam tidak gampang menaruh curiga dan sengaja mencari-cari kesalahan sesama.

1. Jangan Gampang Suuzan kepada Orang Lain

Larangan pertama dalam Surat Al-Hujurat ayat 12 adalah menjauhi banyak prasangka. Dalam kehidupan sehari-hari, prasangka buruk atau suuzan bisa muncul ketika seseorang menilai orang lain tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.

Contohnya, ketika teman tidak membalas pesan, seseorang langsung menganggapnya sombong atau sengaja menghindar. Padahal, bisa saja teman tersebut sedang sibuk, menghadapi masalah, atau belum sempat membuka ponselnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Sebab, dugaan yang tidak didukung bukti bisa memicu kesalahpahaman, merusak hubungan, bahkan menimbulkan permusuhan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahaya prasangka dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA.

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mencari kesalahan, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Al-Bukhari no. 6064).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama dimulai dari cara berpikir. Jangan sampai dugaan yang belum tentu benar justru membuat kita menuduh, membenci, atau menjatuhkan orang lain.

2. Tajassus, Kebiasaan Mengorek Aib Orang

Larangan kedua adalah tajassus, yaitu mencari-cari informasi tersembunyi atau mengorek kesalahan orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.

Kebiasaan ini bisa berawal dari rasa penasaran. Seseorang ingin mengetahui urusan pribadi orang lain, lalu sengaja mencari informasi untuk memuaskan rasa ingin tahunya atau menemukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan pembicaraan.

Di era digital, perilaku tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, sengaja membongkar percakapan pribadi, menyebarkan tangkapan layar tanpa izin, atau menelusuri akun seseorang hanya untuk mencari kesalahannya.

Padahal, tidak semua hal yang bisa diakses di internet pantas dijadikan bahan konsumsi publik. Informasi yang ditemukan juga tidak otomatis boleh disebarkan, terlebih jika menyangkut privasi dan kehormatan seseorang.

Surat Al-Hujurat ayat 12 mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai bahan buruan. Rasa ingin tahu seharusnya tetap dibatasi oleh etika, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Namun, larangan tajassus tidak berarti seseorang harus menutup mata terhadap tindak kejahatan atau membiarkan ketidakadilan. Melaporkan dugaan pelanggaran melalui jalur yang tepat berbeda dengan mengorek aib demi gosip atau mempermalukan seseorang.

3. Ghibah, Meski yang Dibicarakan Benar

Larangan ketiga dalam ayat ini adalah ghibah atau menggunjing. Kebiasaan ini kerap dianggap sepele karena sering muncul dalam obrolan santai bersama teman, keluarga, maupun rekan kerja.

Padahal, Rasulullah SAW telah menjelaskan pengertian ghibah secara tegas. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA, Nabi SAW bertanya kepada para sahabat apakah mereka mengetahui apa itu ghibah.

Beliau menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudara kita yang tidak disukainya. Ketika ditanya bagaimana jika hal yang dibicarakan memang benar, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika hal itu benar, itulah ghibah, sedangkan jika tidak benar, maka termasuk buhtan atau tuduhan dusta. (HR Muslim no. 2589).

Penjelasan ini penting karena masih ada anggapan bahwa membicarakan keburukan orang lain diperbolehkan selama faktanya benar. Padahal, kebenaran informasi tidak otomatis membuat pembicaraan tersebut bebas dari larangan ghibah.

Misalnya, seseorang menceritakan kekurangan fisik, masalah rumah tangga, atau kesalahan pribadi temannya kepada orang lain hanya untuk bahan tertawaan. Jika orang yang dibicarakan tidak menyukai hal tersebut, perbuatan itu bisa termasuk ghibah.

Karena itu, sebelum ikut membicarakan seseorang, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri: apakah pembicaraan ini memang diperlukan atau hanya untuk memuaskan rasa penasaran?

Mengapa Ghibah Diibaratkan Memakan Daging Saudara Sendiri?

Bagian paling kuat dalam Surat Al-Hujurat ayat 12 adalah perumpamaan tentang orang yang menggunjing saudaranya seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah meninggal.

Perumpamaan tersebut menggambarkan betapa buruknya perbuatan ghibah. Orang yang sudah meninggal tidak bisa membela diri, sebagaimana orang yang sedang digunjing sering kali tidak hadir untuk menjelaskan atau meluruskan perkataan tentang dirinya.

Allah SWT menggunakan gambaran yang menjijikkan agar manusia menyadari betapa tercelanya tindakan merendahkan kehormatan orang lain. Sesuatu yang mungkin terasa biasa dalam obrolan sehari-hari ternyata memiliki konsekuensi moral dan agama yang serius.

Pesan ini semakin relevan ketika gosip di media sosial bisa menjangkau ribuan orang dalam waktu singkat. Satu komentar dapat memicu komentar lain, lalu berkembang menjadi perundungan atau penghinaan massal.

Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati saat menulis komentar, membagikan unggahan, atau meneruskan informasi tentang seseorang. Jangan sampai jari yang digunakan untuk berkomunikasi justru menjadi sarana menyakiti dan merusak kehormatan orang lain.

Cara Mengamalkan Surat Al-Hujurat Ayat 12 di Media Sosial

Mempraktikkan pesan ayat ini tidak harus menunggu perubahan besar. Kebiasaan sederhana dalam menggunakan media sosial bisa menjadi langkah awal untuk menjaga diri dari prasangka, tajassus, dan ghibah.

1. Berhenti sejenak sebelum berkomentar

Sebelum menulis komentar tentang seseorang, pikirkan apakah perkataan tersebut bermanfaat atau justru mempermalukan orang lain. Jika hanya berisi ejekan dan pembicaraan tentang kekurangan pribadi, lebih baik tidak perlu dikirim.

2. Jangan langsung percaya kabar yang belum jelas

Ketika menerima informasi negatif tentang seseorang, jangan buru-buru menyimpulkan atau menyebarkannya. Periksa kebenarannya dan hindari membuat tuduhan berdasarkan potongan informasi.

3. Hormati percakapan pribadi

Tangkapan layar pesan, foto pribadi, dan informasi yang dibagikan dalam ruang terbatas tidak semestinya disebarkan sembarangan. Pikirkan dampaknya terhadap orang yang bersangkutan sebelum membagikannya kepada orang lain.

4. Alihkan obrolan yang mulai mengarah ke ghibah

Ketika percakapan bersama teman mulai membahas keburukan seseorang, kamu bisa mengalihkan topik dengan cara yang santun. Tidak perlu memperkeruh suasana atau merendahkan orang yang sedang dibicarakan.

5. Biasakan mendoakan, bukan menggunjing

Ketika mengetahui kekurangan orang lain, pilih sikap yang lebih baik. Jika memungkinkan, sampaikan nasihat secara pribadi dengan cara yang baik, bukan menjadikannya bahan pembicaraan di belakang.

Pintu Tobat Selalu Terbuka

Surat Al-Hujurat ayat 12 tidak berakhir dengan ancaman semata. Allah SWT menutup ayat ini dengan perintah bertakwa dan penegasan bahwa Dia Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Penutup tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia bisa melakukan kesalahan. Orang yang pernah terjerumus dalam prasangka buruk, tajassus, atau ghibah tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Langkah awalnya adalah berhenti melakukan perbuatan tersebut, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika ada orang yang dirugikan, upayakan memperbaiki keadaan dengan cara yang bijak dan tidak menimbulkan kerugian baru.

Pada akhirnya, Surat Al-Hujurat ayat 12 mengajarkan bahwa menjaga lisan bukan hanya soal tidak berkata kasar. Menahan diri dari prasangka, menghormati privasi, dan tidak membicarakan keburukan orang lain juga merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Di tengah derasnya arus informasi, pesan ini layak menjadi pegangan. Sebelum membagikan kabar, menulis komentar, atau ikut membicarakan seseorang, pastikan tindakan kita tidak berubah menjadi jalan untuk menyakiti sesama.

Pertanyaan Seputar Surat Al-Hujurat Ayat 12

1. Apa isi pokok Surat Al-Hujurat ayat 12?

Ayat ini berisi larangan berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain atau tajassus, serta melakukan ghibah. Ayat tersebut juga mengingatkan umat Islam agar bertakwa kepada Allah SWT dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

2. Apakah membicarakan fakta tentang orang lain termasuk ghibah?

Ya, jika seseorang menyebut keburukan yang benar-benar ada pada orang lain dan orang tersebut tidak menyukainya, perbuatan itu termasuk ghibah. Jika yang disampaikan tidak benar, hal tersebut termasuk buhtan atau tuduhan dusta, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim no. 2589.

3. Apa contoh tajassus di era media sosial?

Contohnya adalah sengaja mengorek informasi pribadi seseorang untuk mencari kesalahannya, membongkar percakapan pribadi tanpa alasan yang dibenarkan, atau mencari-cari aib untuk dipermalukan di ruang publik.

4. Bagaimana cara menghindari ghibah?

Biasakan berbicara seperlunya, menghindari obrolan yang hanya membahas keburukan orang lain, dan mengalihkan pembicaraan ketika mulai mengarah pada gosip. Jika ada persoalan yang perlu diselesaikan, utamakan komunikasi secara langsung dan bijak.

5. Apakah orang yang pernah melakukan ghibah masih bisa bertobat?

Tentu. Allah SWT Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Seseorang yang pernah melakukan ghibah hendaknya berhenti, menyesali perbuatannya, memohon ampun kepada Allah SWT, dan berusaha memperbaiki kerugian yang ditimbulkan dengan cara yang tepat. (*)

You Might Also Like

Karhutla Bikin Anak Terjebak di Rumah, Psikolog Ingatkan Dampaknya

Suka Makan Mi Instan Tapi Takut Gemuk? Intip Tips Ala Korea Ini!

Buya Yahya Tegas soal Manipulasi Data di Tempat Kerja

Negara Paling Jarang Jalan Kaki, Indonesia Masuk Zona Terbawah

Es Kopi Rumahan Naik Kelas Tanpa Mesin Mahal

TAGGED:al-hujaratberita islamiGHIBAHislam
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article PDIP-PKS Kompak Bahas Hak Angket Ijazah Gibran
Next Article Inbox Gmail Berantakan? Bikin Filter Biar Rapi Otomatis

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ilustrasi program bayi tabung. Melalui pembiayaan multijasa, BCA Syariah bisa jadi alternatif pasangan untuk mempersiapkan kebutuhan finansial bagi pasangan yang sedang berikhtiar memperoleh keturunan dengan menjalani program bayi tabung.

BCA Syariah Hadirkan Pembiayaan Multijasa untuk Program Bayi Tabung

SAMPAIKAN KETERANGAN - Wakasat Reskrim Polrestabes Semarang AKP Jumani (kiri) didampingi Kasi Humas Polrestabes Semarang Kompol Sugito (kanan) saat menyampaikan keterangan pers di kantornya, Kamis (29/10/2026). (Dok Polrestabes Semarang)

Polisi Pastikan Penyelidikan Kematian Atlet Silat Semarang Ayudiah Rivana Tetap Berjalan

Inbox Gmail Berantakan? Bikin Filter Biar Rapi Otomatis

Al-Hujurat Ayat 12: Stop Gibah, Jangan Kepo Aib Orang

PDIP-PKS Kompak Bahas Hak Angket Ijazah Gibran

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Telinga Berlubang Lebih dari Satu, Emang Boleh? Ini Obrolan Fikihnya

Maret 4, 2026
Tips

UAH Ingatkan Jangan Tunggu Tua untuk Bertaubat

Oktober 15, 2026
Tips

Surah Al-Waqiah, Amalan Penguat Hati dan Rezeki

September 18, 2026
Tips

Rahasia Hidup 117 Tahun, Gen Kuat Plus Yogurt

Desember 26, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Al-Hujurat Ayat 12: Stop Gibah, Jangan Kepo Aib Orang
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?