BACAAJA, SEMARANG– Meninggalnya dua atlet saat mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026 menjadi duka mendalam bagi dunia olahraga Jateng.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti meminta seluruh pemangku kepentingan mengevaluasi standar keselamatan, kesiapan tenaga medis, hingga prosedur penanganan keadaan darurat dalam setiap pertandingan.
“Atas nama Pemerintah Kota Semarang, saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Kami turut berduka atas kehilangan ini. Semoga keluarga diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi cobaan yang berat,” ujar Agustina saat memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 di halaman Balai Kota Semarang, Rabu (28/10/2026).
Baca juga: Syabila Berpulang Saat Berjuang di Laut: Olahraga Jateng Berduka
Menurut Agustina, kompetisi olahraga memang menuntut disiplin, daya tahan, dan keberanian. Namun, upaya mengejar prestasi harus selalu diimbangi perlindungan terhadap keselamatan atlet.
Ia berharap peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi panitia penyelenggara, KONI, pengurus cabang olahraga, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Porprov.
“Keselamatan atlet harus menjadi perhatian bersama. Kami berharap seluruh penyelenggara melakukan evaluasi terhadap prosedur keselamatan, kesiapan tenaga medis, fasilitas pertolongan darurat, serta mitigasi risiko di setiap cabang olahraga,” katanya.
Agustina juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum pertandingan, pemantauan kondisi fisik selama kompetisi, serta ketersediaan ambulans dan tenaga medis di lokasi.
Prosedur Keselamatan
Menurutnya, setiap cabang olahraga memiliki karakteristik dan tingkat risiko berbeda. Karena itu, prosedur pengamanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing cabang, terutama olahraga perairan dan pertandingan dengan risiko fisik tinggi.
Ia turut meminta koordinasi antara panitia, tenaga medis, pelatih, ofisial, dan pengurus cabang olahraga diperkuat agar kondisi darurat dapat ditangani secara cepat dan tepat.
“Jangan sampai target prestasi membuat aspek keselamatan terabaikan. Jika kondisi atlet tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertandingan, harus ada keberanian mengambil keputusan demi keselamatannya,” tegasnya.
Baca juga: Porprov Jateng 2026 Bikin Dompet Warga Semarang Ikut “Bertanding”
Agustina berharap evaluasi tersebut tidak berhenti pada Porprov 2026, tetapi menjadi landasan untuk memperbaiki standar keselamatan dalam penyelenggaraan kompetisi olahraga berikutnya.
“Prestasi tentu penting, tetapi keselamatan dan nyawa atlet jauh lebih berharga. Kami berharap kejadian seperti ini dapat diantisipasi dengan lebih baik sehingga tidak terulang pada penyelenggaraan olahraga berikutnya,” ujarnya.
Porprov Jateng XVII 2026 diwarnai dua kabar duka. Atlet selam Kabupaten Jepara, Syabilla Rizkia Putri Raharja (22), meninggal dunia setelah mengikuti nomor selam laut di perairan Awann Costa, Semarang.
Duka berikutnya datang dari kontingen Kota Semarang. Atlet pencak silat Ayudiah Rivana Tridiandinata meninggal dunia pada Rabu (28/10/2026), setelah mengalami cedera ketika bertanding di babak perempat final melawan Kabupaten Batang, Senin (26/10).
Koordinator Pelatih Pencak Silat Porprov Kota Semarang, Nurfaqih, menjelaskan Ayudiah mengalami cedera pada jari tengah saat pertandingan. Atlet tersebut kemudian menjalani operasi di Rumah Sakit Primaya pada Selasa (27/10) sore.
Menurut Nurfaqih, operasi berjalan lancar. Namun, Ayudiah dikabarkan meninggal dunia pada keesokan paginya. Penyebab kematiannya masih ditelusuri.
Dua peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bahwa penyelenggaraan olahraga tidak cukup hanya berorientasi pada capaian medali. Standar keselamatan, kesiapan layanan medis, dan ketepatan penanganan darurat harus menjadi bagian mendasar dari setiap kompetisi agar risiko terhadap atlet dapat dicegah semaksimal mungkin. (tebe)

