BACAAJA, SEMARANG– Semarang punya banyak cerita. Dari bangunan bersejarah, gang-gang kampung, kehidupan pesisir, sampai kisah warga yang mungkin selama ini cuma lewat di obrolan warung.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti ingin semua itu tak sekadar menjadi kenangan, tetapi menjelma karya yang bisa ditonton hingga ke panggung dunia.
Lewat Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF), Agustina membidik Semarang menjadi kota dengan ekosistem perfilman yang hidup, mulai dari lahirnya ide cerita, tumbuhnya sineas, proses produksi, hingga karya bertemu penontonnya.
Pesan itu disampaikan dalam Awarding Lawang Sewu Short Film Festival 2026 di Gedung Ki Narto Sabdo, Semarang, Jumat (23/10/2026). Menurut Agustina, LOFF tak boleh berhenti sebagai lomba yang ramai saat pengumuman pemenang, lalu senyap setelah panggung dibongkar.
Baca juga: Saat Anak Muda Semarang Diajak Bikin Film
“Semoga LOFF menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk membangun Semarang sebagai kota yang ekosistem sinemanya terbangun. Tempat gagasan lahir, talenta-talenta tumbuh, produksi berlangsung, dan setiap karya bertemu dengan penontonnya,” ujarnya.
Mengusung tema Seribu Pintu Menuju Sinema Dunia dan tagline Semarang Berkisah untuk Cerita Dunia, LOFF 2026 dirancang sebagai ruang belajar, produksi, kolaborasi, sekaligus promosi film.
LOFF tahun ini mencatat 167 film pendek dari berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya berkompetisi, sineas lokal juga mendapat ruang untuk mengembangkan gagasan. Sebanyak 31 proposal cerita dari komunitas film Semarang diseleksi, dengan delapan tim mengikuti pembinaan intensif melalui workshop dan mini lab bersama praktisi perfilman.
Pengembangan Cerita
Selama sekitar lima bulan, festival ini juga menghadirkan Lawang Talks bagi pelajar dan mahasiswa, Film Fund untuk komunitas lokal, pemutaran film, kompetisi nasional, serta LOFF Film Week yang menayangkan tujuh film terkurasi dari Prancis, India, dan Indonesia.
Bagi Agustina, bertemu karya dari negara lain bukan sekadar menambah daftar tontonan. Sineas lokal juga bisa belajar tentang pengembangan cerita, penyutradaraan, teknik produksi, hingga cara mengolah gagasan menjadi film yang kuat.
Modal Semarang sendiri tak sedikit. Lawang Sewu, keragaman budaya, kampung-kampung dengan karakter khas, kawasan pesisir, hingga cerita keseharian masyarakat bisa menjadi sumber ide yang nyaris tak ada habisnya.
Baca juga: Semarang Buka Jalan ke Panggung Dunia
Menariknya, urusan film juga disambungkan dengan ekonomi lokal. Melalui LOFF Market, pelaku UMKM dan Dekranasda dilibatkan agar geliat festival ikut membuka peluang usaha.
Pemkot juga menyiapkan sejumlah langkah lanjutan, mulai dari menjaga keberlanjutan LOFF dan Film Fund, mempermudah izin syuting, membuka peluang pemanfaatan aset pemerintah sebagai lokasi produksi, hingga meningkatkan kapasitas kru lokal lewat kolaborasi dengan kampus dan komunitas film.
“Saya selaku wali kota menjaminkan diri atas kemudahan-kemudahan tersebut. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo produksi film di Kota Semarang,” ajak Agustina. Regenerasi pun disiapkan sejak bangku sekolah.
Pemkot telah menggelar lomba menulis cerita pendek bagi pelajar SD, SMP, SMA, hingga kategori umum. Cerita terpilih berpeluang dikembangkan menjadi film pendek. Salah satu karya yang diperkenalkan dalam rangkaian festival adalah Canting untuk Lampion, yang berawal dari gagasan cerita pendek.
Memasuki tahun kedua, LOFF diproyeksikan berlanjut pada 2027. Agustina berharap Semarang bisa belajar dari kota-kota yang lebih dahulu membangun ekosistem perfilman, seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.
Sebab, menjadi kota sinema bukan perkara punya kamera, karpet merah, lalu foto bareng pemenang. Yang lebih penting adalah memastikan sineas punya ruang berkarya, kru lokal mendapat pekerjaan, UMKM ikut kebagian rezeki, dan film terus diproduksi setelah festival usai. Jangan sampai cerita Semarang sudah siap mendunia, tetapi ekosistemnya masih sebatas trailer. (tebe)

