Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Memperjuangkan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Jerman
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
OpiniPendidikan

Memperjuangkan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Jerman

Redaktur Opini
Last updated: Oktober 19, 2026 9:06 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Setia Naka Andrian, Sekretaris Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UPGRIS. Saat ini sedang menjalani Residensi Sastrawan Berkarya di Mancanegara yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, di Konstanz University of Applied Sciences (HTWG), Baden-Württemberg, Jerman.

Visibilitas Indonesia di Jerman masih relatif rendah, padahal Indonesia memiliki kekayaan budaya, keragaman bahasa, dan potensi ekonomi yang besar.

Suatu hari, saya lupa kapan tepatnya, saya kembali berjumpa dengan Andi Nurhaina, dosen Bahasa Indonesia di HTWG Konstanz, Jerman. Di tengah kesibukan masing-masing, kami selalu berusaha meluangkan waktu untuk bertemu. Andi mulai disibukkan dengan jadwal mengajarnya, sementara saya berusaha memanfaatkan waktu residensi yang terbatas dengan menjadwalkan berbagai kemungkinan perjumpaan.

Sesekali kami makan siang di salah satu ruang kampus atau kantin. Pada kesempatan lain, kami menghabiskan malam bersama di sudut kota tua Konstanz, mengusir dingin sambil berbincang. Ulfatur Rohmah dan Amirush Shaffa Fauzia kerap menemani perjumpaan kami. Siang itu, kami bercakap di dekat jendela. Sesekali, pandangan kami beralih ke Sungai Rhine yang mengalir dari Danau Bodensee. Di sela percakapan, Andi menyampaikan pandangannya tentang posisi Indonesia di Jerman.

Menurutnya, visibilitas Indonesia di Jerman masih relatif rendah, padahal Indonesia memiliki kekayaan budaya, keragaman bahasa, dan potensi ekonomi yang besar. Di tengah ketidakpastian rantai pasokan yang dihadapi Jerman, Indonesia berpeluang mengambil peran lebih besar dalam perekonomian dunia. Indonesia memang tidak dapat sepenuhnya menggantikan Cina, tetapi bisa menjadi mitra penting dengan kontribusi yang signifikan.

Karena itu, upaya para pengajar dan berbagai pihak untuk memperkenalkan Indonesia tidak seharusnya hanya berpusat pada destinasi wisata. Potensi ekonomi, kekayaan budaya, dan keragaman bahasa Indonesia juga perlu mendapat tempat yang lebih besar. Kita mungkin akan melihat ke mana arah kebijakan para pengambil keputusan di atas sana. Namun, setidaknya, itulah kegelisahan yang dihadapi para pejuang bahasa Indonesia.

Melalui Andi, saya mulai membayangkan betapa tidak sederhananya persoalan yang mereka hadapi. Terus terang, sebelumnya saya belum benar-benar memahami peliknya mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing. Kesadaran itu tumbuh setelah saya menghadiri Semiloka (Seminar dan Lokakarya) VIII Pembelajaran BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) 2026 di Bremen, yang diselenggarakan oleh Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jerman.

Saya seperti dibangunkan dari lamunan: merawat dan memperjuangkan bahasa Indonesia di mata dunia bukanlah perkara mudah. Selama ini, berbagai pihak kerap menggaungkan bahwa bahasa Indonesia telah digunakan dalam berbagai forum internasional bergengsi. Namun, saya mulai menyadari bahwa pencapaian semacam itu bukanlah keseluruhan cerita. Setelah bertemu dan menyaksikan langsung perjuangan kawan-kawan APPBIPA di Jerman, saya kembali berteriak, kali ini lebih lantang dalam hati: tidak sesederhana itu!

Saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka mengerahkan tenaga, pikiran, dan waktu, bahkan merogoh kocek pribadi demi terselenggaranya kegiatan. Perjuangan itu membuat saya merasa bahwa upaya mereka masih membutuhkan dukungan yang lebih besar, terutama dari pemerintah Indonesia. Melihat pengorbanan mereka, saya justru semakin merasa belum berbuat banyak untuk bahasa Indonesia.

Mereka menyiapkan segala sesuatunya bersama-sama, mulai dari urusan administratif hingga pekerjaan teknis yang menguras tenaga. Mereka menata meja dan kursi, menyiapkan ruang kegiatan, hingga mengatur meja makan. Seusai acara, semua kembali turun tangan mengangkat dan membereskan perlengkapan, termasuk Ketua APPBIPA dan Ketua Semiloka VIII. Saya yang biasanya cukup mengangkat barang-barang kecil di komunitas sendiri, dengan alasan masih banyak kawan yang lebih muda dan lebih kuat, kali ini merasa malu jika hanya berpangku tangan. Di antara para panitia itu, saya justru merasa jauh lebih muda. Tak ada alasan bagi saya untuk tidak ikut bekerja.

Saya kembali mengingat apa yang disampaikan Andi, “Beberapa kali Indonesia dijadikan contoh bahwa agama (mayoritas) Islam dapat hidup berdampingan dengan agama-agama lain. Goethe-Institut juga mengambil bagian dalam pembahasan ini. Rangkaian acara tersebut bertujuan membicarakan berbagai upaya menciptakan perdamaian antaragama, termasuk peran yang dapat dimainkan Indonesia.”

Dari Andi, saya menangkap harapan, sekaligus debar kegelisahan, tentang bahasa Indonesia sebagai aset bangsa yang sangat berharga. Namun, di sisi lain, kita juga memiliki bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu. “Saya sendiri menyesal dengan kondisi saya. Meskipun orang tua saya berbahasa Bugis, saya hanya menguasai bahasa Bugis secara pasif. Akibatnya, saya tidak dapat mewariskan bahasa tersebut kepada anak saya. Bahasa ibu anak saya justru bahasa Indonesia. Kondisi ini cukup memprihatinkan.”

Andi sendiri merasakan bagaimana bahasa Jerman memengaruhi kesehariannya sebagai orang Indonesia. Ketika berbicara, terkadang kata-kata dalam bahasa Jerman justru muncul lebih dahulu. Ia mengenang bagaimana dirinya tumbuh dalam lingkungan yang menggunakan tiga bahasa. Persinggungan dengan berbagai bahasa itu membuatnya merasa tidak selalu mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Saya cukup memahami kegelisahan Andi, terlebih setelah menyimak langsung berbagai persoalan itu dalam forum Semiloka. Salah satunya tecermin dalam pernyataannya berikut ini, “Ada pula teman yang berpendapat, ‘Ah, pemutakhiran bahasa ini justru membuat kita semakin kesulitan.’ Contohnya penggunaan kata tetikus. Menurut saya, biarkan masyarakat bahasa menentukan apakah suatu kata dapat diterima atau tidak. Pada akhirnya, masyarakatlah yang menguji kata-kata tersebut: apakah akan bertahan atau justru ditinggalkan.” ***

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Rahasia di Balik Mandi Wajib, Bukan Cuma Soal Suci, Tapi Begini

Abu Anak Krakatau Ganggu Sekolah di Jawa Barat

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

Kolaborasi Riset: Dari Sampah Jadi Energi, Dari Beasiswa Jadi Solusi

Parasit Komodo Mulai Terkuak, Ancaman Baru Ikut Terbaca

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article 2.500 Pelari Ikuti Susurun 2026
Next Article MENIKMATI SENJA: Puluhan orang beraktivitas di dermaga kecil Pantai Tirang Semarang, Sabtu (17/10/2026) sore. (bae) Syahdu! Menikmati Senja di Dermaga Pantai Tirang Semarang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Politikus PDIP yang kini menjabat sebagai Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat.

Angka Kemiskinan Wonosobo Turun 4,33 Persen dalam 5 Tahun, Pemkab Kejar Target Satu Digit

Politikus Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya (DWS).

DWS Getol Dorong Revisi UU LLAJ untuk Perlindungan Ojol: Politikus Gerindra, SMA TN Angkatan ke-5

Mau Jual Hasil Curian Murai Batu Pemuda Kebasen Keburu Diciduk

Teguran Kaus Kaki Berujung Ricuh, Kepsek di Lamongan Diduga Dianiaya TNI

Bocah Difabel Tewas di Surabaya, Dugaan Perundungan Diselidiki

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Santri Kuliah Sampai Luar Negeri, Kenapa Enggak?

Februari 8, 2026
Pendidikan

Sekolah Tetap Masuk, Belajar Online Nggak Jadi Opsi Dulu

Maret 25, 2026
InfoPendidikan

Wisudawan Terbaik SCU Raina Ghina ternyata Atlet Menembak: Sabet Medali Kapolri, Jaksa Agung hingga Danjen Kopassus

April 10, 2026
Opini

NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana

Februari 3, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Memperjuangkan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Jerman
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?