Yuli Retno Indah Peratiwi, mahasiswa Universitas PGRI Semarang, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Domisili Gayamsari, Semarang.
Istirahat bukan hadiah setelah kita cukup produktif, apalagi barang mewah yang harus dipamerkan.
Pernahkah setelah seharian Anda kuliah, bekerja, atau berkegiatan, kita pulang dalam kondisi lelah lalu membuka media sosial dengan harapan kepala sedikit lebih ringan? Bukannya tenang, kita malah melihat unggahan teman sedang ngopi di kafe, belanja di mal, atau liburan ke vila. Ada kopi di tangan, croissant di meja, foto estetik, lalu caption: “healing”.
Di titik itu muncul pertanyaan: kok mereka punya waktu dan uang untuk semua itu? Namun, persoalannya bukan soal iri. Yang lebih menarik adalah bagaimana “healing” perlahan bergeser dari pemulihan menjadi gaya hidup yang harus dibeli dan dipamerkan. Istirahat seolah belum sah jika belum ditemani kopi mahal, tempat estetik, atau foto yang layak masuk Instagram. Akhirnya, lelah boleh gratis, tetapi sembuh punya harga.
Masalahnya, standar healing semacam ini mudah mendorong FOMO dan konsumsi berlebihan. Ketika stres datang, solusi yang ditawarkan bukan sekadar tidur cukup, berjalan kaki, membaca, atau diam sejenak, melainkan membeli sesuatu.
Media sosial ikut memperkuat standar itu: kita terus melihat potongan hidup orang lain yang tampak menyenangkan, lalu tanpa sadar menjadikannya ukuran hidup sendiri. Jika dilakukan sesekali dan sesuai kemampuan, tentu tidak masalah.
Kopi enak atau liburan juga bukan dosa. Namun, ketika healing menjadi alasan untuk belanja yang sebenarnya tidak perlu, obat stres justru bisa berubah menjadi sumber stres baru. Terutama ketika dibayar dengan paylater.
Ambil contoh sederhana. Kopi seharga Rp15.000 diminum tiga kali sehari berarti Rp45.000 per hari. Dalam 30 hari, pengeluaran itu mencapai Rp1.350.000. Angka tersebut mungkin terlihat kecil jika dihitung per cangkir, tetapi menjadi cukup besar ketika dikumpulkan sebulan. Belum termasuk biaya nongkrong, transportasi, makanan, atau liburan. Jadi, persoalannya bukan “jangan ngopi”, melainkan jangan sampai secangkir kopi berubah menjadi tiket wajib menuju validasi bahwa hidup kita baik-baik saja.
Di sinilah gagasan Tricia Hersey tentang rest menjadi relevan. Dalam wawancara NPR, pendiri The Nap Ministry itu menolak anggapan bahwa manusia harus produktif agar dianggap berharga. Ia memandang istirahat sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya yang memperlakukan tubuh seperti mesin produksi. Rest, dengan demikian, tidak harus menjadi proyek konsumsi baru.
Kita boleh pergi ke kafe, membeli kopi, atau berlibur. Tetapi kita juga berhak rebahan di kamar tanpa merasa kalah dari unggahan orang lain. Istirahat bukan hadiah setelah kita cukup produktif, apalagi barang mewah yang harus dipamerkan. Ia tidak membutuhkan bukti visual agar valid.
Kadang, healing terbaik memang sesederhana tidur, mematikan notifikasi, berbicara dengan orang terdekat, dan berani tidak melakukan apa-apa: tanpa foto, tanpa caption, tanpa tagihan tambahan. Karena kalau untuk beristirahat saja kita harus membeli paketnya, kapan terakhir kali kita benar-benar beristirahat?
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

