BACAAJA, SEMARANG – Perasaan yang berubah-ubah dalam waktu singkat memang bisa dialami siapa saja. Namun, ketika perubahan emosi terasa sangat intens, hubungan dengan orang lain terus naik turun, dan keputusan impulsif mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih.
Salah satu kondisi kesehatan mental yang memiliki pola seperti itu adalah Borderline Personality Disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri, mengelola emosi, mengambil keputusan hingga membangun hubungan dengan orang lain.
BPD bukan sekadar seseorang yang gampang berubah suasana hati atau terlalu sensitif. Kondisi ini memiliki pola gejala yang cukup kompleks dan perlu dinilai oleh tenaga profesional agar tidak keliru dengan masalah kesehatan mental lainnya.
Apa Itu Borderline Personality Disorder?
BPD merupakan gangguan kepribadian yang ditandai ketidakstabilan emosi, citra diri dan hubungan interpersonal. Seseorang dengan kondisi ini dapat mengalami perubahan perasaan yang sangat intens dan kesulitan mempertahankan pandangan yang stabil terhadap dirinya maupun orang lain.
Hubungan dengan orang lain juga bisa terasa sangat naik turun. Seseorang dapat memandang orang tertentu sebagai sosok yang sangat baik, kemudian berubah menjadi sangat kecewa atau marah ketika terjadi konflik atau merasa ditolak.
Istilah borderline sendiri berasal dari konsep lama dalam dunia psikiatri. Seiring perkembangan ilmu kesehatan mental, pemahaman mengenai BPD kini lebih berfokus pada pola emosi, perilaku dan hubungan yang menjadi karakteristik kondisi tersebut.
Emosinya Bisa Berubah Sangat Cepat
Salah satu ciri yang cukup menonjol adalah perubahan suasana hati yang intens. Perasaan bahagia, marah, sedih atau cemas bisa muncul dengan kuat dan berubah dalam waktu relatif singkat.
Selain itu, ada pula ketakutan yang sangat besar terhadap kemungkinan ditinggalkan. Bahkan situasi yang sebenarnya belum tentu menunjukkan adanya penolakan bisa terasa seperti ancaman kehilangan bagi orang dengan BPD.
Rasa takut tersebut terkadang mendorong seseorang melakukan berbagai cara agar tidak ditinggalkan. Reaksinya bisa terlihat sangat kuat dibandingkan situasi yang sedang terjadi.
BPD juga dapat membuat hubungan interpersonal menjadi tidak stabil. Konflik kecil bisa terasa sangat besar dan memengaruhi cara seseorang memandang hubungan tersebut.
Citra Diri Juga Bisa Naik Turun
BPD tidak hanya berkaitan dengan emosi. Cara seseorang melihat dirinya sendiri juga dapat berubah-ubah.
Seseorang mungkin merasa sangat yakin dengan dirinya pada suatu waktu, tetapi kemudian merasa tidak berharga atau kehilangan arah. Tujuan hidup, nilai yang diyakini hingga minat tertentu juga bisa mengalami perubahan yang cukup tajam.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan membangun identitas yang konsisten. Dalam jangka panjang, masalah ini bisa ikut memengaruhi hubungan, pekerjaan maupun keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada Perilaku Impulsif
Gejala lain yang bisa muncul adalah perilaku impulsif. Seseorang dapat mengambil keputusan secara spontan tanpa cukup mempertimbangkan dampak yang mungkin muncul setelahnya.
Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti belanja berlebihan, perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat atau pola makan yang tidak terkendali. Tidak semua orang dengan BPD akan mengalami seluruh perilaku tersebut.
Pada sebagian orang, perilaku menyakiti diri juga dapat muncul. Tindakan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berkaitan dengan keselamatan dan membutuhkan bantuan profesional.
Selain itu, cara berpikir yang cenderung hitam-putih juga bisa terlihat. Seseorang atau sebuah situasi dapat dianggap sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk, tanpa melihat banyak kemungkinan di antaranya.
Apa yang Bisa Menyebabkan BPD?
Tidak ada satu penyebab tunggal yang bisa menjelaskan munculnya BPD. Kondisi ini diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik, lingkungan, pengalaman hidup dan faktor neurobiologis.
Riwayat keluarga dapat menjadi salah satu faktor risiko. Orang yang memiliki anggota keluarga dekat dengan kondisi serupa dapat mempunyai risiko lebih tinggi, meski keberadaan faktor tersebut tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami BPD.
Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak juga dapat menjadi faktor risiko. Kekerasan emosional, fisik atau seksual, penelantaran serta kehilangan orang penting pada usia muda termasuk pengalaman yang perlu diperhatikan.
Penelitian mengenai fungsi otak juga menemukan adanya keterlibatan sistem yang berhubungan dengan pengaturan emosi dan kontrol impuls. Namun, hubungan antara faktor biologis dan BPD masih terus dipelajari.
Dampaknya Bisa Merembet ke Banyak Hal
Jika tidak ditangani dengan tepat, gejala BPD dapat memengaruhi berbagai bagian kehidupan. Hubungan dengan pasangan, keluarga maupun teman bisa mengalami konflik berulang.
Masalah tersebut juga dapat berdampak pada pekerjaan atau pendidikan. Ketidakstabilan emosi dan perilaku impulsif bisa membuat seseorang kesulitan mempertahankan rutinitas dalam jangka panjang.
BPD juga dapat muncul bersamaan dengan kondisi kesehatan mental lain. Misalnya kecemasan, depresi, gangguan penggunaan zat atau gangguan makan.
Pada kondisi tertentu, risiko perilaku menyakiti diri dan pikiran untuk bunuh diri juga bisa meningkat. Karena itu, gejala yang berkaitan dengan keselamatan diri tidak boleh dianggap sepele.
Kapan Sebaiknya Cari Bantuan?
Bantuan profesional layak dicari ketika perubahan emosi sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Begitu pula jika seseorang terus mengalami masalah dalam hubungan, perilaku impulsif atau kesulitan mengendalikan reaksi emosional.
Diagnosis BPD tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua ciri. Psikiater atau psikolog klinis perlu melakukan penilaian secara menyeluruh untuk melihat pola gejala dan kondisi lain yang mungkin menyertainya.
Jika seseorang berulang kali menyakiti diri atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, bantuan profesional perlu dicari sesegera mungkin. Dalam situasi yang mengancam keselamatan secara langsung, layanan darurat atau bantuan krisis setempat perlu segera dihubungi.
Dukungan Orang Terdekat Itu Penting
Keluarga dan teman dapat mengambil peran penting dalam membantu seseorang yang sedang menghadapi BPD. Dukungan yang tidak menghakimi dapat membuat seseorang lebih nyaman untuk mencari pertolongan dan menjalani proses perawatan.
BPD juga sebaiknya tidak dijadikan label untuk menyebut seseorang yang dianggap terlalu emosional, mudah marah atau sulit diajak berhubungan. Memberi label tanpa pemeriksaan profesional justru bisa memperkuat stigma dan membuat orang enggan mencari bantuan.
Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai, gejala BPD dapat dikelola. Dukungan dari tenaga kesehatan mental, keluarga dan lingkungan sekitar juga dapat membantu seseorang menjalani kehidupan yang lebih stabil dan bermakna.
Memahami BPD menjadi langkah awal untuk melihat kondisi ini secara lebih tepat. Jika ada tanda yang mengkhawatirkan, jangan melakukan diagnosis sendiri; konsultasikan dengan psikiater atau psikolog klinis agar mendapat penilaian dan penanganan yang sesuai. (*)

