BACAAJA, YOGYAKARTA – Urusan memilah sampah kini mulai naik level. Dosen Departemen Manajemen FEB UGM, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., mengembangkan Smart Waste Bin yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk mengenali sekaligus memilah sampah secara otomatis.
Lewat perangkat ini, pengguna tak perlu lagi bingung menentukan sampah yang masuk kategori organik, anorganik, atau residu. Cukup masukkan sampah ke dalam alat, kemudian sistem berbasis AI akan melakukan identifikasi dan sortasi secara otomatis.
Bukan cuma memilah, Smart Waste Bin juga dirancang untuk mengumpulkan berbagai data dari sampah yang masuk. Mulai dari jenis dan perkiraan berat sampah, lokasi, merek produk, sampai estimasi emisi karbon bisa tercatat dalam sistem.
Luluk menjelaskan, Smart Waste Bin menjadi salah satu bagian dari ekosistem WESTA (AI-Powered Waste Circular Ecosystem). Teknologi ini dikembangkan untuk menekan kesalahan pemilahan yang masih sering terjadi meski tempat sampah sudah dibedakan berdasarkan jenisnya.
Menurut Luluk, masyarakat masih kerap memasukkan sampah ke tempat yang tidak sesuai. Karena itu, AI dimanfaatkan agar proses pemilahan bisa dilakukan dengan lebih praktis sekaligus mengurangi human error.
“Sering kita jumpai masih ada kesalahan dalam pemilahan sampah meskipun sudah disediakan tempat sampah organik, anorganik, dan residu. Nah kami ingin meminimalisasi kesalahan tersebut menggunakan AI,” kata Luluk, Senin (5/10/2026).
Untuk saat ini, Smart Waste Bin yang dikembangkan bersama Qubit Instrument (CV Bumi Lestari) sudah bisa mengenali tiga kelompok sampah. Ketiganya yakni organik, anorganik, dan residu.
Pengembangan sistem masih terus digeber. Ke depan, kemampuan klasifikasi Smart Waste Bin akan diperluas agar bisa mengenali lebih banyak kategori, termasuk sampah bahan berbahaya dan beracun atau B3.
Smart Waste Bin juga tidak bekerja sendirian. Perangkat tersebut terhubung dengan aplikasi WESTA sehingga data hasil pemindaian dapat ditampilkan melalui layar pada alat maupun aplikasi mobile yang kini masih dalam tahap pengembangan.
Aplikasi tersebut nantinya disiapkan untuk masuk ke Google Play Store. Dengan integrasi ini, pengguna bisa melihat hasil identifikasi sampah secara lebih detail tanpa harus melakukan pencatatan secara manual.
Data yang ditampilkan antara lain jenis sampah, estimasi berat, lokasi, perkiraan emisi karbon, hingga merek produk yang terdeteksi. Informasi tersebut kemudian bisa dimanfaatkan untuk membaca pola timbulan sampah di suatu lokasi.
Data merek juga punya fungsi penting dalam konsep yang dibangun WESTA. Informasi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan yang memproduksi barang yang akhirnya menjadi sampah di lingkungan.
Luluk menyebut pendekatan itu diharapkan bisa mendukung prinsip Extended Producer Responsibility (EPR). Artinya, produsen tidak hanya bertanggung jawab ketika produknya dibuat dan dijual, tetapi juga ikut memikirkan dampak sampah dari produk tersebut.
“Kenapa merek itu penting? Karena data itu nanti bisa kita sampaikan kembali kepada perusahaan-perusahaan yang menghasilkan sampah di lingkungan,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, Smart Waste Bin tidak hanya berhenti sebagai tempat sampah pintar. Data yang dikumpulkan diharapkan bisa menjadi penghubung antara masyarakat, pengelola sampah, hingga produsen dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular.
Dari sisi teknologi, Smart Waste Bin terhubung dengan aplikasi WESTA menggunakan koneksi Bluetooth Low Energy (BLE). Pengguna cukup menghubungkan aplikasi dengan perangkat, lalu memasukkan sampah untuk dipindai oleh sistem.
Setelah proses pemindaian selesai, hasil deteksi dikirim ke aplikasi. Selain kategori dan perkiraan berat sampah, sistem juga dapat menunjukkan estimasi pengurangan jejak karbon dalam satuan kilogram CO₂e.
Menariknya, pengembangan Smart Waste Bin juga diarahkan untuk memberi insentif kepada pengguna. Sampah yang memiliki nilai ekonomi, seperti botol plastik, nantinya bisa dikonversi menjadi poin setelah teridentifikasi dan masuk ke rantai pengelolaan.
Poin tersebut dirancang bisa ditukar dengan reward. Namun, fitur penukaran poin itu masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya diterapkan.
Pengembangan Smart Waste Bin menjadi bagian dari program Hibah Pengembangan Inovasi (HPI) 2026. Program tersebut diarahkan untuk membawa WESTA naik kelas, dari tahap pengembangan menuju sistem yang siap diuji secara operasional.
Ekosistem WESTA sendiri terdiri dari beberapa komponen. Selain Smart Waste Bin, ada aplikasi mobile Waste Scanner serta enterprise dashboard yang digunakan untuk mengelola dan menganalisis data sampah sekaligus jejak karbon.
Perkembangan perangkat juga sudah masuk tahap integrasi. Hingga Agustus 2026, instalasi elektronik Smart Waste Bin telah rampung dan pada 18 Agustus seluruh fungsi perangkat dilaporkan sudah berjalan terintegrasi dengan aplikasi serta model AI.
Tahap berikutnya adalah pengujian di lingkungan FEB UGM. Uji coba ini akan menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana perangkat mampu bekerja secara stabil ketika digunakan dalam kondisi nyata.
Pengembangan juga mencakup optimasi model AI, integrasi empat kelas sampah termasuk B3 ke dalam perangkat keras, pengujian akurasi dan stabilitas, serta pengujian kemudahan penggunaan.
Lewat WESTA, pengelolaan sampah coba diarahkan agar tidak berhenti pada aktivitas membuang dan memilah. Sampah yang selama ini dianggap barang sisa justru diolah menjadi sumber data yang bisa membantu pengambilan keputusan sekaligus membuka jalan menuju ekonomi sirkular.(*)

