BACAAJA, SEMARANG – Setiap orang bisa punya masa lalu yang tidak ingin diingat kembali. Ketika seseorang memilih berubah dan memperbaiki diri, Islam mengajarkan agar proses tersebut tidak malah diganggu dengan terus membongkar kesalahan yang pernah dilakukan.
Taubat dalam Islam membuka kesempatan bagi seseorang untuk kembali kepada Allah SWT. Karena itu, kesalahan masa lalu orang yang sudah bertobat tidak seharusnya dijadikan bahan ejekan, cibiran, atau senjata untuk menjatuhkan.
Sikap suka mengungkit dosa juga dapat melukai orang yang sedang berusaha berubah. Alih-alih membantu, kebiasaan tersebut justru bisa membuat seseorang kehilangan semangat untuk melanjutkan proses perbaikannya.
Allah Mencintai Orang yang Bertobat
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Inna Allāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa taubat memiliki tempat penting dalam ajaran Islam. Orang yang menyesal dan berusaha memperbaiki kehidupannya tidak seharusnya terus dipaksa hidup dalam bayang-bayang kesalahan lama.
Allah SWT juga berfirman:
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
Illā man tāba wa āmana wa ‘amila ‘amalan ṣāliḥā, fa-ulā’ika yubaddilullāhu sayyiātihim ḥasanāt.
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70).
Menutup Aib Itu Diajarkan
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Man satarā musliman satarahullāhu fid-dunyā wal-ākhirah.
“Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).
Pesan tersebut menjadi pengingat agar seorang Muslim tidak mudah membuka kesalahan orang lain. Apalagi jika orang tersebut sudah berusaha memperbaiki kehidupannya.
Ada pula hadis yang memperingatkan seseorang agar tidak mencela saudaranya karena dosa yang pernah dilakukan.
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
Man ‘ayyara akhāhu bi dzambin lam yamut ḥattā ya‘malah.
“Siapa yang mencela saudaranya karena dosa yang pernah dilakukannya, maka ia tidak akan mati sebelum diuji dengan dosa yang sama.” (HR. At-Tirmidzi).
Jangan Bikin Orang Berhenti Berubah
Seseorang yang sedang hijrah atau memperbaiki diri membutuhkan lingkungan yang mendukung. Ejekan dan penghakiman terus-menerus justru dapat membuat proses tersebut terasa semakin berat.
Islam mengajarkan agar sesama Muslim saling membantu menuju kebaikan. Masa lalu seseorang tidak semestinya dijadikan alasan untuk menghapus seluruh perubahan yang sudah dilakukan.
Tidak ada manusia yang benar-benar terbebas dari kesalahan. Setiap orang memiliki perjalanan hidup masing-masing, termasuk kesalahan yang mungkin tidak diketahui orang lain.
Kemuliaan Bukan dari Masa Lalu
Allah SWT berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
Falā tuzakkū anfusakum, huwa a‘lamu bimanitta qā.
“Janganlah kamu merasa diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang paling bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).
Ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak merasa dirinya lebih bersih daripada orang lain.
Karena itu, ketika melihat seseorang yang sudah berubah, sikap yang lebih baik adalah memberikan dukungan dan mendoakannya. Jangan menjadikan kesalahan lama sebagai bahan olok-olok atau alat untuk mempermalukannya.
Memberi ruang bagi orang yang bertobat untuk berubah merupakan bagian dari sikap menjaga sesama. Jika Allah SWT membuka pintu taubat, manusia juga semestinya tidak sibuk menutup pintu tersebut dengan terus mengungkit masa lalu. (*)

