BACAAJA, SEMARANG – Kekeringan di Jawa Tengah semakin luas. Hingga 28 September 2026, tercatat 33 kabupaten/kota, 255 kecamatan, dan 784 desa terdampak. Kondisi ini terdampak kepada sekitar 1,55 juta kepala keluarga atau 2,34 juta jiwa.
Grobogan menjadi daerah dengan desa terdampak terbanyak, yakni 131 desa, disusul Purbalingga 78 desa dan Banjarnegara 56 desa.
Memasuki akhir September, Pemprov Jawa Tengah mulai menyiapkan langkah lain untuk menghadapi kemarau yang belum juga berakhir. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan pihaknya akan mengajukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) kepada Badan Nasional Penanganan bencana (BNPB).
“Karena ini sudah sampai di akhir September, maka yang bisa kita lakukan pertama kita mengajukan ke BNPB terkait modifikasi cuaca,” ujar Gus Yasin di Gedung Berlian, Semarang, Selasa (29/9/2026).
Bacaaja: Lapas Semarang Gelar Shalat Istisqa, Berdoa Minta Hujan
Bacaaja: 25 Daerah Jateng Masuk Zona Awas Kekeringan
Selain melalui teknologi, Gus Yasin juga mengajak tokoh masyarakat dan warga melakukan salat Istisqa sebagai ikhtiar meminta hujan.
“Yang kedua, kita mengajak kepada tokoh masyarakat, yuk kita salat Istisqa untuk meminta kepada Tuhan supaya air hujan segera diturunkan,” katanya.
Sementara itu, penyaluran air bersih terus diperluas ke wilayah terdampak. Hingga akhir September, sebanyak 75.463.000 liter air telah didistribusikan kepada masyarakat.
Gus Yasin mengatakan penanganan kekeringan membutuhkan koordinasi pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota agar bantuan dapat segera sampai ke warga yang membutuhkan.
Untuk jangka panjang, Pemprov Jateng juga mendorong percepatan pembangunan tanggul dan bendungan agar ketersediaan air lebih terjaga saat kemarau panjang kembali terjadi. (dul)

