BACAAJA, SURABAYA – Influenza A kembali jadi perhatian setelah kasusnya meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Penyakit yang kerap dianggap flu biasa ini ternyata bisa menimbulkan gejala cukup berat, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Meski sama-sama menyerang saluran pernapasan, Influenza A dan Covid-19 bukan penyakit yang berasal dari virus yang sama. Keduanya memang bisa bikin demam, batuk, dan badan terasa tidak enak, tetapi ada sejumlah perbedaan yang perlu dikenali.
Data surveilans Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 12 September 2026 menunjukkan proporsi influenza mencapai 38 persen pada minggu ke-35. Angka tersebut naik dari 22 persen pada pekan sebelumnya, dengan 33 persen kasus terdeteksi pada anak usia 0–4 tahun.
Influenza A dan Covid-19 Bukan Virus yang Sama
Dokter Penyakit Dalam RS Mayapada Surabaya, dr Ivan Andre Hartono, M.Biomed, Sp.PD, menjelaskan bahwa kemiripan gejala kedua penyakit tersebut tidak berarti Influenza A merupakan varian atau turunan Covid-19.
“Dalam satu sisi memang seperti sepupunya Covid. Manifestasinya mirip, sama-sama virus tapi ini virus yang berbeda,” ujar Ivan, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, Influenza A merupakan bagian dari penyakit flu musiman yang sudah lama dikenal. Virus ini juga memiliki berbagai subtipe, termasuk yang berkaitan dengan flu burung dan flu babi.
Ivan menyebut penularan Influenza A relatif mudah. Gejala yang muncul bisa berbeda-beda, mulai dari demam dan keluhan flu ringan hingga kondisi yang lebih berat.
“Kalau kuat ya demam-demam flu biasa. Kalau pas drop atau imun lemah bisa sampai demam tinggi, batuk, sesak, badan sakit semua,” jelasnya.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak berusia di bawah lima tahun, lansia berusia 65 tahun ke atas, dan ibu hamil. Ivan mengatakan, gejala Covid-19 cenderung dapat menimbulkan dampak yang lebih berat dan sistemik, meski tingkat keparahan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
Gejala Influenza A yang Perlu Dikenali
Pakar kesehatan masyarakat, Dr. Dede Nasrullah, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan Influenza A dan Covid-19 sama-sama dapat menular melalui droplet dan menyerang sistem pernapasan. Namun, perjalanan penyakit dan penanganannya tidak sepenuhnya sama.
Dede menjelaskan, Influenza A umumnya ditandai demam tinggi yang muncul secara mendadak. Suhu tubuh dapat meningkat hingga 38,5–40 derajat Celsius dan bertahan selama tiga sampai empat hari.
Gejala lain yang perlu diperhatikan adalah nyeri otot dan sendi yang cukup hebat. Penderita bisa mengalami pegal di seluruh tubuh, lemas berat, serta sakit kepala di bagian dahi atau belakang mata.
Selain itu, Influenza A dapat memicu batuk kering berkepanjangan, tenggorokan kering atau nyeri, dan hidung tersumbat. Masa inkubasinya biasanya lebih singkat, yakni sekitar satu hingga empat hari.
Salah satu perbedaan yang dapat diamati adalah kehilangan penciuman atau anosmia. Keluhan ini lebih jarang ditemukan pada Influenza A dibandingkan Covid-19, meski gejala tersebut tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk memastikan diagnosis.
Kenapa Virus Influenza Mudah Berubah?
Ivan menjelaskan, virus influenza memiliki materi genetik yang membuatnya mudah mengalami perubahan. Proses perubahan tersebut dikenal sebagai antigenic drift dan antigenic shift.
Perubahan itu membuat sistem kekebalan tubuh perlu menghadapi karakter virus yang berbeda. Karena itu, influenza dapat kembali menyebar pada musim tertentu, sementara vaksin influenza juga diperbarui secara berkala.
Ivan mengungkapkan, dirinya pernah menangani pasien yang mengalami infeksi Influenza dan Covid-19 secara bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang bisa terinfeksi kedua virus tersebut sekaligus.
Pemeriksaan medis tetap diperlukan, terutama jika gejala yang muncul cukup berat. Pasalnya, gejala yang mirip tidak selalu menunjukkan penyebab penyakit yang sama.
Masker dan Vaksin untuk Cegah Penularan
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menyarankan masyarakat melakukan sejumlah langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penularan Influenza A.
“Pencegahan awal vaksin influenza, menggunakan masker medis di ruang tertutup atau keramaian, cuci tangan teratur dengan sabun atau hand sanitizer, dan menghindari menyentuh area wajah,” kata Dede.
Menjaga kondisi tubuh juga tidak kalah penting. Masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan cairan, tidur cukup, dan mengelola stres.
Bagi orang yang sudah mengalami gejala, membatasi aktivitas dan menggunakan masker menjadi langkah penting agar virus tidak mudah menyebar kepada keluarga maupun orang di sekitarnya.
Waspadai Gejala Berat Influenza A
Dede menyebut, penderita Influenza A perlu mendapatkan penanganan sesuai kondisi medisnya. Dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat antivirus, seperti oseltamivir, terutama pada pasien yang berisiko mengalami komplikasi.
Obat tersebut bekerja dengan menghambat penyebaran virus influenza di dalam tubuh. Penggunaannya paling efektif jika dimulai dalam 24–48 jam pertama sejak gejala muncul dan harus berdasarkan anjuran tenaga medis.
Istirahat cukup juga diperlukan untuk membantu pemulihan dan mengurangi risiko komplikasi, termasuk pneumonia sekunder akibat infeksi bakteri.
Masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, nyeri dada yang menetap, penurunan kesadaran, demam yang tidak turun lebih dari empat hari, atau dahak berwarna hijau maupun bercampur darah.
Gejala-gejala tersebut perlu diperiksa lebih lanjut agar pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan risiko komplikasi dapat ditekan. (*)

