Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Waduk Gajah Mungkur Mengering, Muncul Puluhan Makam Kuno
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Waduk Gajah Mungkur Mengering, Muncul Puluhan Makam Kuno

Nugroho P.
Last updated: September 13, 2026 1:23 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
MAKAM KUNO. Surutnya air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Wonogiri kembali membuka jejak pemakaman lama yang selama puluhan tahun berada di dasar waduk. Puluhan makam kuno mulai terlihat di wilayah Kecamatan Wuryantoro, bahkan jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan jika permukaan air terus turun. (ist)
SHARE

BACAAJA, WONOGIRI – Surutnya air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Wonogiri kembali membuka jejak pemakaman lama yang selama puluhan tahun berada di dasar waduk. Puluhan makam kuno mulai terlihat di wilayah Kecamatan Wuryantoro, bahkan jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan jika permukaan air terus turun.

Contents
Makam Sentono Belum TerlihatPeziarah Makin Jarang Datang

Kemunculan makam tersebut membuat sejumlah keluarga keturunan warga terdampak pembangunan waduk kembali menengok kawasan itu. Namun, tidak semua ahli waris masih hafal lokasi makam orang tua atau leluhurnya, sebab sebagian besar generasi yang mengetahui titik pemakaman kini sudah lanjut usia.

Basuki (54), warga Kecamatan Wuryantoro, mengatakan makam-makam itu tidak secara resmi dijadikan tempat wisata. Meski begitu, kemunculannya saat musim kemarau tetap menarik perhatian keluarga dan kerabat yang ingin mencari atau memastikan keberadaan makam leluhur mereka.

“Untuk pembersihan secara umum belum ada untuk makam. Belum. Mungkin keluarga jauh atau kerabat itu mungkin ada yang menengok atau mencari ahli-ahlinya yang di sekitar sini,” ujar Basuki saat ditemui, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Basuki, orang-orang yang masih mengetahui lokasi pemakaman umumnya berusia di atas 60 tahun. Sementara itu, banyak cucu dan keturunan berikutnya sudah tidak memiliki informasi pasti mengenai letak makam keluarga mereka.

“Kalau mungkin sudah banyak yang lupa itu tahu semua mungkin sudah ke cucunya. Tapi kalau ada yang masih tahu, orang tuanya sudah enggak ada,” katanya.

Makam Sentono Belum Terlihat

Salah satu pemakaman yang sering menjadi perhatian adalah Makam Sentono di Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari, Kelurahan Wuryantoro. Area tersebut dikenal sebagai bekas persemayaman Eyang Raden Santri, tokoh yang cukup melegenda bagi masyarakat setempat.

Namun, hingga Sabtu (12/9/2026), Makam Sentono belum terlihat di permukaan. Kondisinya berbeda dengan Makam Kenteng di Desa Kenteng, Wuryantoro, yang puluhan kijing atau batu nisannya sudah mulai tampak akibat air waduk menyusut.

“Kalau yang terkenal di Raden Santri, Makam Sentono itu mungkin akhir November atau Desember baru kelihatan. Kalau saat ini belum kelihatan,” jelas Basuki.

Meski lama terendam, sebagian makam kuno tersebut masih terlihat cukup utuh. Bentuk kijing dan susunan pemakaman masih menyerupai kondisi sebelum kawasan itu tergenang waduk.

Basuki menyebut batu nisan yang tampak berserakan kemungkinan berasal dari makam yang jenazahnya sudah dipindahkan keluarga ketika proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur berlangsung.

“Mungkin yang berserakan ini yang sudah dipindah. Mungkin yang sudah tidak pada tempatnya itu yang sudah dipindahkan jenazahnya,” tuturnya.

Kemunculan makam juga berlangsung secara bertahap mengikuti penurunan debit air. Untuk kawasan pemakaman di sekitar wilayahnya, Basuki memperkirakan seluruh area makam bisa terlihat pada akhir Oktober apabila kondisi kemarau terus berlanjut.

Peziarah Makin Jarang Datang

Kepala Desa Mlopoharjo, Budi Santoso, mengatakan tradisi ziarah ke makam kuno masih cukup sering dilakukan pada masa awal setelah kawasan tersebut tergenang. Saat itu, anak cucu warga yang terdampak pembangunan waduk masih banyak yang datang untuk mengunjungi makam leluhur.

Sebagian keluarga terdampak proyek waduk diketahui mengikuti program transmigrasi ke luar daerah. Karena itu, hubungan antara keturunan dengan makam leluhur perlahan makin renggang.

“Awal-awal masih ada peziarah, karena keluarga makam-makam itu rata-rata ikut transmigrasi. Jadi, terkadang masih berkunjung ke leluhurnya,” kata Budi.

Namun, kondisi tersebut mulai berubah setelah beberapa generasi berlalu. Banyak keturunan yang kini hanya mengetahui cerita tentang leluhur mereka tanpa mengetahui lokasi makamnya secara pasti.

“Kalau sekarang sudah turun-temurun, sudah beberapa kali, sudah tinggal cucu-cucunya. Mungkin ada satu dua atau beberapa, tapi tidak banyak,” ujarnya.

Jumlah peziarah juga semakin berkurang setelah sebagian makam dipindahkan ke lokasi lain. Salah satunya makam Eyang Raden Santri yang dipindahkan dari Makam Sentono ke Makam Tangkil.

Meski begitu, masih ada makam-makam lain yang tidak dipindahkan ketika waduk dibangun. Sebagian kerangka tetap berada di dasar waduk, sementara anak cucunya telah menyebar ke luar Pulau Jawa.

“Raden Santri kan hanya petilasan saja yang ada di Makam Sentono. Pada awal-awal tetap masih ada yang ziarah,” kata Budi. (*)

You Might Also Like

Jaksa Dibacok di Deli Serdang, Komjak Singgung Urgensi Pengamanan Jaksa

Gus Alam PKB Meninggal, Siapa yang Berpeluang Gantikan Posisinya di DPR RI?

Pemprov Jateng Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

Begini Kondisi Petani Tembakau Temanggung, Usai Gudang Garam Hentikan Pembelian, di Ujung Tanduk

PDIP Paling Populer tapi Elektabilitas Gerindra Tak Tertandingi, Simak Selengkapnya

TAGGED:makam kunopemakamanwaduk gajah mungkurwonogiri
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kapal Virgo Transport 8 Hilang, 86 Orang Dievakuasi, 1 Meninggal
Next Article Sepak Bola Bukan Cuma Laki-laki, 18 Tim Putri SD Buktikan di Semarang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Kemenimipas Salurkan Bantuan Air Bersih

LELAYU: Papan bertuliskan berita duka kematian Ayudiah Rivana Tridiandinita dipajang di depan kediaman almarhumah di Gedawang, Tembalang, Kota Semarang, Rabu (28/10/2026). (bae)

Atlet Silat Porprov Jateng Asal Semarang Meninggal setelah Operasi, Polisi Bakal Periksa Dokter RS Primaya

SEMANGAT PENGABDIAN - PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah turut mengikuti upacara peringatan Hari Listrik Nasional ke-81 yang diselenggarakan oleh PLN UID Jawa Tengah.

Semangat Hari Listrik Nasional ke-81, PLN Icon Plus Perkuat Komitmen Mendukung Transformasi Digital

LEPAS JENAZAH: Keluarga dan pentakziah melepas jenazah atlet pencak silat Kota Semarang, Ayudiah Rivana Tridiandinata, Rabu (28/10/2026). (bae)

Apa Penyebab Kematian Atlet Silat Semarang? Begini Keterangan Rumah Sakit

RESMIKAN INFRASTRUKTUR JALAN - Danang Wicaksana Sulistya (DWS), bersama Fraksi Partai Gerindra DPRD Blora resmikan pembangunan jalan beton yang menghubungkan Dusun Sunggun, Dusun Parengan, hingga Desa Mendenrejo, di Kecamatan Kradenan, Blora, Senin (26/10/2026).

DWS Kawal Pembangunan Jalan di Blora, Dongkrak Perekonomian Warga Lewat Program PISEW

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Plesir

Owabong Diserbu Libur Lebaran, Pengunjung Membludak Hampir Tiga Puluh Ribu

April 1, 2026
Ketua Komisi II DPR RI M. Rifqinizamy Karsayuda menilai usulan Cak Imin soal Gubernur dipilih atau ditunjuk Presiden berpotensi menyalahi konstitusi. Foto: dok/ist
Unik

Usulan Gubernur Dipilih Presiden Salahi Konstitusi

Juli 26, 2025
Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno.
Unik

Sengkarut Perlintasan KA di Jalan Nasional Banyak Telan Korban, Pemerintah Abai?

Mei 11, 2025
Dirlantas Polda Jateng Kombes Pol Pratama Adhyasastra, memeriksa kesiapan kendaraan patroli saat memimpin apel kesiapan pelaksanaan Operasi Patuh Candi 2025, di Mapolda Jateng, Senin (14/7/2025).
Unik

Dirlantas Jateng Ingatkan 7 Pelanggaran Ini Jadi Sasaran Utama Operasi Patuh Candi 2025

Juli 14, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Waduk Gajah Mungkur Mengering, Muncul Puluhan Makam Kuno
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?