BACAAJA, CIANJUR – Warga di pelosok Cianjur harus menghadapi situasi yang bikin miris saat seorang perempuan sakit membutuhkan pertolongan medis. Karena jalan menuju permukiman rusak parah dan tak bisa dilewati kendaraan, warga akhirnya menggotong pasien secara manual hingga berkilo-kilometer.
Pasien tersebut ditandu menggunakan kain sarung yang diikat pada sebilah bambu. Warga bergantian membawa tandu darurat itu melewati jalan setapak sebelum akhirnya menemukan akses yang bisa dilalui ambulans.
Perjalanan warga bersama pasien disebut mencapai sekitar 10 kilometer. Momen tersebut terekam kamera dan videonya kemudian menyebar di media sosial hingga menjadi sorotan publik.
Peristiwa itu terjadi di Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Setelah sampai di jalan kabupaten di Desa Cipelah, pasien kemudian dipindahkan ke ambulans untuk mendapat penanganan medis.
Kondisi tersebut menggambarkan betapa sulitnya akses warga di sejumlah wilayah selatan Cianjur. Jalan lingkungan dan jalan desa yang rusak membuat kendaraan tidak bisa masuk hingga mendekati permukiman.
Ketika ada warga yang sakit dan membutuhkan pertolongan, masyarakat terpaksa mencari cara lain. Salah satunya dengan membawa pasien menggunakan tandu sederhana hingga mencapai ruas jalan yang dapat dilewati kendaraan.
Dalam video yang beredar, terlihat warga membawa seorang perempuan dengan tandu yang dibuat dari sarung dan bambu. Mereka berjalan menyusuri jalur yang kondisinya tidak memungkinkan dilewati kendaraan.
Situasi ini mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Cianjur. Pemkab menyatakan perbaikan jalan lingkungan akan dilakukan secara bertahap, khususnya di kawasan selatan yang masih menghadapi persoalan akses.
Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian mengatakan saat ini pemerintah memprioritaskan sejumlah ruas jalan penghubung antarkecamatan yang kondisinya mengalami kerusakan. Setelah itu, konektivitas menuju jalan desa dan lingkungan akan terus dibenahi.
Menurut Wahyu, kebutuhan perbaikan jalan menjadi salah satu keluhan yang paling sering disampaikan masyarakat. Aspirasi tersebut muncul dalam program rembug desa yang digelar bergiliran di 354 desa di Kabupaten Cianjur.
“Program perbaikan jalan termasuk yang paling tinggi diajukan masyarakat di setiap desa hingga RT/RW, sehingga program akan terus dilakukan guna menjawab keluhan warga selama ini,” kata Wahyu, dikutip dari Antara, Selasa (8/9/2026).
Ia mengatakan pengerjaan sejumlah jalan lingkungan juga dilakukan dengan semangat gotong royong. Perbaikan tersebut diharapkan bisa membuka akses warga dari wilayah utara sampai selatan Cianjur.
Kecamatan Cidaun menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena kondisi jalan berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Akses yang layak dibutuhkan warga untuk menuju fasilitas kesehatan, sekolah, hingga tempat menjual hasil pertanian.
“Secara bertahap akan kita perbaiki, sehingga warga tidak lagi kesulitan untuk bepergian baik ke puskesmas atau rumah sakit, ke sekolah atau menjual hasil bumi ke pusat kota,” ujarnya.
Camat Cidaun Gagan Rusganda mengatakan pihak kecamatan sudah mengajukan perbaikan jalan yang digunakan warga di wilayah tersebut. Pemerintah juga sebelumnya telah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan jalan kabupaten di kawasan Cidaun dan Naringgul.
Nilai anggaran untuk pembangunan infrastruktur tersebut disebut mencapai puluhan miliar rupiah. Pemerintah berharap anggaran yang tersedia bisa membantu memperbaiki akses yang selama ini menjadi kendala warga.
“Untuk perbaikan jalan terus kami upayakan agar aktivitas masyarakat tidak terhambat, termasuk untuk memudahkan warga mendapat layanan kesehatan kami sudah mengurus BPJS-nya,” kata Gagan.
Menurut Gagan, pembenahan jalan di kawasan pelosok menjadi kebutuhan mendesak agar waktu tempuh warga menuju pusat pelayanan bisa lebih singkat. Terlebih, kondisi akses saat ini membuat sebagian masyarakat harus berjalan cukup jauh sebelum bertemu jalan yang bisa dilalui kendaraan.
Kasus pasien yang harus ditandu sejauh 10 kilometer menjadi gambaran nyata dampak jalan rusak terhadap akses kesehatan. Bukan hanya soal kenyamanan bepergian, kondisi infrastruktur juga bisa menentukan seberapa cepat warga mendapat pertolongan ketika keadaan darurat.
Pemkab Cianjur menilai perbaikan jalan nantinya bukan sekadar untuk memperlancar mobilitas. Infrastruktur yang memadai juga dibutuhkan agar warga lebih mudah mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan serta menggerakkan aktivitas ekonomi.
Bagi petani, akses jalan yang bagus juga berarti proses membawa hasil bumi ke pusat perdagangan menjadi lebih gampang. Sementara bagi anak-anak, jalan yang layak dapat memangkas hambatan perjalanan menuju sekolah.
Pemkab Cianjur menyatakan perbaikan infrastruktur akan dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan usulan warga serta tingkat kebutuhan di setiap wilayah. Harapannya, kejadian warga harus menandu pasien berkilometer jauhnya tak lagi terulang hanya karena ambulans tak bisa masuk ke permukiman. (*)

