Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bisnis Hiburan Semarang Lagi Cari Napas
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Bisnis Hiburan Semarang Lagi Cari Napas

Dunia hiburan di Semarang lagi nggak baik-baik saja. Karaoke dan spa mengaku sedang masuk fase “bertahan hidup”, bukan lagi sibuk menghitung cuan.

T. Budianto
Last updated: September 2, 2026 9:11 am
By T. Budianto
7 Min Read
Share
Ilustrasi: Aktivitas pengunjung di sebuah tempat hiburan malam. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Lampu masih menyala, musik masih bisa diputar, ruang karaoke masih tersedia. Tapi satu hal yang menurut para pengusaha hiburan kini makin susah ditemukan adalah tamu.

Pelaku usaha karaoke dan spa di Semarang mengaku tengah menghadapi penurunan kunjungan yang cukup tajam sepanjang 2026. Kondisi ekonomi yang belum stabil, beban pajak, biaya perizinan, royalti hingga perubahan gaya hidup masyarakat disebut menjadi sederet faktor yang membuat industri hiburan makin ngos-ngosan.

Salah seorang pelaku usaha karaoke di kawasan Semarang Utara, Lendy mengatakan, dampak paling terasa muncul ketika biaya tambahan harus dibebankan kepada pelanggan.

“Kalau pajak sudah kami jelaskan di depan, kadang customer baru masuk terus langsung kabur. Customer itu maunya harga net,” ujarnya dalam sebuah diskusi mengenai kondisi industri hiburan di Semarang, belum lama ini.

Baca juga: HUT ke-9 Pagersemar: Bukan Cuma Bisnis Hiburan, Tapi Bikin Kota Lebih Hidup

Menurut dia, persaingan juga makin ketat karena muncul banyak pilihan tempat hiburan dengan harga yang lebih murah. Konsumen pun kini semakin sensitif terhadap harga.

Penurunan kunjungan, kata Lendy, bahkan bisa mencapai angka yang bikin pengusaha geleng-geleng kepala. “Kalau sampai Agustus ini, bisa sekitar 70 persen,” katanya.

Teguh dari pelaku usaha spa yang hadir dalam diskusi itu juga menyebut penurunan kunjungan berada di kisaran 50 hingga 60 persen. Masalahnya, kondisi ramai kini juga sulit diprediksi.

Kalau dulu akhir pekan identik dengan lonjakan pengunjung, sekarang weekend dan weekday rasanya sama-sama penuh tanda tanya. “Sekarang nggak bisa diprediksi. Weekend pun tetap bisa sepi,” kata Teguh.

Ada fakta lain yang cukup unik. Long weekend ternyata tidak selalu membawa berkah bagi tempat hiburan. Bagi sebagian usaha karaoke dan spa, libur panjang justru bisa membuat kunjungan turun karena masyarakat memilih menghabiskan waktu bersama keluarga atau bepergian ke luar kota.

Selain itu, industri hiburan juga disebut sangat sensitif terhadap situasi sosial, politik dan keamanan. Isu demonstrasi, kerusuhan, maupun ketidakpastian sosial bisa membuat orang yang semula berencana bertemu kolega atau mengadakan acara akhirnya memilih membatalkan agenda.

Kebutuhan Tersier

Ketua Paguyuban Entertainment Semarang (Pagersemar), Fic Indarto yang turut dalam diskusi mengatakan, aktivitas hiburan selama ini berada dalam kategori kebutuhan tersier. Bahasa sederhananya, orang tidak karaoke masih bisa makan dan tidur. Orang tidak spa juga belum tentu langsung panik.

Karena itulah, ketika kondisi ekonomi sedang seret, hiburan menjadi salah satu pengeluaran yang pertama kali dikurangi. “Kalau ekonomi lagi susah, orang pasti memilih yang paling minimalis,” kata Fic Indarto.

Perubahan tren masyarakat juga ikut memukul industri hiburan. Menurut para pelaku usaha, gaya nongkrong masyarakat Semarang kini semakin bergeser ke kafe, kedai kopi, warung makan hingga tempat bermain. “Yang dulu mungkin kongkow di bar, sekarang pindahnya ke kafe kopi,” ujar Lendy.

Fenomena hidup sehat dan menjamurnya kedai kopi membuat pilihan masyarakat semakin beragam. Tamu lama pun disebut menghilang, sementara generasi pelanggan baru belum otomatis menggantikan mereka. “Era lama mungkin sudah berganti, tapi yang baru ini juga belum muncul,” celetuk Indarto.

Pengusaha sebenarnya sudah mencoba berbagai cara untuk menarik pelanggan. Promo, diskon hingga potongan harga sampai sekitar 50 persen pernah dilakukan.

Tapi persoalannya, diskon semurah apa pun tidak akan banyak membantu kalau tamunya memang tidak datang. “Mau dipromo semurah apa pun, kalau nggak ada tamunya ya siapa yang mau datang?” kata Teguh.

Di tengah tamu yang berkurang, masalah lain datang dari biaya operasional yang tidak ikut turun. Pelaku usaha menyebut sejumlah biaya seperti listrik, perizinan, pembaruan izin, pajak dan kewajiban lain tetap harus dibayar.

Bahkan, ada yang merasa biaya perizinan justru meningkat dari waktu ke waktu. Indarto lantas mencontohkan proses perpanjangan izin yang menurutnya berubah dari segi prosedur maupun biaya. Kondisi tersebut membuat pengusaha harus melakukan berbagai langkah efisiensi.

Landy bahkan mengaku usaha karaokenya telah memangkas jumlah pekerja hingga sekitar 50 persen. Dari sebelumnya sekitar 30 karyawan, kini tinggal berkisar 14 sampai 15 orang. “Sekarang memang mode-nya bertahan. Yang bisa ditekan ya biaya operasional, termasuk tenaga kerja,” ujar Landy

Sementara sektor spa mengaku pilihan efisiensinya jauh lebih terbatas. Mengurangi fasilitas berlebihan bisa membuat pelanggan kecewa, sementara memangkas karyawan juga bukan perkara mudah. “Kalau sabunnya dikurangi, tisunya nggak ada, nanti customer juga komplain,” seloroh Teguh.

Tak Berizin

Keluhan lain datang dari persaingan dengan usaha yang menawarkan harga jauh lebih murah. Pelaku usaha mengaku kerap melihat adanya tempat yang bisa menawarkan harga di bawah struktur biaya usaha resmi.

Mereka menilai kondisi tersebut membuat persaingan semakin berat karena usaha legal harus menanggung berbagai biaya, mulai dari izin, pajak, karyawan hingga operasional. Di sisi lain, mereka berharap pemerintah bisa lebih tegas menertibkan usaha yang beroperasi tanpa izin.

“Yang nggak berizin itu harus ditindak. Kalau memang nggak bisa berizin, ya jangan dibiarkan terus,” kata Landy. Bagi mereka, persaingan seharusnya berjalan sehat. Bukan sekadar siapa yang paling murah, tapi juga siapa yang menjalankan usaha sesuai aturan.

Para pelaku usaha hiburan berharap kebijakan pajak bisa mempertimbangkan kondisi ekonomi yang sedang dihadapi. Menurut mereka, ketika jumlah tamu turun, tambahan beban pajak dan biaya lain semakin terasa berat.

Selain pajak, kewajiban royalti juga disebut menjadi salah satu beban besar bagi usaha karaoke. “Melihat nominalnya saja kadang sudah seperti nggak bisa napas,” ujar Lendy.

Para pelaku usaha juga meminta industri hiburan tidak selalu dipandang dengan stigma negatif. Menurut mereka, usaha hiburan yang legal juga membuka lapangan pekerjaan, membayar pajak dan ikut menggerakkan ekonomi.

Baca juga: Pajak 40 Persen Bikin Pengusaha Hiburan Deg-degan

Harapan utama mereka sebenarnya cukup sederhana: ekonomi membaik, situasi aman, masyarakat punya daya beli, lalu tamu kembali datang. Karena kalau ekonomi sehat, dunia hiburan diyakini ikut bernapas. Sebaliknya, ketika masyarakat sedang sibuk menghemat uang, karaoke dan spa bisa menjadi daftar pertama yang dicoret dari anggaran.

Dunia hiburan ternyata sedang mengalami hiburan yang tidak lucu: tamu menghilang, biaya tetap datang, pajak ikut menagih, dan promo sudah jungkir balik.

Lampu karaoke mungkin masih menyala, tapi pengusahanya sekarang lebih sering menyanyikan lagu yang sama: “semoga bulan depan lebih baik.” Masalahnya, bulan depan tampaknya juga masih belum jelas. (tebe)

You Might Also Like

Giant Sea Wall Dikhawatirkan Ganggu Nelayan

Mantap! Wali Kota Semarang Kukuhkan FPRB dan Gelar Gladi Lapang Hadapi Musim Hujan 2025–2028

Agenda Besar Jokowi: Exit Strategi dan “Menolak Punah”

Detik-detik Emak 40 Tahun Bakar Toko Emas di Makassar, Demi Gasak Perhiasan Rp2 Miliar!

Kasus Karhutla Jateng Melonjak 700 Persen, Timbulkan Kerugian Miliaran Rupiah

TAGGED:bapenda kota semarangdunia hiburan semarangheadlinepagersemarpemkot semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article ASN Jateng Diminta Ikut “Bikin Ramai” MTQ Nasional
Next Article 7.515 Atlet Pelajar Jateng Turun Gelanggang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Bupati Ngawi: Regulasi Tak Cukup Sah, Harus Bermanfaat Bagi Rakyat

Banyak Peluang, Nol Gol! Penyelesaian Akhir Jadi PR

Harga Sembako di Ngawi Dipantau, Wabup Turun Langsung ke Pasar

Dalam kuliah umum di FISIP Untag Semarang, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menekankan kebhinekaan: beda pilihan bukan alasan perpecahan.

Bupati Kendal Ajak Mahasiswa Untag Rawat Kebhinekaan: Beda Pilihan Jangan Jadi Alasan Perpecahan!

Pantura Demak Kian Terancam Rob, Mangrove dan Teknologi HexBricks Jadi Andalan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Gedung KPU RI. KPU menetapkan 16 dokumen syarat capres-cawapres sebagai informasi tertutup selama 5 tahun, menuai kontroversi publik. Di tengah kebijakan ini, Wapres Gibran digugat Rp125 triliun terkait legalitas ijazah SMA luar negerinya. Publik mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas KPU.
Nasional

KPU ‘Lock’ 16 Dokumen Syarat Capres-Cawapres Untuk Dipublish

September 15, 2025
Ilustrasi pemulung mencari sampah yang masih mempunyai nilai ekonomis di tumpukan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Info

Kebakaran TPA Jatibarang Mereda, Pemkot Siapkan Penataan Ulang

Oktober 9, 2026
IHSG AMBLES - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu bursa saham dengan performa terjelek di dunia pada awal tahun 2026 ini. Banyak investor asing mulai kehilangan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. (ist/ai)
Ekonomi

‘Sell Indonesia’ Menggema di Pasar Global, Investor Asing Hilang Kepercayaan

Juni 6, 2026
BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai upaya mengatasi banjir di Semarang dan Grobogan.
Info

BNPB Ngegas Operasi Modifikasi Cuaca, Atasi Banjir Semarang–Grobogan

Oktober 26, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bisnis Hiburan Semarang Lagi Cari Napas
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?