BACAAJA, SEMARANG – Lagi rebahan di kasur tapi ingin tetap berdzikir? Buat sebagian orang, kondisi santai seperti itu justru jadi momen untuk mengingat Allah. Lantas, apakah dzikir harus dilakukan sambil duduk atau boleh juga sambil tiduran?
Jawabannya, dzikir sambil berbaring pada dasarnya diperbolehkan. Islam tidak membatasi dzikir hanya pada satu posisi tertentu, selama amalan tersebut dilakukan dengan niat yang baik dan tetap menjaga adab.
Dasarnya cukup jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT menggambarkan orang-orang beriman sebagai mereka yang terus mengingat-Nya dalam berbagai keadaan, termasuk ketika sedang berbaring.
Perintah Memperbanyak Dzikir
Dzikir menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Seorang muslim tidak harus menunggu berada di masjid atau selesai sholat untuk mengingat Allah.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 41-42:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Yaa ayyuhalladziina aamanu dzkurullaaha dzikran katsiiraa.
Artinya: “Wahai orang-orang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.”
Kemudian dalam ayat berikutnya disebutkan:
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Wa sabbihuuhu bukratan wa ashiilaa.
Artinya: “Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir tidak terpaku pada satu waktu tertentu. Mengingat Allah bisa dilakukan dalam aktivitas sehari-hari, selama tetap dilakukan dengan cara yang baik.
Dzikir Sambil Berbaring Ada Dalilnya
Salah satu dalil yang sering dijadikan dasar mengenai hal ini terdapat dalam Surat Ali Imran ayat 191. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
Alladziina yadzkuruunallaaha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junuubihim.
Artinya: “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.”
Penyebutan posisi berbaring dalam ayat tersebut menjadi salah satu landasan bahwa dzikir tidak harus dilakukan sambil duduk. Jadi, orang yang berdzikir ketika sedang rebahan tetap bisa mengingat Allah.
Hal serupa juga dapat ditemukan dalam anjuran berdzikir setelah sholat. Seorang muslim diperbolehkan mengingat Allah dalam berbagai posisi, sehingga tidak perlu merasa bersalah hanya karena sedang duduk santai atau berbaring.
Bagaimana Pandangan Ulama?
Para ulama pada dasarnya membolehkan dzikir dalam berbagai posisi. Dzikir tidak memiliki ketentuan bahwa seseorang harus selalu duduk tegak untuk mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, atau doa tertentu.
Imam Nawawi juga menjelaskan luasnya kebolehan berdzikir. Intinya, dzikir dapat dilakukan dalam berbagai keadaan dan posisi, termasuk ketika seseorang sedang berbaring.
Meski begitu, posisi duduk dengan kondisi tenang dan penuh perhatian tetap dinilai lebih baik dari sisi adab dan kekhusyukan. Namun, ketika seseorang sedang lelah, sakit, atau memang ingin berdzikir sebelum tidur, berbaring tidak membuat dzikir menjadi terlarang.
Dzikir Saat Rebahan Tetap Bernilai Ibadah
Dzikir merupakan amalan yang ringan dilakukan, tetapi punya nilai besar. Karena itu, jangan sampai anggapan bahwa harus duduk tegak justru membuat seseorang enggan berdzikir.
Saat badan sedang capek setelah beraktivitas, misalnya, seseorang masih bisa membaca istighfar atau tasbih sambil berbaring. Begitu juga ketika hendak tidur, mengingat Allah bisa menjadi bagian dari rutinitas sebelum memejamkan mata.
Dzikir juga menjadi salah satu cara menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah. Di tengah aktivitas yang padat, momen sederhana untuk mengingat-Nya bisa memberikan ketenangan tersendiri.
Tetap Perhatikan Adab
Meski dzikir sambil tiduran diperbolehkan, bukan berarti adab dalam berdzikir boleh diabaikan. Sebisa mungkin, lakukan dengan tenang, sopan, dan tidak menjadikan dzikir sekadar ucapan tanpa perhatian.
Berwudhu sebelum berdzikir juga merupakan hal yang baik dan dianjurkan, meski tidak menjadi syarat sah untuk seluruh bentuk dzikir. Dengan kondisi yang lebih bersih dan tenang, seseorang biasanya juga lebih mudah menghadirkan kekhusyukan.
Menghadap kiblat juga termasuk adab yang baik jika memungkinkan. Namun, bila sedang berbaring atau berada dalam kondisi tertentu sehingga tidak bisa menghadap kiblat, dzikir tetap boleh dilakukan.
Yang juga penting, jangan melakukan dzikir sambil sengaja meremehkan atau mempermainkan lafaz yang dibaca. Tetap hadirkan rasa hormat karena yang sedang diingat adalah Allah SWT.
Jadi, Boleh Dzikir Sambil Tiduran?
Jadi, kalau muncul pertanyaan apakah boleh dzikir sambil tiduran, jawabannya boleh. Dasarnya antara lain Surat Ali Imran ayat 191 yang menyebut orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.
Posisi duduk dengan tenang memang bisa membantu menghadirkan kekhusyukan. Tetapi ketika seseorang sedang rebahan karena lelah, sakit, atau menjelang tidur, ia tetap boleh berdzikir.
Pada akhirnya, yang tidak kalah penting adalah niat dan kesungguhan hati. Jangan sampai karena merasa posisi tidak ideal, seseorang malah berhenti mengingat Allah.
Selama tetap menjaga adab, dzikir bisa dilakukan dalam banyak keadaan. Bahkan saat tubuh sedang rebahan sekalipun, lisan dan hati tetap bisa diajak untuk mengingat Allah. (*)

