BACAAJA, SEMARANG – Mencari pekerjaan setelah lulus kuliah tak semudah yang dibayangkan. Ijazah sudah di tangan bukan jaminan cepat dapat kerjaan. Banyak lowongan mensyaratkan pengalaman kerja bagi para pelamar.
Situasi itu dirasakan Ana (20), pencari kerja asal Purwodadi yang datang ke Job Fair Hari Jadi Jawa Tengah. Lulusan manajemen bisnis itu mengaku baru lulus pada Juni 2026 dan kini mulai memburu pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.
Ana sebenarnya sudah mencoba melamar langsung ke sejumlah perusahaan. Namun, ia menilai persaingan di job fair juga cukup ketat karena pencari kerja yang datang bisa mencapai ratusan hingga ribuan orang.
“Kalau untuk perusahaan langsung saja. Kalau job fair saingannya lebih banyak,” ujarnya, Jum’at (21/8/2026).
Bacaaja: Ada 4.817 Lowongan Kerja di Job Fair Jateng 2026, Jangan sampai Ketinggalan!
Bacaaja: Gelombang PHK Menghantui! Pabrik Garmen Korea di Jepara Tutup, 670 Buruh Kehilangan Kerja
Meski begitu, Ana tetap datang untuk melihat peluang yang tersedia. Ia mengincar pekerjaan di bidang marketing atau HRD yang masih sejalan dengan latar belakang pendidikannya.
Namun, ada satu hal yang membuatnya cukup berat sebagai pencari kerja baru. Menurut Ana, gelar pendidikan belum tentu berbanding lurus dengan tawaran gaji maupun posisi yang tersedia.
“Agak susah-susah juga setelah lulus. Contoh UMR Rp2,3 juta, S1 ya segitu,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pencari kerja harus kembali melihat kemampuan masing-masing. Pendidikan, pengalaman, hingga keberuntungan dinilai ikut menentukan peluang seseorang mendapatkan pekerjaan.
“Semua tergantung kapasitas dari diri sendiri sama mungkin hoki-hokian juga,” ujarnya.
Keluhan serupa datang dari Widya Putri, 23 tahun, pencari kerja asal Semarang. Ia menilai salah satu tantangan terbesar lulusan baru adalah banyaknya perusahaan yang masih mencantumkan syarat pengalaman kerja.
Ia menyebut, ada lowongan yang meminta pengalaman minimal dua hingga tiga tahun. Syarat itu dinilai cukup berat bagi seseorang yang baru menyelesaikan pendidikan dan justru sedang mencari pengalaman pertamanya.
“Minimal pengalaman dua tahun atau tiga tahun, padahal kita kan masih fresh graduate,” kata Widya.
Bagi Widya, persoalan tersebut membuat pencari kerja baru berada dalam posisi yang serba sulit. Mereka membutuhkan pengalaman untuk diterima bekerja, tetapi pengalaman itu sendiri baru bisa didapat setelah memperoleh pekerjaan.
Ia berharap penyelenggara maupun perusahaan dapat membuka lebih banyak ruang bagi lulusan baru untuk memulai karier.
Di tengah ketatnya persaingan tersebut, Job Fair Hari Jadi Jawa Tengah menjadi salah satu ruang yang dimanfaatkan para pencari kerja untuk mencari peluang. Bagi sebagian pelamar, kehadiran job fair setidaknya mempertemukan mereka secara langsung dengan banyak pilihan perusahaan dalam satu tempat.
Namun, bagi Ana dan Widya, persoalan mencari pekerjaan bukan hanya soal tersedia atau tidaknya lowongan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pencari kerja yang baru lulus bisa menembus persyaratan pengalaman dan memperoleh kesempatan pertama untuk membuktikan kemampuan mereka. (dul)

