BACAAJA, KLATEN – Ratusan siswa SD swasta di Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mendadak mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Dugaan keracunan itu kini ditelusuri dengan pemeriksaan sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten sudah mengirim sejumlah sampel makanan ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (Balabkes) Yogyakarta. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencari tahu apakah ada makanan yang menjadi pemicu munculnya keluhan pada para siswa.
Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto mengatakan, sampel yang diperiksa cukup beragam. Mulai dari nasi, nuget, tahu, sayur, wortel, hingga jamur kuping ikut dikirim ke laboratorium.
“Semuanya yang bisa kita ambil sampelnya kita lakukan pemeriksaan,” kata Anggit saat dikonfirmasi, Selasa (18/8/2026).
Anggit menyebut hasil uji laboratorium belum bisa diketahui dalam waktu dekat. Pemeriksaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima sampai tujuh hari.
Sambil menunggu hasilnya, Satgas dan Korwil MBG di Klaten juga sudah turun melakukan investigasi. Langkah ini dilakukan untuk mencari tahu kronologi sekaligus mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Dinkes Klaten sendiri lebih banyak berperan dalam pemantauan. Termasuk memberikan masukan agar makanan MBG yang dibagikan kepada siswa tetap dalam kondisi layak, higienis, dan aman dikonsumsi.
Dugaan keracunan tersebut terjadi pada Jumat (14/8/2026). Setelah menyantap makanan MBG, ratusan siswa dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, termasuk mual.
Dari jumlah siswa yang mengalami keluhan, tiga orang sempat harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Dua siswa dirawat di RSI Klaten, sedangkan satu lainnya menjalani perawatan di PKU Pedan.
Kondisi ketiga siswa tersebut kini disebut sudah membaik. Dua siswa bahkan sudah diperbolehkan kembali ke rumah.
“Satu yang di PKU sudah pulang dan yang RSI Klaten katanya sudah pulang satu. Satunya hari ini (Selasa) rencananya pulang,” ujar Anggit.
Meski begitu, Dinkes masih akan melakukan konfirmasi lanjutan terkait kondisi para siswa. Kepastian tersebut menunggu hasil pemeriksaan dan informasi terbaru dari pihak rumah sakit.
Sementara itu, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG ke sekolah tersebut dihentikan sementara. Penghentian dilakukan sebagai langkah antisipasi sembari investigasi dan pemeriksaan laboratorium berjalan.
Hasil uji sampel nantinya diharapkan bisa memberi gambaran lebih jelas mengenai penyebab keluhan yang dialami para siswa. Dinkes juga masih memantau kondisi penerima MBG lainnya untuk memastikan tidak ada kasus lanjutan.
Pemeriksaan ini menjadi bagian penting untuk memastikan program MBG tetap berjalan dengan standar keamanan pangan yang ketat. Apalagi makanan yang dibagikan setiap hari dikonsumsi dalam jumlah besar oleh anak-anak.
Pihak terkait pun diminta tidak buru-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil laboratorium keluar. Dengan begitu, langkah penanganan bisa dilakukan berdasarkan temuan yang jelas, bukan sekadar dugaan. (*)

