Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Mahasiswa Diminta Tak Cuma Jadi Komentator
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Mahasiswa Diminta Tak Cuma Jadi Komentator

Kritik memang gampang dilontarkan. Tapi mahasiswa ditantang tidak berhenti menjadi “komentator” ketika melihat persoalan bangsa. Dari ruang diskusi di Semarang, muncul dorongan agar mahasiswa berani membongkar masalah sampai ke akarnya.

T. Budianto
Last updated: Agustus 13, 2026 3:55 pm
By T. Budianto
6 Min Read
Share
DISKUSI MAHASISWA: Diskusi Publik bertajuk “Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Menjaga Persatuan dan Mengawal Kedaulatan Bangsa” di Kota Semarang, Rabu (12/8/2026). (Foto: dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Menjadi mahasiswa tidak cukup hanya mengomentari persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Ada tanggung jawab yang lebih besar. memahami masalah, berani mencari akar persoalan, lalu menawarkan gagasan yang bisa diperjuangkan.

Semangat itu mengemuka dalam Diskusi Publik “Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Menjaga Persatuan dan Mengawal Kedaulatan Bangsa” di Kota Semarang. Forum tersebut mempertemukan berbagai organisasi mahasiswa untuk membahas arah gerakan mahasiswa di tengah persoalan sosial, politik, dan kebangsaan yang terus berkembang.

Diskusi menghadirkan Guru Besar UIN Walisongo Semarang Prof. Ahwan Fanani dan aktivis mahasiswa Semarang Eka Mulyo Yunus. Sejumlah organisasi turut hadir, di antaranya PMII Cabang Semarang, HMI Cabang Semarang, PMII Walisongo, IMM Cabang Semarang, BEM Undip, BEM Unnes, BEM USM, BEM Unissula, hingga Aliansi Mahasiswa Semarang.

Forum berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan pemateri, tetapi juga menyampaikan pertanyaan, kritik, hingga keresahan yang mereka temui di masyarakat.

Dari berbagai pandangan yang muncul, satu hal menjadi benang merah: gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada kritik. Eka Mulyo Yunus mengatakan, kritik memang menjadi salah satu kekuatan mahasiswa. Namun, kritik tanpa pengetahuan dan gagasan berisiko hanya menjadi reaksi sesaat.

“Mahasiswa tidak boleh hanya hadir ketika ada persoalan kemudian melakukan kritik. Kritik harus dibangun di atas pengetahuan, kajian, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Karena itu, mahasiswa harus mampu mengubah keresahan menjadi gagasan dan gagasan menjadi agenda gerakan,” ujar Eka. Rabu (12/8/2026)

Baca juga: Desak Transparansi Kasus Eks-Jampidsus Febrie Adriansyah, Mahasiswa Geruduk Kejati Jateng

Menurutnya, persatuan mahasiswa juga tidak berarti semua organisasi harus memiliki pandangan yang sama. Perbedaan justru dapat menjadi kekuatan untuk melihat persoalan dari berbagai sudut.

“Persatuan mahasiswa bukan berarti menyeragamkan cara berpikir. Justru kita perlu merawat perbedaan perspektif untuk menemukan gagasan bersama. Yang harus dipertemukan adalah kepentingan dan agenda untuk menjawab persoalan masyarakat,” katanya.

Pandangan itu sejalan dengan Prof Ahwan Fanani. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terjebak dalam polarisasi dan menjadikan perbedaan sebagai sumber konflik.

“Persatuan bukan berarti tidak adanya perbedaan. Persatuan justru membutuhkan kemampuan untuk mengelola perbedaan secara dewasa,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual untuk memahami persoalan secara mendalam. Karena itu, tradisi membaca, melakukan kajian, berdiskusi, hingga menyusun rekomendasi perlu tetap menjadi bagian dari gerakan mahasiswa.

Dari ruang diskusi, pembahasan kemudian bergerak pada pertanyaan yang lebih konkret: bagaimana gagasan tersebut bisa dibawa ke ruang kebijakan?

Panitia menyediakan kertas aspirasi yang dapat diisi peserta dengan persoalan, kritik, maupun rekomendasi. Seluruh aspirasi itu akan dihimpun menjadi dokumen rekomendasi untuk disampaikan kepada DPRD Provinsi Jateng.

Tukar Gagasan

Ketua Panitia, Khoirullah mengatakan, forum tersebut tidak ingin berhenti sebagai ruang bertukar gagasan. “Kami ingin memastikan bahwa forum ini menghasilkan sesuatu yang konkret. Aspirasi yang teman-teman sampaikan akan kami himpun, kami rangkai, dan kami susun menjadi rekomendasi yang nantinya akan dibawa kepada DPRD Jateng,” ujarnya.

Namun, penyampaian rekomendasi bukan menjadi akhir. Perwakilan HMI Cabang Semarang, Mughni menilai, mahasiswa perlu memastikan aspirasi terus dikawal hingga mendapat respons. “Kami membutuhkan gerakan yang konsisten, berbasis kajian, dan mampu mengawal isu sampai ada respons dari pemangku kebijakan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan PMII Cabang Semarang, Zoelhandy mengingatkan agar persatuan tidak berhenti sebagai slogan. “Persatuan harus terlihat dalam bagaimana mahasiswa mampu duduk bersama, mendengarkan perbedaan, kemudian menyusun agenda yang dapat diperjuangkan secara bersama-sama,” ujarnya.

Di tengah pembahasan itu, muncul gagasan radical idea yang disampaikan Ketua BEM Undip, Majid. Menurutnya, mahasiswa perlu berani berpikir lebih jauh dan tidak sekadar mengulang solusi yang sudah ada.

Baca juga: Budiman Cs Didatangi Mahasiswa, Forum Diskusi Berubah Jadi Adu Argumen

“Mahasiswa harus memiliki radical idea. Radikal di sini bukan berarti kekerasan atau tindakan ekstrem, tetapi keberanian untuk berpikir sampai ke akar persoalan,” ujar Majid.

Ia menilai mahasiswa tidak cukup hanya bertanya siapa yang salah ketika sebuah persoalan muncul. Mereka juga perlu mencari tahu mengapa persoalan itu terjadi, mengapa terus berulang, dan apakah solusi yang ditawarkan benar-benar menyelesaikannya.

“Kalau mahasiswa hanya mengkritik kebijakan, kita akan berhenti sebagai komentator. Tetapi kalau kita mampu menghadirkan gagasan yang fundamental, berbasis data, dan menawarkan alternatif, maka mahasiswa bisa menjadi bagian dari solusi,” katanya.

Meski begitu, Majid menegaskan keberanian berpikir harus tetap dibangun melalui kajian dan data. “Gagasan yang radikal tidak boleh lahir dari kemarahan semata. Ia harus lahir dari kajian, data, keberanian berpikir, dan keberpihakan terhadap kepentingan publik,” tambahnya.

Aspirasi yang terkumpul selanjutnya akan dirumuskan menjadi rekomendasi mahasiswa dan direncanakan dibawa ke DPRD Jateng melalui penyampaian aspirasi maupun audiensi.

Langkah tersebut menjadi upaya agar suara mahasiswa tidak berhenti ketika forum selesai. Ada pekerjaan lanjutan untuk mengawal, menagih respons, dan memastikan gagasan tetap hidup dalam ruang kebijakan.

Pada akhirnya, persatuan yang dibicarakan dalam forum tersebut bukan soal menyamakan semua pikiran. Persatuan adalah kemampuan mempertemukan perbedaan untuk menemukan kepentingan bersama.

Begitu pula dengan radical idea. Bukan tentang menjadi ekstrem, melainkan keberanian mahasiswa untuk berpikir lebih dalam, membaca persoalan sampai ke akarnya, dan menghadirkan gagasan yang benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat.

Sebab kritik tanpa gagasan hanya akan membuat mahasiswa sibuk menunjuk masalah. Yang lebih penting adalah berani membongkar akar masalah, menawarkan jalan keluar, lalu cukup konsisten untuk mengetuk pintu kebijakan, bahkan ketika pintunya tidak langsung dibukakan. (dul)

You Might Also Like

Fakta Tersembunyi di Balik 17 Agustus 1945, dari Malaria Bung Karno hingga Naskah di Tempat Sampah

Demo di Purwokerto Kebangetan Banget, Barang Milik Tukang Sol Sepatu Digasak!!

Anggota Polda Jateng Dipecat karena Berzina dan Main Judol, Ajukan Banding ke Propam

Viral! Maps Ngaco Bikin Ratusan Mobil Nyasar ke Sawah Sleman

Inilah Gunung Pelangi Zhangye Danxia, Keajaiban Geologi yang Dijelaskan dalam Al-Qur’an

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi keracunan MBG. (wahyu/grafis) Nah Lho! Kepala SPPG Karanganyar Muntah-muntah Cicipi Menu MBG untuk Ibu Hamil
Next Article Puan Ajak Parlemen Remaja Kenal Politik dari Dekat, Bukan Cuma dari Medsos

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Bung Sis Pimpin PA GMNI Demak, Siapkan Konsolidasi Alumni hingga Aksi Nyata

Sekda Banyumas Tegaskan Tak Ajukan Pengunduran Diri, Begini Penjelasannya

Pilkades Purbalingga Siapkan Anggaran Pengamanan Rp1,3 Miliar

Utang Menumpuk Bukan Berarti Perusahaan Harus Gulung Tikar, Ada PKPU

Jateng Siapkan 10 Ribu Vaksin Rabies Gratis

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ketua DPR RI Puan Maharani bersama pimpinan DPR lainnya, memerhatikan sejumlah pertanyaan wartawan yang ditujukan kepadanya dalam konferesi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Unik

Puan Berharap Duta Besar Memahami Situasi Global

Juli 2, 2025
Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) RI.
Unik

Pemilu 2029 Hanya Memilih DPR, DPD dan Presiden/Wakil Presiden

Juni 27, 2025
Tips

Buya Yahya Ungkap Siapa yang Salah Saat Tak Bisa Sholat

September 4, 2026
Ilustrasi jemaah sedang melalukan ritual ibadah haji di Masjidil Haram.
Tips

Waspada! Ada Fenomena Jemaah Haji Mirip ‘Zombi’ Tahun 2026

Desember 8, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Mahasiswa Diminta Tak Cuma Jadi Komentator
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?