BACAAJA, SEMARANG – Menjadi mahasiswa tidak cukup hanya mengomentari persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Ada tanggung jawab yang lebih besar. memahami masalah, berani mencari akar persoalan, lalu menawarkan gagasan yang bisa diperjuangkan.
Semangat itu mengemuka dalam Diskusi Publik “Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Menjaga Persatuan dan Mengawal Kedaulatan Bangsa” di Kota Semarang. Forum tersebut mempertemukan berbagai organisasi mahasiswa untuk membahas arah gerakan mahasiswa di tengah persoalan sosial, politik, dan kebangsaan yang terus berkembang.
Diskusi menghadirkan Guru Besar UIN Walisongo Semarang Prof. Ahwan Fanani dan aktivis mahasiswa Semarang Eka Mulyo Yunus. Sejumlah organisasi turut hadir, di antaranya PMII Cabang Semarang, HMI Cabang Semarang, PMII Walisongo, IMM Cabang Semarang, BEM Undip, BEM Unnes, BEM USM, BEM Unissula, hingga Aliansi Mahasiswa Semarang.
Forum berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan pemateri, tetapi juga menyampaikan pertanyaan, kritik, hingga keresahan yang mereka temui di masyarakat.
Dari berbagai pandangan yang muncul, satu hal menjadi benang merah: gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada kritik. Eka Mulyo Yunus mengatakan, kritik memang menjadi salah satu kekuatan mahasiswa. Namun, kritik tanpa pengetahuan dan gagasan berisiko hanya menjadi reaksi sesaat.
“Mahasiswa tidak boleh hanya hadir ketika ada persoalan kemudian melakukan kritik. Kritik harus dibangun di atas pengetahuan, kajian, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Karena itu, mahasiswa harus mampu mengubah keresahan menjadi gagasan dan gagasan menjadi agenda gerakan,” ujar Eka. Rabu (12/8/2026)
Baca juga: Desak Transparansi Kasus Eks-Jampidsus Febrie Adriansyah, Mahasiswa Geruduk Kejati Jateng
Menurutnya, persatuan mahasiswa juga tidak berarti semua organisasi harus memiliki pandangan yang sama. Perbedaan justru dapat menjadi kekuatan untuk melihat persoalan dari berbagai sudut.
“Persatuan mahasiswa bukan berarti menyeragamkan cara berpikir. Justru kita perlu merawat perbedaan perspektif untuk menemukan gagasan bersama. Yang harus dipertemukan adalah kepentingan dan agenda untuk menjawab persoalan masyarakat,” katanya.
Pandangan itu sejalan dengan Prof Ahwan Fanani. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terjebak dalam polarisasi dan menjadikan perbedaan sebagai sumber konflik.
“Persatuan bukan berarti tidak adanya perbedaan. Persatuan justru membutuhkan kemampuan untuk mengelola perbedaan secara dewasa,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual untuk memahami persoalan secara mendalam. Karena itu, tradisi membaca, melakukan kajian, berdiskusi, hingga menyusun rekomendasi perlu tetap menjadi bagian dari gerakan mahasiswa.
Dari ruang diskusi, pembahasan kemudian bergerak pada pertanyaan yang lebih konkret: bagaimana gagasan tersebut bisa dibawa ke ruang kebijakan?
Panitia menyediakan kertas aspirasi yang dapat diisi peserta dengan persoalan, kritik, maupun rekomendasi. Seluruh aspirasi itu akan dihimpun menjadi dokumen rekomendasi untuk disampaikan kepada DPRD Provinsi Jateng.
Tukar Gagasan
Ketua Panitia, Khoirullah mengatakan, forum tersebut tidak ingin berhenti sebagai ruang bertukar gagasan. “Kami ingin memastikan bahwa forum ini menghasilkan sesuatu yang konkret. Aspirasi yang teman-teman sampaikan akan kami himpun, kami rangkai, dan kami susun menjadi rekomendasi yang nantinya akan dibawa kepada DPRD Jateng,” ujarnya.
Namun, penyampaian rekomendasi bukan menjadi akhir. Perwakilan HMI Cabang Semarang, Mughni menilai, mahasiswa perlu memastikan aspirasi terus dikawal hingga mendapat respons. “Kami membutuhkan gerakan yang konsisten, berbasis kajian, dan mampu mengawal isu sampai ada respons dari pemangku kebijakan,” katanya.
Sementara itu, perwakilan PMII Cabang Semarang, Zoelhandy mengingatkan agar persatuan tidak berhenti sebagai slogan. “Persatuan harus terlihat dalam bagaimana mahasiswa mampu duduk bersama, mendengarkan perbedaan, kemudian menyusun agenda yang dapat diperjuangkan secara bersama-sama,” ujarnya.
Di tengah pembahasan itu, muncul gagasan radical idea yang disampaikan Ketua BEM Undip, Majid. Menurutnya, mahasiswa perlu berani berpikir lebih jauh dan tidak sekadar mengulang solusi yang sudah ada.
Baca juga: Budiman Cs Didatangi Mahasiswa, Forum Diskusi Berubah Jadi Adu Argumen
“Mahasiswa harus memiliki radical idea. Radikal di sini bukan berarti kekerasan atau tindakan ekstrem, tetapi keberanian untuk berpikir sampai ke akar persoalan,” ujar Majid.
Ia menilai mahasiswa tidak cukup hanya bertanya siapa yang salah ketika sebuah persoalan muncul. Mereka juga perlu mencari tahu mengapa persoalan itu terjadi, mengapa terus berulang, dan apakah solusi yang ditawarkan benar-benar menyelesaikannya.
“Kalau mahasiswa hanya mengkritik kebijakan, kita akan berhenti sebagai komentator. Tetapi kalau kita mampu menghadirkan gagasan yang fundamental, berbasis data, dan menawarkan alternatif, maka mahasiswa bisa menjadi bagian dari solusi,” katanya.
Meski begitu, Majid menegaskan keberanian berpikir harus tetap dibangun melalui kajian dan data. “Gagasan yang radikal tidak boleh lahir dari kemarahan semata. Ia harus lahir dari kajian, data, keberanian berpikir, dan keberpihakan terhadap kepentingan publik,” tambahnya.
Aspirasi yang terkumpul selanjutnya akan dirumuskan menjadi rekomendasi mahasiswa dan direncanakan dibawa ke DPRD Jateng melalui penyampaian aspirasi maupun audiensi.
Langkah tersebut menjadi upaya agar suara mahasiswa tidak berhenti ketika forum selesai. Ada pekerjaan lanjutan untuk mengawal, menagih respons, dan memastikan gagasan tetap hidup dalam ruang kebijakan.
Pada akhirnya, persatuan yang dibicarakan dalam forum tersebut bukan soal menyamakan semua pikiran. Persatuan adalah kemampuan mempertemukan perbedaan untuk menemukan kepentingan bersama.
Begitu pula dengan radical idea. Bukan tentang menjadi ekstrem, melainkan keberanian mahasiswa untuk berpikir lebih dalam, membaca persoalan sampai ke akarnya, dan menghadirkan gagasan yang benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat.
Sebab kritik tanpa gagasan hanya akan membuat mahasiswa sibuk menunjuk masalah. Yang lebih penting adalah berani membongkar akar masalah, menawarkan jalan keluar, lalu cukup konsisten untuk mengetuk pintu kebijakan, bahkan ketika pintunya tidak langsung dibukakan. (dul)

