Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ideologi Angka dan Realitas Sebagian
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ideologi Angka dan Realitas Sebagian

Redaktur Opini
Last updated: Agustus 13, 2026 8:40 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Ideologi angka memang memperlihatkan kebenaran. Namun, itu adalah realitas sebagian. Cukup lihat metodologinya dan banding-bandingkan hasilnya. Kontradiksinya akan tampak.

Salah satu cara membangun argumen adalah dengan angka. Tidak ada orang yang bisa membantah angka. Sekali pun Anda menjadi orang paling berkuasa, kalau salah tetap salah.

Presiden Prabowo Subianto seringkali salah berhitung. Ia pernah hitung 10 + 6 sama dengan 17. Ini karena kecintaannya pada angka 8. 1+7 sama dengan 8. Itu pasti. Jika Anda tanyakan anak SD yang sudah belajar berhitung dan mengerti konsep hitungan, 10+6 = 16. Jadi Prabowo, bagaimana pun berkuasanya dia, tetap salah!

Angka yang tidak bisa salah itulah yang seringkali menjadi senjata ampuh untuk menunjukkan kebenaran. Sehingga tidak heran bila angka-angka kemudian menjadi cara ampuh untuk membuktikan kebenaran.

Para penguasa tahu ini. Para politisi mengerti ini dengan baik. Para penjilat lebih tahu tahu lagi. Penurunan popularitas presiden yang diukur oleh survei, dilawan dengan survei tandingan. Dan, seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini, beberapa survei mengatakan polularitas presiden di kisaran 80%.

Yang menjadi masalah kemudian adalah bagaimana cara mendapatkannya. Angka memang bisa mewakili realitas. Sayangnya, realitas selalu jauh lebih kompleks dari angka. Kita memakai angka hanya untuk merepresentasikan “sebagian” dari realitas yang kompleks itu.

Itulah sebabnya, angka-angka harus dilihat secara lebih mendalam: apa saja yang ia wakili, apa yang tidak diwakili. Apa yang dilihat dan apa yang tidak dilihat baik secara sengaja atau tidak sengaja.

Seperti statistik dari Badan Pusat Statistik ini. Ia benar. Angka-angkanya teruji. Dan secara metodologis ia benar. Angka TPT atau tingkat pengangguran terbuka itu benar adanya.

Hanya saja, apa itu pengangguran terbuka? Ini yang kemudian menjadikannya lebih kompleks. ILO (International Labor Organization) memakai definisi: orang yang seminggu sebelumnya bekerja paling kurang satu jam. Ya, satu jam saja itu sudah dikategorikan bekerja.

“Seseorang dikategorikan bekerja apabila dalam seminggu sebelum survei ia melakukan kegiatan ekonomi sekurang-kurangnya satu jam tanpa terputus untuk memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan.” BPS memakai standar itu. ILO mengeluarkan standar itu untuk bisa membuat perbandingan antar negara.

Artinya?

Seseorang hanya membantu berjualan di warung keluarga selama dua jam, tanpa menerima upah, ia dikategorikan bekerja. Buruh bangunan mendapat pekerjaan satu hari, lalu enam hari berikutnya menganggur, ia digolongkan bekerja. Pengemudi ojol hanya memperoleh satu pesanan dalam seminggu, itu juga masuk golongan bekerja. Petani membantu mengurus kebun keluarga beberapa jam tanpa dibayar, dia juga bekerja. Pedagang kecil berjualan tetapi penghasilannya sangat sedikit bahkan tidak cukup untuk makan, dia tetap digolongkan bekerja.

Itulah sebabnya, jumlah pengangguran terbuka hanyalah 7,22 juta saja. Atau hanya 4,65 persen dari angkatan kerja. Angka ini bisa dibaca demikian: 95,35% angkatan kerja melakukan setidaknya sejumlah kegiatan ekonomi atau sementara tidak bekerja tetapi masih memiliki pekerjaan. Namun, itu tidak berarti 95,35% dari angkatan kerja itu memiliki pekerjaan penuh dan layak.

Sementara itu, 10,79 juta orang atau 7,28% angkatan kerja terkategori sebagai penganggur terbuka. Mereka ini bekerja kurang dari 35 jam seminggu atau masih bekerja tapi masih ingin tambahan pekerjaan. 38,42 juta orang atau 25,93% penduduk bekerja tergolong pekerja paruh waktu. Artinya, kira-kira satu dari setiap tiga orang yang dikategorikan bekerja sebenarnya bekerja kurang dari 35 jam seminggu.

Yang paling penting dari data BPS ini adalah 87,88 juta orang atau 59,30% penduduk bekerja berada di kegiatan informal. Pekerja formal hanya sekitar 60,31 juta atau 40,70%. Sektor informal itu bisa macam-macam. Buka bengkel tambal ban di pinggir jalan adalah kerja informal. Pemulung juga melakukan pekerjaan informal. Karakteristiknya adalah upah atau penghasilan tidak pasti dan karenanya tidak memiliki jaminan sosial.

Jadi, laporan lengkap dari BPS ini harus dibaca seperti ini: “Dari 148,19 juta orang yang disebut bekerja, sekitar 49,21 juta bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan 87,88 juta bekerja di sektor informal. Sebanyak 10,79 juta secara eksplisit masih menginginkan tambahan pekerjaan atau jam kerja..”

Nah, kalau cara membacanya seperti di atas maka maknanya pun berubah. Data Sakernas pada Mei 2026 ini juga tidak bisa membaca gelombang PHK, misalnya. Seorang buruh tekstil sebelumnya bekerja 48 jam seminggu dengan gaji Rp5 juta. Setelah terkena PHK, ia menjadi pengemudi ojol dan memperoleh Rp1,5 juta sebulan. Dalam catatan BPS, orang ini tetap bekerja. Penurunan penghasilannya yang sangat signifikan itu tidak tercatat dan tidak bisa dipahami semata-mata oleh statistik belaka.

Ideologi angka memang memperlihatkan kebenaran. Namun, itu adalah realitas sebagian. Kita perlu cara melihat yang lain, yang tentunya akan memberikan angka lain pula sebagai tandingan. Kadangkala, kita bisa mendapatkannya dari laporan utuh seperti hasil Sakernas ini. Tidak perlu bikin survei baru. Cukup lihat metodologinya dan banding-bandingkan hasilnya. Kontradiksinya akan tampak.

Saya senang dengan angka walaupun tidak terlalu ahli. Namun, lebih senang mengutak-utiknya untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh. (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Mengapa Shopee Affiliate Menjadi Primadona Kerja Sampingan Mahasiswa?

Dari Rob sampai COP: Dilema-Dilema Keadilan Iklim

Jalan Rusak: Ujian Keseriusan Tata Kelola Infrastruktur Daerah

Watak Feodalisme dan Patriarki Menyuburkan Praktik “Child Grooming”

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article SIDANG TPPU--Jaksa membacakan replik kasus pencucian uang terdakwa Gus Yazid dan Andhi Nur Huda di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (12/8/2026). (bae) Jaksa: Gus Yazid Terima Duit Rp20 Miliar Atau Gak, Tetap Dijerat TPPU
Next Article DUTA BACA--Duta Baca Semarang menerima penghargaan yang digelar dalam acara yang digekar di Gedung Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Rabu (12/8/2026). (ist) 4 Duta Baca Semarang Terpilih, Ada Siswa SD hingga Mahasiswa

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PESTA BUAH--Gajah Sumatera di Semarang Zoo bernama Zella menyantap tumpengan buah saat Hari Gajah Sedunia. (ist)

Hari Gajah Sedunia, Zella Semarang Zoo Pesta Tumpengan Buah

PENGUKUHAN PASKIBRAKA--Anggota Paskibraka 2026 memberi hormat kepada Wali Kota Semarang saat acara pengukuhan di Ruang Lokakrida Balaikota Semarang, Rabu (12/8/2026). (ist)

27 Paskibraka Semarang Dikukuhkan, Agustina Minta Jadi Agen Anti-Bullying

DUTA BACA--Duta Baca Semarang menerima penghargaan yang digelar dalam acara yang digekar di Gedung Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Rabu (12/8/2026). (ist)

4 Duta Baca Semarang Terpilih, Ada Siswa SD hingga Mahasiswa

Ideologi Angka dan Realitas Sebagian

SIDANG TPPU--Jaksa membacakan replik kasus pencucian uang terdakwa Gus Yazid dan Andhi Nur Huda di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (12/8/2026). (bae)

Jaksa: Gus Yazid Terima Duit Rp20 Miliar Atau Gak, Tetap Dijerat TPPU

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Ada Semangat Diponegoro dalam Aksi Penolakan Penambangan di Lereng Gunung Mrico

Juni 23, 2026
InfoOpini

Musyawarah di Media Sosial Hanya Ilusi Belaka?

Juli 13, 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah sebenarnya punya niat baik: anak sekolah kenyang, cerdas, dan sehat. Tapi realitanya, justru banyak siswa keracunan massal di berbagai daerah. Programnya keren di pidato, tapi di lapangan? Bisa bikin perut mules berjamaah.
Opini

Makan Bergizi Gratis, Tapi Rakyatnya Masuk IGD

September 21, 2025
Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Jatim, roboh.
Opini

Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita

Oktober 7, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ideologi Angka dan Realitas Sebagian
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?