BACAAJA, SEMARANG – Bantuan air bersih mulai mengalir ke Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, setelah sumber air yang selama ini menjadi tumpuan warga mulai mengering.
Mirisnya, satu tangki berisi sekitar 5.000 liter air yang didroping ke wilayah tersebut diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan warga selama sehari.
Lurah Jabungan, Muhammad Jhasani mengatakan, kondisi tersebut terjadi di tengah kemarau yang membuat debit sumber air di kawasan Sendang, sekitar hutan Penggaron terus menurun.
Menurutnya, sejak beberapa waktu lalu aliran air ke permukiman warga memang mulai mengecil. Namun, kondisi terparah baru terasa bulan ini ketika sumber air yang selama ini digunakan warga untuk kebutuhan konsumsi akhirnya berhenti mengalir. “Mulai bulan ini puncaknya. Sumber air yang selama ini digunakan warga untuk konsumsi sudah berhenti mengalir sama sekali,” ujar Jhasani, Senin (3/8/2026).
Baca juga: Jaringan PDAM Semarang Mulai Masuk, Dua RW di Jabungan Masih Rawan Kekeringan
Sumber air tersebut selama ini dialirkan ke tandon yang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, karena debit air dari kawasan Sendang semakin kecil, tandon yang sebelumnya menjadi andalan warga kini tak lagi terisi.
Kondisi itu membuat warga terpaksa mengandalkan bantuan air bersih. Salah satunya melalui dropping air dari PMI Kota Semarang. “Yang dari PMI tadi satu tangki, sekitar 5.000 liter. Itu kemungkinan hanya cukup untuk beberapa hari,” katanya.
Warga terdampak tidak hanya berada di satu wilayah. Jhasani menyebut sedikitnya tiga RW, yakni RW 3, RW 4, dan RW 5, turut merasakan dampak menurunnya debit sumber air.
Untuk RW 3, jumlah warga yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 250 hingga 300 KK. Wilayah tersebut terdiri dari tiga RT dengan jumlah warga sekitar 50 hingga 100 KK di masing-masing RT. “Kalau satu RW di RW 3, perkiraannya sekitar 250 sampai 300 KK,” jelasnya.
Dua Tanki
Sementara itu, dropping air berikutnya juga telah disiapkan untuk RW 4. Sebanyak dua tangki air bersih dijadwalkan dikirim oleh Kodim pada pagi hari berikutnya. “Jadi minggu ini ada tiga tangki. Satu dari PMI dan dua dari Kodim untuk RW 4,” ujar Jhasani.
Untuk RW 5, pemerintah kelurahan masih berkoordinasi dengan warga untuk memastikan kebutuhan air bersih sekaligus menentukan titik distribusi apabila bantuan kembali diperlukan.
Di tengah keterbatasan air, warga pun harus memilah kebutuhan. Air dari tandon diprioritaskan untuk konsumsi, sedangkan kebutuhan lain seperti mencuci pakaian dilakukan menggunakan air sungai yang masih mengalir meski debitnya sedikit. “Untuk konsumsi mereka mengandalkan air dari tandon. Kalau untuk mencuci baju, mereka menggunakan air sungai karena masih ada sedikit air,” katanya.
Baca juga: Ancaman Kekeringan di Semarang Bukan Cuma karena Kemarau
Jhasani mengatakan kondisi serupa kemungkinan bisa semakin parah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Sebab, debit sumber air diperkirakan baru akan kembali meningkat setelah musim hujan tiba.
“Biasanya setelah musim hujan. Karena memang saat kemarau debitnya menurun. Kalau kemaraunya panjang, kemungkinan kebutuhan dropping air bersih di tiga RW itu akan semakin banyak,” ungkapnya.
Meski demikian, kekeringan saat ini belum sampai mengganggu kebutuhan air untuk lahan pertanian. Menurut Jhasani, saluran irigasi untuk sawah masih tetap mengalir. Persoalan utama justru terjadi pada sumber air yang digunakan warga untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
“Kalau untuk sawah, saluran pengairannya masih mengalir. Yang sudah habis itu air untuk konsumsi warga karena debitnya sudah sangat menurun,” pungkasnya.
Kemarau memang datang setiap tahun. Tapi kalau satu tangki air hanya bertahan sehari, yang benar-benar sedang diuji bukan cuma cuaca, melainkan juga seberapa cepat bantuan bisa mengalir sebelum keran harapan ikut mengering. (dul)

