BACAAJA, JAKARTA- Fenomena sekolah dasar negeri (SDN) yang kekurangan siswa baru mendapat perhatian Komisi X DPR RI. Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani menilai, kondisi tersebut tidak bisa dipandang hanya dari sisi menurunnya minat masyarakat terhadap sekolah negeri.
Menurut Ari, sapaan akrabnya, ada banyak faktor yang saling berkaitan hingga membuat sejumlah SD negeri kini kesulitan mendapatkan peserta didik baru. “Fenomena sekolah negeri yang jumlah siswanya sangat sedikit bukan semata-mata karena minat masyarakat terhadap sekolah tersebut menurun,” kata Ari, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, penurunan angka kelahiran menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, perpindahan penduduk, persebaran sekolah yang belum proporsional, hingga kualitas dan daya saing masing-masing satuan pendidikan juga ikut memengaruhi kondisi tersebut.
Baca juga: Saat SD Negeri Mulai Kehilangan Siswa
Karena itu, Ari meminta pemerintah tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memetakan kondisi pendidikan di setiap daerah secara akurat. “Dengan data yang tepat, kebijakan yang diambil akan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Komisi X DPR dikatakannya, akan mendorong pemerintah melakukan penataan ulang distribusi sekolah secara hati-hati tanpa mengabaikan hak anak memperoleh akses pendidikan.
Sejumlah Opsi
Beberapa opsi yang dinilai perlu dikaji antara lain penggabungan sekolah dengan jumlah murid sangat sedikit, peningkatan mutu pembelajaran, pemerataan distribusi guru, hingga penguatan sarana dan prasarana pendidikan.
Namun, Ari mengingatkan seluruh kebijakan tersebut harus melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar solusi yang diambil tidak hanya berorientasi pada efisiensi anggaran, tetapi juga tetap menjamin kualitas layanan pendidikan.
Sorotan terhadap sekolah negeri yang sepi murid menguat setelah SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, hanya menerima dua siswa baru pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (13/7/2026).
Baca juga: Pemkot Semarang Siapkan Jurus Sikapi SD Negeri Sepi Peminat
Sekolah yang memiliki delapan guru dan sekitar 40 siswa aktif itu tetap menyambut kedua murid baru dengan antusias. Meski jumlahnya minim, para guru memastikan pelayanan pendidikan tetap berjalan maksimal.
Fenomena serupa kini mulai muncul di berbagai daerah dan menjadi sinyal bahwa pemerintah perlu menyusun strategi baru dalam pemerataan layanan pendidikan di tengah perubahan demografi masyarakat.
Bangku-bangku sekolah sebenarnya masih kokoh berdiri. Yang mulai berubah justru peta penduduk dan jumlah anak usia sekolah. Kalau kebijakan masih memakai cara lama, jangan heran kalau nanti yang paling ramai di SD bukan ruang kelasnya, melainkan ruang guru. (tebe)

