BACAAJA, SEMARANG – Dunia medis terus berkembang dengan menghadirkan berbagai teknologi canggih untuk mendeteksi penyakit sejak dini. Mulai dari pemeriksaan laboratorium hingga alat pemindai berteknologi tinggi, semuanya dirancang agar penyakit bisa diketahui lebih cepat sehingga peluang kesembuhan pasien semakin besar. Namun di balik kemajuan tersebut, para ilmuwan juga menemukan fakta menarik bahwa sejumlah hewan ternyata memiliki kemampuan alami yang sulit ditandingi oleh mesin.
Kemampuan itu berasal dari indra penciuman yang sangat tajam. Beberapa hewan mampu mengenali perubahan aroma tubuh manusia yang muncul akibat penyakit tertentu. Temuan inilah yang kemudian mendorong banyak penelitian untuk memanfaatkan hewan sebagai pendeteksi penyakit, mulai dari kanker hingga tuberkulosis. Meski sebagian masih berada dalam tahap riset, hasilnya menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan.
1. Tikus Dilatih Mengenali Aroma Kanker Paru-Paru
Selama ini tikus lebih dikenal sebagai hama yang sering merusak makanan maupun perabotan rumah. Selain itu, hewan pengerat ini juga kerap dikaitkan dengan penyebaran berbagai penyakit sehingga keberadaannya sering dihindari manusia.
Di balik citra buruk tersebut, tikus ternyata memiliki kemampuan penciuman yang sangat sensitif. Itulah sebabnya tikus juga sering dimanfaatkan dalam berbagai penelitian laboratorium karena mudah dilatih dan memiliki respons yang cepat terhadap rangsangan tertentu.
Salah satu penelitian yang menarik dilakukan oleh ilmuwan dari Korea Selatan pada 2021. Mereka mencoba melatih tikus untuk mengenali toluena, yaitu senyawa kimia yang diketahui dapat muncul pada napas penderita kanker paru-paru.
Selama proses pelatihan, tikus diajarkan membedakan aroma toluena dengan berbagai bau lain. Ketika berhasil mengenali aroma tersebut, tikus akan bergerak menuju papan apung yang telah disediakan sebagai bentuk respons terhadap bau yang dikenali.
Setelah melalui ratusan kali pengujian, hasil penelitian menunjukkan tikus mampu mengenali aroma toluena dengan tingkat akurasi mencapai sekitar 82 persen. Temuan ini membuka peluang baru bagi pengembangan metode deteksi penyakit berbasis penciuman hewan.
2. Lebah Punya Hidung Super Sensitif
Lebah selama ini dikenal sebagai serangga yang berperan besar dalam membantu penyerbukan tanaman. Selain menghasilkan madu, lebah juga memiliki kemampuan mengenali aroma bunga dari jarak yang cukup jauh berkat antena dan sistem penciumannya yang sangat peka.
Kemampuan tersebut ternyata tidak hanya berguna di alam. Para peneliti menemukan bahwa lebah juga mampu mengenali molekul tertentu yang berasal dari tubuh manusia. Bahkan konsentrasi molekul yang sangat kecil pun masih bisa dideteksi oleh serangga ini.
Keunggulan itu dimanfaatkan oleh desainer asal Portugal, Susana Soares, yang mengembangkan konsep alat pendeteksi penyakit menggunakan lebah. Dalam alat tersebut, napas seseorang dialirkan ke ruang khusus yang berisi lebah.
Apabila lebah mengenali aroma yang telah mereka pelajari sebelumnya, serangga tersebut akan memberikan respons tertentu. Sejumlah penelitian menunjukkan lebah memiliki potensi membantu mendeteksi penyakit seperti tuberkulosis dan diabetes setelah menjalani proses pelatihan yang sesuai.
3. Anjing Sudah Lama Membantu Dunia Medis
Jika berbicara soal penciuman tajam, anjing tentu menjadi salah satu hewan yang paling dikenal. Jumlah reseptor penciumannya jauh lebih banyak dibandingkan manusia sehingga mampu membedakan berbagai aroma yang nyaris tidak bisa dideteksi hidung manusia.
Kemampuan itulah yang membuat anjing selama bertahun-tahun dimanfaatkan oleh kepolisian untuk melacak narkotika, bahan peledak, hingga mencari orang yang hilang. Namun dalam beberapa tahun terakhir, peran anjing mulai berkembang ke bidang kesehatan.
Para peneliti melatih anjing dengan ratusan sampel yang berasal dari penderita kanker. Sampel tersebut bisa berupa napas, darah, urine, air liur, hingga potongan kain yang telah terpapar aroma tubuh pasien.
Melalui latihan berulang, anjing belajar mengenali pola aroma khas yang dihasilkan oleh sel kanker. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan anjing mampu mendeteksi beberapa jenis kanker dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi, sehingga potensinya terus dipelajari sebagai metode pendukung deteksi dini.
4. Semut Ternyata Bisa Mengenali Jejak Tumor
Semut sering dianggap sebagai serangga kecil yang hanya sibuk mencari makanan. Padahal, di balik ukurannya yang mungil, semut memiliki kemampuan penciuman yang sangat sensitif. Mereka mampu mengenali berbagai senyawa kimia melalui antenanya, termasuk aroma yang jumlahnya sangat sedikit.
Kemampuan tersebut sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat. Banyak orang percaya semut akan mengerubungi urine yang mengandung kadar gula tinggi sehingga sering dikaitkan dengan diabetes. Walau anggapan itu tidak bisa dijadikan dasar diagnosis medis karena banyak faktor lain yang memengaruhi kadar gula dalam urine, penelitian modern justru menemukan potensi lain yang jauh lebih menarik.
Sejumlah ilmuwan menemukan bahwa semut dapat dilatih untuk membedakan aroma yang berasal dari sel sehat dengan aroma yang dilepaskan oleh sel tumor. Dalam proses penelitian, semut diberi hadiah berupa larutan gula setiap kali berhasil mengenali sampel yang mengandung senyawa tertentu. Dengan cara tersebut, semut perlahan belajar menghubungkan aroma tumor dengan hadiah yang akan diperoleh.
Saat pengujian dilakukan, semut terlihat menghabiskan waktu lebih lama di sekitar sampel yang mengandung senyawa dari sel kanker dibandingkan sampel biasa. Respons itulah yang menjadi petunjuk bahwa semut mampu mengenali perbedaan aroma secara konsisten.
Hingga kini penelitian tersebut masih terus dikembangkan. Para ilmuwan berharap kemampuan alami semut suatu saat dapat dimanfaatkan sebagai metode pendukung untuk mendeteksi kanker secara lebih cepat, murah, dan tidak invasif.
5. Cacing Kecil Ini Tertarik pada Aroma Sel Kanker
Hewan lain yang juga menarik perhatian peneliti adalah cacing gelang mikroskopis yang hidup di tanah. Ukurannya hanya sekitar satu milimeter sehingga nyaris tidak terlihat tanpa bantuan alat pembesar. Meski kecil, cacing ini memiliki sistem penciuman yang sangat peka terhadap berbagai senyawa kimia di lingkungannya.
Dalam sebuah penelitian di Korea Selatan, puluhan cacing gelang ditempatkan di dalam wadah yang berisi sel sehat dan sel kanker. Para peneliti kemudian mengamati ke mana arah pergerakan cacing tersebut untuk mengetahui apakah ada pola tertentu yang muncul.
Hasilnya cukup mengejutkan. Sekitar 70 persen cacing lebih banyak bergerak menuju sel kanker dibandingkan sel normal. Temuan itu membuat para peneliti menduga bahwa sel kanker mengeluarkan senyawa kimia tertentu yang mudah dikenali oleh indra penciuman cacing.
Para ilmuwan memperkirakan aroma tersebut menyerupai bau bahan organik yang biasa menjadi sumber makanan cacing di alam. Karena itulah, cacing secara alami bergerak mendekati sumber aroma tersebut tanpa perlu dilatih secara rumit seperti beberapa hewan lainnya.
Penelitian mengenai cacing gelang masih terus berlanjut. Saat ini para ilmuwan berusaha mengetahui apakah kemampuan tersebut juga efektif untuk mendeteksi kanker melalui sampel darah, air liur, atau urine manusia sehingga nantinya dapat dimanfaatkan sebagai metode skrining yang lebih praktis.
6. Kemampuan Hewan Bisa Membantu, Bukan Menggantikan Dokter
Berbagai penelitian tentang tikus, lebah, anjing, semut, hingga cacing menunjukkan bahwa alam menyimpan banyak kemampuan yang belum sepenuhnya dipahami manusia. Hewan-hewan tersebut memiliki indra penciuman yang jauh lebih sensitif dibandingkan manusia sehingga mampu menangkap perubahan aroma tubuh akibat proses biologis tertentu.
Meski hasil risetnya cukup menjanjikan, para ahli menegaskan bahwa kemampuan hewan tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan medis. Teknologi laboratorium, tes pencitraan, serta diagnosis dari tenaga kesehatan tetap menjadi standar utama dalam memastikan seseorang benar-benar mengidap suatu penyakit.
Sebaliknya, kemampuan alami hewan dapat menjadi pelengkap yang membantu proses deteksi dini. Jika dikombinasikan dengan teknologi modern, bukan tidak mungkin metode ini mampu mempercepat pemeriksaan sekaligus membuat biaya skrining menjadi lebih terjangkau di masa mendatang.
Temuan-temuan tersebut juga menjadi bukti bahwa dunia hewan masih menyimpan banyak rahasia yang bermanfaat bagi manusia. Dari tikus yang mampu mengenali aroma kanker paru-paru, lebah yang peka terhadap molekul penyakit, anjing dengan penciuman luar biasa, semut yang bisa membedakan aroma tumor, hingga cacing mikroskopis yang tertarik pada sel kanker, semuanya memperlihatkan bahwa kemampuan alami makhluk hidup dapat membuka jalan bagi lahirnya inovasi baru di bidang kesehatan. (*)

