BACAAJA, SEMARANG – Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang masuk dalam peta wilayah rawan kekeringan di Jawa Tengah (Jateng).
BPBD Kota Semarang bilang, sedikitnya ada empat wilayah kelurahan rawan kekeringan paling tinggi. Keempat kelurahan itu: Rowosari, Jabungan, Wonosari, dan Cepoko Gunungpati.
Pada pertengahan Juni 2026 kemarin, Polrestabes Semarang nyalurin 19.000 liter air untuk warga Jabungan yang berada di RW 14. Warga setempat, Riki, ngakuin wilayahnya kesulitan ngakses air bersih saat memasuki musim kemarau.
Bacaaja: Kemarau Baru Mulai, Delapan Daerah Jateng Sudah Siaga Kekeringan
Bacaaja: Kemarau Baru Mulai, BPBD Jateng Sudah Kucurkan 654 Ribu Liter Air Bersih
Namun, pada tahun ini, warga bilang ada secercah harapan agar wilayahnya tak lagi kesulitan air bersih saat kemarau.
Masuknya jaringan PDAM ke sejumlah titik di Jabungan bikin warga tak lagi terlalu khawatir. Setidaknya membuat dampak kekeringan jauh berkurang dibanding beberapa tahun lalu
Meski begitu, masih ada dua wilayah yang belum sepenuhnya menikmati layanan air bersih, yakni RW 4 dan RW 5.
Lurah Jabungan, Muhammad Jhasani, mengatakan dua RW tersebut masih menjadi titik rawan kekeringan karena belum seluruh warganya memiliki sambungan PDAM.
“Untuk saat ini kekeringan masih terjadi di RW 4 sama RW 5 karena dua RW itu belum tersalurkan PDAM. Kalau RW 1, RW 2, dan RW 3 sudah ter-cover, sehingga kondisi kekeringan sekarang tidak separah dulu,” katanya saat ditemui di Jabungan, Senin (29/6/2026).

Jhasani menjelaskan, perluasan jaringan air bersih terus dilakukan. Tahun ini, sebanyak 102 kepala keluarga di Kelurahan Jabungan mendapatkan sambungan PDAM baru melalui program bantuan pemerintah.
“Program yang baru ada 102 pelanggan atau kepala keluarga. Sambungan tersebar mulai RW 1 sampai RW 7. Memang di RW 4 baru dua pelanggan yang bisa disambungkan karena menyesuaikan kriteria penerima,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan PDAM menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi dampak kekeringan yang selama ini rutin terjadi setiap musim kemarau.
Sebelum jaringan air bersih masuk, warga kerap bergantung pada bantuan distribusi air menggunakan truk tangki dari PDAM maupun PMI.
“Kalau dulu setiap kemarau kami sering mengajukan bantuan tangki air, baik ke PDAM maupun PMI. Sekarang kondisinya mulai berkurang karena sebagian wilayah sudah mendapatkan sambungan air bersih,” jelasnya.
Meski kondisi mulai membaik, Pemerintah Kelurahan Jabungan tetap menyiapkan langkah antisipasi jika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Salah satunya dengan menyiapkan tandon air di RW 4. Jika terjadi kekeringan, tandon tersebut akan diisi melalui bantuan distribusi air bersih sehingga warga tidak perlu mengambil air dari sungai.
“Kalau memang nanti masih ada kekeringan, kami akan minta bantuan suplai air untuk mengisi tandon. Jadi warga tidak perlu mengambil air dari sungai yang kebersihannya juga belum tentu terjamin,” katanya.
Sementara itu, salah seorang warga Jabungan, Ida (34), mengaku kehadiran jaringan PDAM membuat warga jauh lebih tenang menghadapi musim kemarau.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada PDAM, jadi tidak sekhawatir dulu,” ujarnya.
Ia berharap perluasan jaringan PDAM terus dilakukan hingga menjangkau seluruh wilayah Jabungan, terutama RW 4 dan RW 5 yang hingga kini masih menjadi titik rawan kekeringan saat musim kemarau. (dul)

