BACAAJA, SULAWESI UTARA – Kemunculan ikan purba Coelacanth di perairan Sulawesi Utara kembali bikin dunia penelitian heboh. Spesies yang dijuluki “fosil hidup” itu ditemukan lagi setelah penemuan sebelumnya di Gorontalo pada awal 2025.
Kali ini, ikan langka bernama ilmiah Latimeria menadoensis tersebut muncul di kawasan Pulau Siladen, Kota Manado, pada Jumat, 26 Juni 2026.
Penemuan terbaru ini menambah daftar bukti bahwa perairan utara Sulawesi masih menjadi rumah penting bagi salah satu makhluk laut paling misterius di dunia.
Meski berasal dari spesies yang sama, penemuan tahun ini punya cerita berbeda dibanding kasus yang terjadi di Gorontalo beberapa bulan lalu.
Pada Januari 2025, seekor Coelacanth ditemukan nelayan di perairan Desa Imana, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara.
Saat itu, ikan sepanjang sekitar satu meter dengan bobot mencapai 41 kilogram ditemukan dalam kondisi sudah mati.
Spesimen tersebut kemudian diamankan untuk kepentingan penelitian ilmiah yang hingga sekarang masih terus berlangsung.
Sementara penemuan terbaru terjadi di kawasan Pulau Siladen, salah satu destinasi wisata bahari yang berada di sekitar Taman Nasional Bunaken.
Ikan itu ditemukan oleh nelayan yang sedang memancing sebelum akhirnya foto dan videonya menyebar luas di media sosial.
Kemunculan Coelacanth memang selalu menarik perhatian publik karena keberadaannya sangat langka dan penuh misteri.
Tak sedikit orang menyebut ikan ini sebagai hewan purba yang seolah menolak punah meski telah hidup sejak ratusan juta tahun silam.
Ketua International Coelacanth Research Center and Museum, Prof Kawilarang W.A. Masengi, membenarkan adanya penemuan terbaru tersebut.
Menurutnya, setelah laporan diterima, pihak Balai Taman Nasional Bunaken langsung bergerak untuk mengamankan spesimen tersebut.
Saat ini, ikan tersebut dititipkan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Manado, untuk kepentingan lebih lanjut.
Berbeda dengan kasus di Gorontalo yang sudah menjadi objek penelitian sejak awal, penyebab kemunculan Coelacanth di Pulau Siladen masih menjadi tanda tanya.
Para peneliti belum mengetahui mengapa ikan yang biasanya hidup di perairan dalam itu bisa muncul hingga dekat permukaan laut.
Fenomena tersebut menjadi salah satu aspek yang kemungkinan akan dipelajari dalam penelitian berikutnya.
Bagi kalangan ilmuwan, setiap penemuan Coelacanth selalu membawa peluang baru untuk memahami kehidupan spesies langka tersebut.
Penelitian terhadap ikan temuan Gorontalo sendiri mencakup berbagai aspek, mulai dari genetika hingga struktur anatomi tubuhnya.
Tim peneliti juga memeriksa isi perut, bentuk sisik, lubang hidung, serta bagian kepala menggunakan teknologi endoskopi dan CT-Scan.
Langkah itu dilakukan untuk mengungkap lebih banyak informasi tentang pola makan dan karakter biologis Coelacanth yang selama ini masih minim diketahui.
Penemuan terbaru di Pulau Siladen diperkirakan bakal menambah data penting mengenai persebaran Latimeria menadoensis di Sulawesi Utara.
Semakin banyak temuan yang tercatat, semakin besar pula peluang ilmuwan memahami perilaku dan habitat asli ikan purba tersebut.
Coelacanth sendiri pertama kali menarik perhatian dunia internasional pada 1938 setelah spesies serupa ditemukan di Afrika Selatan.
Kala itu, banyak ilmuwan terkejut karena ikan tersebut sebelumnya diyakini sudah punah sekitar 70 juta tahun lalu.
Penemuan di Indonesia baru terjadi pada 1997, tepatnya di wilayah perairan Manado, dan kemudian diidentifikasi sebagai spesies berbeda bernama Latimeria menadoensis.
Sejak saat itu, Sulawesi Utara dikenal sebagai salah satu habitat penting bagi keberlangsungan ikan purba tersebut.
Penemuan di Gorontalo pada 2025 dan kemunculan kembali di Pulau Siladen tahun ini semakin memperkuat dugaan tersebut.
Para peneliti berharap, data baru dari dua peristiwa itu bisa membuka tabir kehidupan Coelacanth yang masih menyimpan banyak misteri.
Di balik bentuk tubuhnya yang kuno, ikan ini menjadi saksi hidup perjalanan evolusi yang berlangsung selama ratusan juta tahun.
Tak heran jika setiap kemunculannya selalu menjadi kabar besar, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi komunitas ilmiah dunia yang terus berusaha memahami rahasia kehidupan bawah laut. (*)

