BACAAJA, SEMARANG – “Duluan mana, 19 juta lapangan kerja atau rupiah tembus Rp19 ribu?” Kalimat itu terus diteriakkan mahasiswa saat menggelar aksi di depan Kantor Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, Jumat (5/6/2026).
Pertanyaan yang terdengar nyelekit itu jadi salah satu sorotan utama dalam demo Aliansi BEM SI Jawa Tengah yang menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini.
Buat mahasiswa, kalimat tersebut bukan cuma sindiran biasa. Mereka menilai masyarakat mulai menunggu bukti nyata dari berbagai janji ekonomi pemerintah yang selama ini digaungkan.
Koordinator Wilayah BEM SI Jawa Tengah, Kailani Rizqy Pratama, mengatakan kondisi ekonomi sekarang bikin banyak masyarakat mulai kehilangan rasa optimistis.
“Pemerintah pernah menjanjikan 19 juta lapangan pekerjaan. Sekarang masyarakat melihat rupiah terus melemah. Maka muncul pertanyaan sederhana, yang lebih dulu terwujud itu yang mana?” katanya saat aksi.
Menurut Kailani, pelemahan rupiah bukan sekadar urusan pasar atau angka di layar monitor. Dampaknya disebut langsung terasa ke kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mulai dari harga barang yang berpotensi naik, biaya produksi makin mahal, sampai daya beli masyarakat yang ikut tertekan.
“Harga barang bisa naik, biaya produksi bertambah, dan pada akhirnya rakyat kecil yang paling dulu merasakan dampaknya,” ujarnya.
Dalam aksi yang berlangsung hampir satu jam itu, mahasiswa juga menyinggung soal kondisi APBN, investasi, sampai menurunnya kepercayaan publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.
Presiden BEM Polines, Kevin Priambodo, menilai pemerintah terlalu sering tampil optimistis tanpa diiringi hasil nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Silakan optimistis, tapi masyarakat juga ingin lihat hasilnya. Jangan setiap ada masalah, jawabannya cuma semuanya akan baik-baik saja,” katanya.
Kevin menegaskan aksi tersebut bukan buat mencari keributan ataupun memicu krisis seperti 1998.
Justru menurutnya, mahasiswa sedang mencoba memberi “alarm” lebih awal supaya pemerintah lebih peka terhadap kondisi ekonomi yang mulai bikin masyarakat waswas.
“Kami tidak ingin reformasi jilid dua. Kami tidak ingin krisis. Karena itu kami mengingatkan sekarang, sebelum semuanya terlambat,” ujarnya.
Nggak cuma demo, mahasiswa juga memberi tenggat waktu 18 hari kepada pemerintah buat menunjukkan langkah konkret memperbaiki kondisi ekonomi.
Kalau nggak ada respons yang dianggap serius, mereka mengancam bakal bikin konsolidasi mahasiswa yang lebih besar dari berbagai daerah.
“Ini bukan soal mahasiswa melawan pemerintah. Ini soal masyarakat yang ingin ekonominya lebih baik. Kalau bukan sekarang kita bicara, kapan lagi?” pungkas Kevin. (dul)

