BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng terus memperkuat ekosistem halal di sektor peternakan lewat peningkatan kompetensi Juru Sembelih Halal (Juleha).
Sampai 2026 ini, tercatat hampir 706 juru sembelih sudah mengikuti bimbingan teknis maupun sertifikasi kompetensi yang digelar Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jateng.
Pokja Kesehatan Masyarakat Veteriner Distannak Jateng, Diana Dwie Ariantie mengatakan, program pelatihan Juleha mulai digencarkan sejak 2021 hingga 2022 untuk mendukung penguatan ekonomi syariah di Jateng.
“Dari 2021 sampai 2026 ini, sudah hampir 700-an yang mengikuti bimtek maupun sertifikasi kompetensi,” ujar Diana di Tarubudaya-Ungaran, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: PDIP Jateng Kurban 17 Sapi dan 20 Kambing, Sumanto: Kami Salurkan ke Berbagai Wilayah
Menurutnya, keberadaan tenaga penyembelih bersertifikat sekarang jadi syarat penting buat rumah potong hewan (RPH) maupun unit usaha unggas yang ingin mengurus sertifikasi halal. Minimal, setiap rumah potong harus punya dua tenaga penyembelih yang sudah tersertifikasi.
Program ini juga masuk prioritas pemerintahan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen dalam penguatan ekonomi syariah untuk program pembangunan daerah 2027.
Tahun 2026 sendiri, Distannak Jateng ditarget melatih 180 peserta. Sampai Mei, sudah ada 120 orang yang ikut pelatihan, masing-masing 60 peserta di Kabupaten Kudus dan 60 peserta di Ungaran menjelang Iduladha.
Sertifikasi Kompetensi
Selain pelatihan, tahun ini juga ditargetkan ada 100 juru sembelih yang mengikuti sertifikasi kompetensi resmi lewat Tempat Uji Kompetensi (TUK) yang terhubung dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Pertanian dan BNSP.
“Di Jawa Tengah, TUK yang berhubungan langsung dengan LSP Pertanian ada di Dinas Pertanian dan Peternakan,” jelas Diana. Ia menambahkan, sertifikasi ini makin penting karena bukan cuma dibutuhkan di Indonesia, tapi juga jadi syarat tenaga kerja di luar negeri.
Diana juga mencontohkan program unik dari Kabupaten Brebes yang mendorong gerakan “Satu Desa Satu Juleha Bersertifikat”. Bahkan, daerah itu ikut mendukung pembentukan kantor DPD Juleha.
“Harapannya setiap desa punya minimal satu juru sembelih bersertifikat,” katanya. Salah satu peserta bersertifikat, Ahmad Bashit mengaku pelatihan itu bikin dirinya lebih paham soal penyembelihan halal dan ihsan.
Baca juga: Kurban Sendiri Atau Patungan, Mana Lebih Mantap Buat Iduladha
Bukan cuma soal sah secara agama, tapi juga bagaimana memperlakukan hewan dengan baik sebelum disembelih. “Artinya memperlakukan binatang yang akan disembelih dengan penanganan yang baik,” ujar warga Gunungpati, Kota Semarang itu.
Ia menjelaskan, hewan yang akan disembelih wajib dijauhkan dari kondisi stres. Bahkan sekadar mengasah pisau pun harus dilakukan jauh dari pandangan hewan.
Setelah proses penyembelihan selesai, bagian daging, jeroan, kulit, dan lainnya juga harus dipisahkan supaya meminimalkan kontaminasi bakteri dan menjaga kualitas daging tetap baik. Tak cuma praktik penyembelihan, para Juleha juga mulai aktif turun ke musala dan masjid buat berbagi edukasi soal penyembelihan halal dan ihsan.
Karena ternyata urusan kurban bukan cuma tentang siapa yang pegang pisau paling berani. Tapi juga siapa yang paling paham cara menghormati kehidupan sampai detik terakhir. (tebe)

