Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: LPG Bakal Diganti CNG, Sudah Tahu Bedanya?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

LPG Bakal Diganti CNG, Sudah Tahu Bedanya?

Di mata pemerintah, salah satu daya tarik terbesar CNG adalah soal harga. Bahlil menyebut penggunaan CNG berpotensi lebih murah sekitar 30 sampai 40 persen dibanding LPG subsidi.

Nugroho P.
Last updated: Mei 17, 2026 2:47 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
Beda LPG dan CNG.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Wacana penggantian gas elpiji atau LPG dengan compressed natural gas alias CNG kembali bikin ramai pembicaraan. Banyak orang mulai penasaran setelah pemerintah membuka kemungkinan penggunaan tabung CNG ukuran 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG subsidi yang selama ini dipakai jutaan rumah tangga.

Topik ini langsung jadi perhatian karena LPG 3 kilogram sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Mulai dari dapur rumah sederhana sampai warung makan pinggir jalan, semuanya bergantung pada tabung melon tersebut untuk aktivitas memasak.

Namun di balik kebiasaan itu, pemerintah ternyata menghadapi persoalan besar soal biaya impor energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun dan sebagian besar masih dipenuhi lewat impor.

Artinya, Indonesia masih harus membeli pasokan gas dari luar negeri dalam jumlah sangat besar. Kondisi itu membuat negara mengeluarkan devisa hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan LPG masyarakat.

Karena itu, pemerintah mulai melirik CNG sebagai opsi baru yang dianggap lebih hemat sekaligus memanfaatkan gas bumi dalam negeri yang jumlahnya cukup melimpah. Dari situlah muncul rencana uji coba penggunaan tabung CNG 3 kilogram untuk rumah tangga.

Meski sama-sama berbentuk gas dan dipakai untuk memasak, LPG dan CNG sebenarnya punya perbedaan yang cukup jauh. Banyak masyarakat yang selama ini mengira keduanya sama, padahal sumber energi dan cara penyimpanannya berbeda total.

LPG atau liquefied petroleum gas berasal dari hasil olahan minyak bumi yang terdiri dari campuran propana dan butana. Gas ini disimpan dalam bentuk cair di dalam tabung dengan tekanan relatif rendah.

Sementara itu, CNG atau compressed natural gas berasal dari gas alam yang mayoritas mengandung metana. Berbeda dari LPG, CNG tetap disimpan dalam bentuk gas dengan tekanan yang jauh lebih tinggi.

Karena itulah tabung CNG membutuhkan spesifikasi keamanan berbeda dibanding tabung LPG biasa. Tekanan penyimpanan CNG bahkan bisa mencapai sekitar 200 hingga 250 bar agar volume gasnya lebih ringkas.

Di mata pemerintah, salah satu daya tarik terbesar CNG adalah soal harga. Bahlil menyebut penggunaan CNG berpotensi lebih murah sekitar 30 sampai 40 persen dibanding LPG subsidi.

Selama ini harga LPG sangat dipengaruhi pasar global karena Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika harga minyak dunia naik atau rupiah melemah, beban subsidi pemerintah ikut melonjak.

Sementara CNG dinilai lebih stabil karena sumbernya berasal dari gas bumi domestik. Pemerintah berharap penggunaan gas dalam negeri bisa membantu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi tekanan terhadap APBN.

Meski terdengar menjanjikan, masyarakat mulai bertanya-tanya soal keamanan penggunaan CNG di rumah. Sebab banyak orang belum terbiasa dengan tabung gas bertekanan tinggi seperti yang digunakan pada CNG.

Dari sisi karakteristik, LPG dan CNG memang punya perilaku berbeda saat bocor. LPG lebih berat dari udara sehingga gasnya cenderung mengendap di lantai atau ruangan tertutup. Inilah yang membuat risiko ledakan bisa meningkat jika terkena api.

Sebaliknya, CNG justru lebih ringan dari udara. Saat terjadi kebocoran, gasnya cenderung cepat naik dan menyebar ke udara terbuka sehingga risiko penumpukan gas lebih rendah dibanding LPG.

Namun karena tekanannya jauh lebih tinggi, tabung CNG harus dibuat dengan standar keamanan yang lebih ketat. Pemerintah saat ini masih melakukan pengujian desain tabung CNG ukuran 3 kilogram agar aman dipakai rumah tangga.

Selain soal keamanan, tantangan terbesar lain datang dari infrastruktur. Tidak semua daerah di Indonesia punya jaringan distribusi gas bumi atau fasilitas pengisian CNG yang memadai.

Artinya, jika nanti program ini benar-benar diterapkan luas, pemerintah harus menyiapkan sistem distribusi baru yang tidak sederhana. Mulai dari stasiun pengisian, jalur distribusi, hingga penyediaan tabung khusus.

Masyarakat juga kemungkinan perlu menyesuaikan peralatan rumah tangga seperti regulator dan kompor. Meski pemerintah memastikan tidak harus mengganti kompor sepenuhnya, tetap ada proses adaptasi yang perlu dilakukan.

Karena itu, rencana penggantian LPG dengan CNG diperkirakan tidak akan berjalan cepat. Pemerintah saat ini masih berada pada tahap kajian dan uji coba sebelum nantinya diputuskan apakah sistem tersebut benar-benar siap diterapkan secara luas.

Di media sosial sendiri, respons masyarakat masih campur aduk. Ada yang mendukung karena berharap harga gas jadi lebih murah dan subsidi negara berkurang. Namun ada juga yang khawatir soal keamanan serta kesiapan distribusi di daerah.

Bagi sebagian warga, perubahan dari LPG ke CNG bukan cuma soal ganti tabung gas biasa. Ini menyangkut kebiasaan dapur jutaan keluarga Indonesia yang sudah bertahun-tahun akrab dengan tabung melon hijau.

Meski jalannya masih panjang, satu hal mulai terlihat jelas. Pemerintah sedang mencari cara supaya kebutuhan energi rumah tangga tidak lagi terlalu bergantung pada impor, dan CNG perlahan mulai diposisikan sebagai calon “pemain baru” di dapur masyarakat Indonesia. (*)

You Might Also Like

Drama Politik PPP Memanas, DPW Desak Ketum Mardiono Copot Gus Yasin

Catat Tanggalnya! Dapur Marhaen PDIP Rutin Digelar Tiap Tanggal 10 Serempak di Jateng

Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Naik Penyidikan, Siapa jadi Tersangka?

Diabetes Jadi “Langganan” Peserta Skrining BPJS Semarang

Banjir Datang, Pemprov Jamin Kebutuhan Sanitasi Pengungsi

TAGGED:bahlilCNGLGlpgLPG diganti CNG
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Sebulan Full Muter Jateng, RIKAS Bikin Gamer Nggak Sempat Rebahan
Next Article Bunga Pinjaman Mau Dipangkas, Begini Suara OJK

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kabinet Prabowo Tumbang Bergiliran, Rumah Sakit Jadi Tempat Singgah Mendadak

Bukan Cuma Nama, Jurusan Teknik Kini Ikut Ganti Wajah Resmi

Rendang Terbang ke Makkah, Auto Jadi Obat Rindu Jamaah Haji

Paus Tutul Terdampar di Pantai

Eh Rumah Banyak Tikus? Begini Cara Alami Mengusirnya, Dijamin Ampuh

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Mahasiswa Semarang turun jalan tolak KUHAP baru yang dinilai menginjak-injak HAM, Jumat (21/11).
Info

Mahasiswa Semarang Turun Jalan, Tolak KUHAP: Ini Nginjek-injek HAM

November 21, 2025
Ekonomi

Cukai Seret, Target Tinggi: Jurus Purbaya “Ajak Damai” Rokok Ilegal

Januari 18, 2026
Ilustrasi bencana banjir. (grafis/wahyu)
Info

Banjir Bandang Sumatera, Delapan Perusahaan Dijatuhi Sanksi

Desember 23, 2025
Ilustrasi tindak pidana suap dan korupsi. (narakita/grafis/tera)
Hukum

Ada Kasus Baru di Semarang, Kejari Kulik Dugaan Korupsi BUMD Rugikan Negara Rp5,2 Miliar

Agustus 29, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: LPG Bakal Diganti CNG, Sudah Tahu Bedanya?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?