Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dialek Semarangan Sangat Egaliter, “Ndasmu” Pun Dianggap Wajar
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Dialek Semarangan Sangat Egaliter, “Ndasmu” Pun Dianggap Wajar

Kalau orang Solo atau Jogja dengar kata “ndasmu”, mungkin langsung mikir lagi diajak ribut. Tapi beda cerita kalau sudah masuk tongkrongan wong Semarang. Di kota lumpia ini, “ndasmu” justru bisa meluncur santai di tengah obrolan tanpa ada yang baper.

T. Budianto
Last updated: Mei 15, 2026 11:22 am
By T. Budianto
7 Min Read
Share
MEMBAHAS DIALEK: Pemerhati bahasa Jawa Semarangan, Hartono Samidjan menjelaskan ciri khas dialeg Semarang saat ditemui di rumahnya, Kamis (14/5/2026). (bae)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Dialek Semarangan bisa dibilang unik. Pemerhati bahasa Semaranganan, Hartono Samidjan, menyebut cara ngomong wong Semarang punya ciri khas yang susah ditemukan di daerah Jawa lain.

Menurut Hartono, yang paling kentara justru semangat egaliternya. Wong Semarang, kata dia, cenderung ngomong tanpa banyak sekat unggah-ungguh seperti budaya Jawa pada umumnya.

“Semangat egaliterismenya tinggi. Karena Semarang ini mayoritas kelas pekerja. Kota industri, kota pelabuhan, pusat kereta api, terus jauh dari keraton,” katanya.

Di budaya Jawa lain, seperti Solo, tata bahasa biasanya ketat. Ada tingkatan ngomong ke orang tua, atasan, sampai orang yang dihormati. Tapi di Semarang, gaya itu lebih cair.

Baca juga: Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri

“Walaupun orang Semarang itu tidak kenal basa krama, menyiasatinya dengan ditambahi ‘ipun’. ‘Sirahipun’, ‘sikilipun’ itu sudah dianggap basa kalau menurut orang Semarang,” ujar penulis buku Halah Pokokmen: Kupas Tuntas Dialek Semarangan ini sambil tertawa.

Yang bikin istimewa, ada kata yang di banyak daerah Jawa dianggap kasar, tapi di Semarang malah jadi obrolan sehari-hari. Kata itu: “ndas”. “Sekasar-kasarnya orang Kedu atau orang Solo tidak pernah ngomong ‘ndasmu’. Kalau di Semarang, ‘ndasmu singkirke ngono loh’, itu biasa,” katanya.

Hartono menjelaskan, di daerah Jawa lain kata “ndas” biasanya cuma dipakai buat binatang. Misalnya “ndas pitik”, “ndas kebo”, atau “ndas wedus”. Tapi di Semarang, kata itu bisa dilempar ke orang tanpa dianggap menghina. “Kalau di Semarang biasa itu, bukan kasar itu. Itu hal yang biasa,” lanjutnya.

Kosakata Unik

Selain gaya ngomong yang ceplas-ceplos, Semarang juga punya kosakata unik. Salah satunya kata “jembet” yang dipakai buat nyebut orang penakut. “Ndak tahu asal-usulnya dari kata apa. Pokoknya, ‘wah wong jembete rak karuan’,” ucap Hartono.

Ada juga istilah “ngregudukan”. Kalau daerah lain bilang “gemruduk” atau “berbondong-bondong”, wong Semarang punya versi sendiri yang bikin lidah orang luar kadang keseleo. “Nah, itu nulisnya piye? Susah jenengan,” selorohnya.

Belum lagi istilah “graggreg”. Kata ini muncul dari suara pengeras suara rusak yang bunyinya “grag-greg grag-greg”. Lama-lama dipakai buat nyebut orang yang reseh, ribet, atau sak karepe dewe.

Hartono juga menyinggung sapaan khas Semarang seperti “nda” atau “mek” yang sampai sekarang masih sering dipakai dalam obrolan sehari-hari. “Piye nda, ora tau ngetok ig,” katanya mencontohkan.

Baca juga: Dari Tongkrongan ke Dunia Digital, Dialek Semarang Kembali Dirindukan

Hartono menegaskan alasan kenapa bahasa Semarangan layak disebut dialek, bukan sekadar logat. Sebab, ada banyak kosakata dan karakter budaya yang berbeda dari daerah Jawa lain. “Karena ada beberapa kata yang di tempat lain nggak ada. Terus egaliterisme,” jelasnya.

Menurut dia, budaya bahasa Jawa biasanya punya tingkatan yang ketat. Sementara di Semarang, aturan itu lebih longgar dan cair. “Dari situ akhirnya saya makin mantap bahwa Semarang ini ya tetap dialek sendiri walaupun masih cikal-bakalnya belum sempurna,” pungkasnya.

Buat wong Semarang, ngobrol memang nggak harus terasa resmi. Kadang makin akrab justru makin frontal. Dan mungkin di kota ini, ukuran sopan santun bukan ditentukan seberapa halus pilihan katanya, tapi seberapa tulus orangnya. Karena di Semarang, orang bisa bilang “ndasmu”, lalu lima menit kemudian tetap traktir kopi satu meja. (bae)

Kamus Semarangan : 

  • asem ik : sejenis umpatan
  • atis : dingin (minuman), sejuk (cuaca
  • asu : anjing, umpatan
  • anggak : gaya, sombong
  • atos : keras (omongan)
  • badak : bakwan
  • bakbuk : impas
  • bangjo : lampu pengatur lalu lintas
  • balangan : rombengan, barang bekas
  • banger : bau tak sedap
  • blaik : ungkapan kaget, takut, khawatir
  • brompit : sepeda motor
  • calam : bapak
  • ceng ceng po : teman akrab
  • cengli : baik
  • CS (ce es) : teman akrab
  • ciamik : bagus
  • ciak : makan
  • coa : omong besar, membual
  • coso : bojo
  • dayatsu : angkutan kota (dari merek mobil Daihatsu)
  • denyom : pacar, cewek, gadis
  • entek ting :habis tanpa sisa, kalah besar
  • gali : preman pasar atau terminal
  • gamjet : tak punya uang, bokek
  • galap : balap
  • gentho : jagoan
  • gethokmen : pura-puranya
  • gomdhe : banyak uang
  • gomom : rokok
  • gondhes : bodoh
  • gress : baru
  • he’ eh : iya atau mengiyakan
  • Ik : akhiran untuk menegaskan kondisi
  • Ita-itu : bertingkah, macam-macam
  • jelade : duapuluh lima
  • jelepuh : sepuluh
  • jemet : limapuluh
  • kahat : makan
  • kakekane : sejenis umpatan
  • kamso : bodoh, kikuk, tak bisa ikuti perkembangan
  • kangkrengane : bentuk halus dari kakekane
  • kas : panggilan akrab untuk pria
  • kemaki : sombong
  • kempling : mengkilat (barang), cantik (garis, perempuan)
  • kenthip : terpencil, jauh, tinggi
  • kolir : tak punya apa-apa, miskin
  • komble : pelacur
  • koplak : bodoh, bertindak semaunya
  • koya : bohong, menipu
  • krenyeh : jelek (kemampuan orang), kualitas rendah (barang)
  • lautan : istirahat makan siang
  • lheb : hebat
  • cup : sudah memilih, mengincar
  • mangpi : lima rupiah
  • mayan : lumayan
  • mbois : perlente
  • mentu, metu : keluar, lewat
  • mlengse : tidak pas posisinya
  • mudun : turun, datang
  • ndha : sapaan akrab
  • dhao : terkenal, ngetop, hebat
  • ndhobol : asal ngomong, omong tanpa kebenaran
  • ndholor : nalar, masuk akal
  • ndhoyong : mabuk
  • nggasruh : ngawur, tanpa nalar
  • ngekek : tertawa ngakak, tertawa lepas
  • ngerek : terkenal, kondang, mengerek (bendera)
  • ngicu : Ibu
  • ngoce : minum minuman keras
  • ngothek : bicara lantang
  • nggataki : menipu, membohongi
  • nggeblas : langsung pergi
  • nggonduk : mangkel
  • nggelap : pergi tanpa pamit, menghilang
  • ngreyen : mencoba yang baru (motor)
  • njembling : buncit (perut)
  • mbojo : pacaran
  • nyamari : mengkhawatirkan
  • nyari : merayu, mendekati orang yang ditaksir
  • nyetut : mencuri, mengambil barang orang
  • pemes : pisau silet
  • prayis : polisi
  • raimu : wajahmu (umpatan)
  • reka rekane : pura-puranya
  • reti : mengetahui
  • rewo-rewo : gerombolan
  • sakbajek : sangat banyak
  • sali : banyak uang
  • sangar : menakutkan
  • sarakke : karena
  • sebeh : bapak, ayah
  • sebehan : guna-guna
  • semeh : ibu
  • sengak : bau apek, omongan yang menyinggung perasaan
  • silir : sejuk, banyak angin
  • stel kendho : bersikap tenang
  • stin : kelereng
  • stut : sabuk, ikat pinggang
  • tek ke, utekke : otaknya, umpatan
  • tikel : berlipat
  • tinggi : mabuk berat
  • udha-undhi : imbang, hampir sama
  • ujung-ujung : silaturahmi saat lebaran
  • yangyangan : pacaran

Sumber: Buku “Halah Pokokmen: Kupas Tuntas Dialek Semarangan”

You Might Also Like

Zebra Candi Jalan Terus, Pelanggar Tetap Gaspol

Di Antara Janji Suci dan Duka: Ijab Kabul Digelar di Depan Jasad Ibu Tercinta

Kasus Dosen Untag, AKBP B Kena Pasal Berlapis

Wow! Biaya Pelatihan Calon Manajer KDMP Rp45 Juta per Orang, Paling Gede untuk Latsarmil

Tragedi Hari Natal di Merbabu: Pendaki Perempuan Tewas Tersambar Petir

TAGGED:budaya semarangdialek semaranganhartonoheadlineheadlline
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article TERSANGKA CENGENGESAN -- Dua tersangka kasus peredaran sabu-sabu (berkaus hitam) masih bisa senyum-senyum saat diserahkan penyidik polisi ke jaksa penuntut umum, Rabu (13/5/2026). (bae) Gak Ada Takut-takutnya, Tersangka Kurir Sabu 5 Kg Malah Cengengesan di Kejaksaan
Next Article Dialek Semarangan Ternyata Cuma Hidup di Lima Kecamatan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sekda Banyumas Tegaskan Tak Ajukan Pengunduran Diri, Begini Penjelasannya

Pilkades Purbalingga Siapkan Anggaran Pengamanan Rp1,3 Miliar

Utang Menumpuk Bukan Berarti Perusahaan Harus Gulung Tikar, Ada PKPU

Jateng Siapkan 10 Ribu Vaksin Rabies Gratis

Dari Coding ke Solusi Nyata, Anak Muda Jateng Adu Inovasi AI

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas dengan para kementerian teknis dalam rangka evaluasi pelaksanaan MBG, Minggu (28/9/2025) malam. Foto: dok/BiroPersKepresidenan
Nasional

Evaluasi Total MBG: Rakyat Butuh Sistem, Bukan Arahan Teknis Presiden

September 29, 2025
Ilustrasi paket kuota internet. LP2K Jateng minta operator terapkan putusan MK.
Info

LP2K Jateng Respons Putusan MK soal Kuota Hangus, Minta Operator Lakukan Ini

Juli 28, 2026
Starting XI Timnas Indonesia yang dipertandingkan melawan Taiwan, Jumat (5/9/2025) Timnas Garuda berhasil gasak Taiwan dengan skor 6-0. Foto: @TimnasIndonesia.
Sepak Bola

Pesta Gol di GBT! Timnas Indonesia Gasak Taiwan 6-0

September 6, 2025
KEMBALIKAN MAHAR--Kades Kayen, Agus Riyanto (baju batik dan berpeci) menjelaskan pengembalian mahar seleksi perangkat desa, saat bersaksi dalam sidang dugaan korupsi Bupati Pati nonaktif Sudewo di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (22/7/2026). (bae)
Hukum

Seusai OTT Sudewo, Kades di Pati Bergegas Kembalikan Mahar Seleksi Perangkat Desa

Juli 23, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dialek Semarangan Sangat Egaliter, “Ndasmu” Pun Dianggap Wajar
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?