BACAAJA, KEBUMEN- Sebanyak 22 pelajar setingkat SMK diamankan jajaran Polres Kebumen usai diduga terlibat aksi perusakan di salah satu sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Kebumen.
Peristiwa itu terjadi Kamis malam (7/5/2026) dan para pelajar kemudian diamankan saat patroli gabungan polisi pada Jumat malam berikutnya. Setelah dibawa ke Mapolres Kebumen, mereka menjalani pembinaan di Gedung Tribrata dengan melibatkan orang tua, perangkat desa, hingga pihak sekolah masing-masing.
Dari hasil pendalaman polisi, aksi tersebut diduga dipicu dendam antarsekolah yang sudah berlangsung turun-temurun. Jadi bukan karena masalah pribadi, tapi lebih karena “warisan permusuhan” dari angkatan sebelumnya yang terus dibawa ke adik kelas.
Baca juga: Saat Sekolah Nggak Lagi Aman, Negara Datang Setelah Duka
Para pelajar diduga melakukan perusakan di SMK TKM Teknik Kebumen meski sekolah itu bukan tempat mereka belajar. Dalam pembinaan, sejumlah siswa terlihat menyesali perbuatannya. Beberapa orang tua bahkan mengaku syok dan gak menyangka anak mereka ikut terlibat.
Kegiatan pembinaan dipimpin Kabagops Polres Kebumen, Mardi mewakili Kapolres Kebumen. Menurutnya, kurangnya pengawasan orang tua dan lemahnya komunikasi dalam keluarga jadi salah satu faktor yang ikut memicu masalah sosial di kalangan remaja.
Pembinaan
“Komunikasi dalam keluarga dan pengawasan penggunaan media sosial juga perlu diperhatikan,” ujarnya. Polisi memilih pendekatan pembinaan dibanding langkah yang lebih keras karena para pelajar dianggap masih punya masa depan panjang.
Meski begitu, mereka tetap dikenai wajib lapor dua kali seminggu sebagai bentuk pengawasan dan evaluasi perilaku. Selain itu, polisi juga mendorong kedua sekolah menggelar kegiatan positif bersama seperti olahraga atau pembinaan pelajar supaya hubungan antarsekolah bisa membaik.
Baca juga: Remaja Perang Sarung Tengah Malam, Rawalo Nyaris Ricuh
Pihak sekolah juga ikut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas keresahan yang muncul akibat kejadian tersebut. Di akhir kegiatan, para siswa menandatangani surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Kasus ini jadi pengingat kalau dendam yang diwariskan tanpa alasan jelas cuma bikin generasi muda sibuk menjaga ego sekolah, tapi lupa menjaga masa depannya sendiri. Karena kadang yang paling rusak dari tawuran bukan cuma kaca sekolah, tapi arah hidup anak-anak yang sebenarnya masih panjang jalannya. (tebe)

