Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Nyadran Ageng Bhumi Phala, Eskpresi Syukur dan Cinta Kasih Petani Temanggung kepada Alam
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Nyadran Ageng Bhumi Phala, Eskpresi Syukur dan Cinta Kasih Petani Temanggung kepada Alam

R. Izra
Last updated: Mei 22, 2026 3:17 pm
By R. Izra
4 Min Read
Share
Ribuan petani berbondong-bondong membawa hasil panen dalam gelaran kawasan Nyadran Ageng Bhumi Phala di Rest Area Kledung, Sabtu (2/5/2026).
Ribuan petani berbondong-bondong membawa hasil panen dalam gelaran kawasan Nyadran Ageng Bhumi Phala di Rest Area Kledung, Sabtu (2/5/2026).
SHARE

BACAAJA, TEMANGGUNG — Pagi itu, udara di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing terasa lebih hidup dari biasanya. Ribuan orang berkumpul, bukan sekadar untuk acara, tapi untuk satu hal yang lebih dalam: bersyukur dan berharap, dalam gelaran Nyadran Ageng Bhumi Phala .

Di kawasan Rest Area Kledung, prosesi Nyadran Ageng Bhumi Phala digelar dengan penuh khidmat, Sabtu (2/5/2026). Ini bukan sekadar tradisi tahunan, ini cara petani ngobrol sama alam dan Sang Pencipta.

Sejak pagi, kirab sudah dimulai dari Lapangan Desa Kledung. Warga berbondong-bondong ikut mengarak gunungan hasil bumi, tumpeng robyong, hingga tujuh kendi berisi air suci dari tujuh sumber mata air atau Sapta Tirta.

Bacaaja: Agus Gondrong Ajak Gen Z Temanggung Kenali Keris: Bukan Mistis, tapi Warisan Budaya!
Bacaaja: Rumah Terapi Gratis untuk ABK, Bupati Agus Gondrong: Bentuk Cinta Warga Temanggung

Pemandangan ini bukan cuma estetik, tapi juga penuh makna. Setiap hasil bumi yang diarak adalah simbol rasa syukur, hasil dari tanah yang mereka rawat setiap hari.

Lalu masuk ke prosesi inti: Jamas Pitu. Tujuh alat pertanian seperti cangkul, sabit, hingga srobong disucikan. Angka tujuh atau “pitu” dalam filosofi Jawa dimaknai sebagai pitulungan, harapan akan datangnya pertolongan dari Tuhan.

Di tengah semua yang sakral itu, ada juga momen yang bikin merinding sekaligus bangga. Sekitar 2.000 penari tampil bareng membawakan Tari Bangilun.

Tarian ini bukan sembarang tarian. Baru-baru ini, Bangilun resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional. Dan di momen ini, ia tampil bukan cuma sebagai hiburan, tapi sebagai identitas.

“Ini bentuk doa kami, juga cara kami menjaga budaya,” kata Basori Setyawan, perwakilan panitia.

Prosesi ditutup dengan kembul bujana, makan bareng tanpa sekat. Semua duduk sama rata, berbagi makanan, berbagi cerita. Sederhana, tapi hangat.

Di balik semua itu, ada pesan yang kuat. Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menyebut Nyadran ini bukan cuma ritual, tapi juga pengingat.

Tentang tanah yang subur, tentang leluhur yang mewariskan cara bertani, dan tentang tanggung jawab untuk menjaga semuanya.

Di wilayah yang diapit Sindoro, Sumbing, hingga Prau, pertanian bukan cuma soal kerja. Tapi soal hidup.

Dan lewat Nyadran Ageng Bhumi Phala, para petani menunjukkan satu hal: di tengah dunia yang terus berubah, mereka tetap punya cara sendiri untuk berharap, dengan doa, dengan budaya, dan dengan tanah yang mereka pijak setiap hari.

Bupati hadir tanpa alas kaki

Bupati Temanggung Agus Setyawan, yang akrab disapa Agus Gondrong, hadir di tengah massa tanpa alas kaki alias nyeker dalam tradisi agung tersebut.

“Sandalan Pak… panas, Pak!” teriak seorang petani ke arah Agus Gondrong, politikus PDIP itu.

Di atas semen yang mulai panas terkena matahari pagi, Agus Setyawan cuma tersenyum tipis. Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong itu tetap berdiri nyeker tanpa alas kaki.

“Iseh panas nang alas kok,” jawabnya santai.

Kalimat spontan itu ternyata bukan sekadar candaan. Agus memang dikenal dekat dengan kehidupan masyarakat desa dan alam pegunungan Temanggung.

Bahkan, gaya nyeker itu seperti jadi simbol bahwa dirinya nggak ingin jauh dari tanah yang selama ini menghidupi warga. Mantan Kepala Desa Campurejo tiga periode itu kemudian membuat suasana yang tadinya ramai mendadak berubah hening.

Di tengah pidatonya, Agus meminta seluruh warga berhenti bicara selama 10 detik. Bukan untuk seremoni, tapi untuk merasakan alam dan bersyukur atas kesuburan Temanggung. (*)

You Might Also Like

Wali Kota Semarang: Jadi Pemimpin Itu Bukan Cuma Gagah, Tapi Juga Rajin Baca!

Benteng Tersembunyi Cilacap Ini Simpan Cerita Gelap Bawah Tanah

Kasus Ponpes Pati: Baru 1 Korban Lapor, Lainnya Masih Diam atau Dipaksa Diam?

Gubernur Jateng Luthfi Minta Revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Dikebut

Adonan Maut Mi Nyemek Boyolali: 100 Kg Bahan Dicampur 1 Liter Cairan Pengawet Mayat

TAGGED:agus gondrongBupati Temanggungheadlinejamas pitunaydran bhumi phalapdippetanitemanggung
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Tukar Sampah Jadi Lumpia: Cara Agustina Bikin Warga Antre Bukan karena Diskon
Next Article Femega Dian, calon Ketua PAC PDIP Semarang Tengah saat berada di Panti Marhaen untuk kuti seleksi wawancara, Sabtu (2/5/2026). (bae) Kader Muda Berkarya, Antusias Masuk Arena Politik Perebutan Ketua PAC PDIP di Jateng

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SAPA LEBIH DEKAT - Dewan Komisaris PLN Icon Plus, Saifullah Mashum, bertemu dan berdialog langsung dengan insan PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah.

Sapa Lebih Dekat: Komisaris Dengarkan Aspirasi Insan PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah

KASUS TPPU--Tim jaksa penuntut umum (sisi kiri) mengikuti sidang kasus TPPU dengan terdakwa Gus Yazid (kemeja hijau), di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (9/9/2026). (bae)

Jaksa Tak Terima Gus Yazid Dihukum Ringan Setahun Bui, Nyatakan Banding

Siswa SLB Blitar Pingsan, Diduga Tahan Sakit Keracunan MBG

Influenza A Naik, Begini Bedanya dengan Covid-19

Ilustrasi judi online (judol).

Bansos Dicoret Gegara Judol, Dinsos DIY Buka Sanggahan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Bos Sritex, Iwan Setiawan duduk di kursi pesakitan mendengar pembacaan putusan kasus korupsinya di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (6/5/2026). (bae)
Hukum

Bos Sritex Diganjar Hukuman 14 Tahun Penjara, Bayar Uang Pengganti Rp677 Miliar

Mei 6, 2026
Hukum

Bukannya Ikan, Tiga Nelayan Juwana Kegep Bawa Burung Langka

Mei 5, 2026
Viral

Gunung Semeru Meletus Lagi Pagi Ini, Langit Lumajang Berubah

Desember 11, 2025
Polisi menangkap perusuh berpawakan kecil mirip pelajar dalam demo rusuh hari kedua di Jalan Pahlawan Semarang, Sabtu (30/8/2025).
Daerah

Perusuh Berperawakan Kecil Ditangkapi Polisi, Demo Panas Jilid Dua di Semarang

Agustus 30, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Nyadran Ageng Bhumi Phala, Eskpresi Syukur dan Cinta Kasih Petani Temanggung kepada Alam
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?