BACAAJA, SEMARANG- Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al Amoudi, datang ke kediaman Megawati di Menteng, Jakarta, Kamis, (9/4/2026). Pertemuan berlangsung hangat hampir dua jam, ditemani sejumlah elite PDIP seperti Ahmad Basarah dan Andi Widjajanto.
Awalnya santai. Megawati sempat nyeletuk soal anggrek putih pemberian Dubes Saudi, yang menurutnya “asli”, bukan hasil rekayasa genetika. Tapi setelah itu, obrolan langsung belok ke isu yang jauh lebih berat: geopolitik Timur Tengah.
Baca juga: Megawati Soekarnoputri: “Congrats, Mojtaba Khamenei”
Selain ucapan selamat Idulfitri, Dubes Saudi juga memberi apresiasi atas gelar doktor kehormatan Megawati dari Princess Nourah University di Riyadh. Megawati membalas dengan ucapan terima kasih, termasuk pengalaman umrahnya yang berjalan lancar.
Bahkan, dari perjalanan itu muncul ide tak biasa: usulan penanaman pohon di kawasan Arab Saudi, termasuk “pohon Soekarno”. Ide ini ternyata nyambung dengan program besar Arab Saudi yang sedang menargetkan penanaman 10 miliar pohon. Dubes Saudi pun menyambut positif, bahkan membuka peluang kolaborasi riset dan penyediaan bibit dari Indonesia.
Peran Megawati
Tapi highlight utamanya tetap soal Timur Tengah. Melalui Ahmad Basarah, disampaikan bahwa Dubes Saudi berharap Megawati bisa berperan aktif dalam merespons situasi kawasan yang sedang memanas. Bukan tanpa alasan, Megawati dinilai punya pengaruh, baik di level nasional maupun global.
Responsnya? Nggak setengah-setengah. Megawati menyatakan siap berkontribusi untuk perdamaian, termasuk mendukung gencatan senjata yang sedang berjalan. Bahkan, dia menegaskan kesiapannya jadi “jembatan” bagi pihak-pihak yang berkonflik.
Baca juga: Momentum Lebaran, Megawati Ajak Perkuat Nilai Kemanusiaan
Pengalaman sebagai utusan khusus yang pernah menjembatani hubungan Korea Selatan dan Korea Utara juga jadi modal yang dibawa dalam peran tersebut. Dari anggrek sampai konflik Timur Tengah, obrolan bisa lompat sejauh itu dalam satu ruang tamu.
Di saat dunia makin panas, kadang yang dibutuhkan bukan cuma kekuatan militer atau politik, tapi juga seseorang yang bisa bikin semua pihak duduk bareng. Sisanya? Tinggal berharap, perdamaian nggak cuma jadi wacana yang seindah bunga di meja. (tebe)

