BACAAJA, SEMARANG- Rencana proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Semarang kena sorotan. Organisasi yang fokus di bidang lingkungan, Walhi Jateng menilai arah kebijakan ini belum tentu tepat sasaran. Terutama kalau melihat jenis sampah yang dihasilkan warga.
Dari hasil monitoring di TPA Jatibarang Semarang, Walhi menemukan satu hal penting. Komposisi sampah masih didominasi sampah organik. Aktivis Walhi Jateng, Nur Colis bilang kondisi ini harusnya jadi dasar kebijakan. Bukan malah langsung lompat ke teknologi pembakaran seperti PSEL.
Baca juga: Mendagri Minta Pemda Dukung Program PSEL
“Dulu di Semarang ada pengomposan skala perusahaan yang besar, dan itu bagus ketika sampah organik dikompos, kenapa ga dilanjutkan? Padahal sampah Kota Semarang lebih dari 50 persennya organik,” ucapnya, Senin (30/3/2026).
Menurut dia, pendekatan pengomposan justru lebih masuk akal. Apalagi kalau mayoritas sampahnya organik yang mudah diolah secara alami. “Organik dominan tidak cocok dengan teknologi termal (PSEL),” tegasnya.
Walhi khawatir, kalau dipaksakan, PSEL bisa jadi solusi yang meleset. Bukannya menyelesaikan masalah dari hulu, malah fokus ke hilir tanpa melihat karakter sampahnya.
Masih Relevan
Selain itu, mereka juga menilai pendekatan teknologi tidak boleh menggeser solusi yang sudah terbukti. Pengelolaan berbasis pemilahan dan pengomposan dinilai masih relevan dan seharusnya diperkuat.
Di sisi lain, pemerintah tetap melanjutkan rencana tersebut. Pemkot Semarang bersama Pemprov Jateng dan Pemkab Kendal sudah menandatangani kerja sama penyelenggaraan PSEL.
Kerja sama ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga operasional. Proyeknya ditarget bisa mengolah sampah dalam jumlah besar sekaligus menghasilkan energi listrik.
Baca juga: Dari Sampah Jadi Listrik: Pemprov, Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal Teken PKS
Pemkot Semarang bahkan siap menyuplai sekitar 1.100 ton sampah per hari. Sambil menunggu pembangunan yang diperkirakan butuh waktu tiga tahun, program pengurangan sampah dari sumber juga tetap dijalankan.
Kalau sampahnya organik tapi solusinya dibakar, ini kayak masak sayur tapi pakai resep steak, bisa jadi sih, tapi rasanya belum tentu nyambung. Tinggal pilih: mau solusi yang keren di atas kertas, atau yang benar-benar cocok sama “isi dapurnya”? (bae)


