BACAAJA, CIREBON – Langkah pertama terasa biasa, tapi begitu melewati gerbang, suasana langsung berubah. Udara seperti lebih dingin, sunyi terasa lebih tebal, dan setiap detail seolah punya cerita sendiri yang belum selesai.
Di Talaga Langit, tempat berdirinya Museum Dukun Santet, pengalaman bukan sekadar melihat benda-benda aneh. Ini seperti berjalan pelan di antara sisa-sisa kepercayaan lama yang pernah hidup di tengah masyarakat.
Lorong sepanjang beberapa meter menyambut dengan cara yang tidak biasa. Tiang-tiang berbentuk pocong berdiri diam, lengkap dengan noda merah yang membuat siapa pun refleks menahan napas. Setiap langkah seperti diawasi, bukan oleh manusia, tapi oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Di sisi taman, patung-patung kecil menyerupai tuyul berbaris tanpa ekspresi. Diam, tapi terasa “hidup” dalam cara yang sulit dijelaskan. Beberapa pengunjung mengaku merinding, bukan karena takut, tapi karena suasananya terasa terlalu nyata.
Lebih dalam lagi, ratusan boneka tergantung di dahan pohon. Tua, kusam, sebagian rusak. Mereka bergoyang pelan tertiup angin, seperti menyimpan cerita yang tak pernah selesai. Ada kesan bahwa benda-benda itu bukan sekadar pajangan.
Menurut Ujang Busthomi, semua yang ada di museum ini bukan untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya, ini adalah cara untuk membuka mata bahwa ketakutan sering kali lahir dari pikiran sendiri.
“Yang harus ditakuti itu bukan hal-hal seperti ini,” ujarnya pelan, seolah tidak ingin mengganggu suasana yang sudah lebih dulu sunyi.
Di dalam ruangan, aroma lembap bercampur tanah tua menyambut. Koleksi benda seperti keris, patung, hingga boneka ritual ditata tanpa banyak penjelasan panjang. Seakan sengaja dibiarkan “berbicara” sendiri kepada siapa pun yang melihatnya.
Beberapa tulisan terpampang dengan gaya yang tidak biasa. Kalimat-kalimat itu seperti sindiran sekaligus pengingat, bahwa di balik cerita santet dan dunia klenik, ada batas antara percaya dan terseret terlalu jauh.
Perjalanan belum selesai. Rasa penasaran membawa langkah ke timur, menuju Banyuwangi Park, tempat lain yang menyimpan cerita serupa dalam kemasan berbeda.
Jika Cirebon terasa sunyi dan mencekam, Banyuwangi justru menghadirkan nuansa yang lebih terbuka, tapi tetap menyimpan sisi gelap yang sama. Di sini, museum santet dikemas lebih interaktif, namun tetap menyentuh akar kepercayaan lama.
Banyuwangi sejak lama dikenal sebagai wilayah yang lekat dengan cerita santet. Bahkan julukan “Kota Santet” pernah begitu kuat melekat, seiring dengan kisah-kisah lama tentang ilmu hitam yang diwariskan turun-temurun.
Di museum ini, cerita itu tidak disembunyikan. Justru dihadirkan sebagai bagian dari sejarah yang pernah membentuk cara pandang masyarakat.
Pengunjung diajak memahami, bukan sekadar melihat. Bahwa santet, dalam konteks budaya, adalah refleksi dari rasa takut, kekuasaan, dan kepercayaan manusia terhadap sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Namun, di balik semua itu, ada pesan yang terasa sama di kedua tempat. Bahwa dunia mistis bukan untuk diagungkan, apalagi ditakuti berlebihan.
Setiap sudut, setiap benda, seolah mengajak berpikir ulang: apakah yang menyeramkan itu benar-benar ada di luar sana, atau justru lahir dari dalam diri sendiri.
Ketika langkah keluar dari area museum, suasana perlahan kembali normal. Tapi ada sesuatu yang tertinggal—bukan rasa takut, melainkan kesadaran bahwa dunia yang tak terlihat sering kali lebih dekat dari yang kita kira.
Dan mungkin, bukan soal percaya atau tidak, tapi bagaimana kita memaknai cerita-cerita lama yang masih hidup hingga hari ini. (*)


