Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Lorong Pocong dan Boneka Gantung, Menyibak Museum Santet
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Lorong Pocong dan Boneka Gantung, Menyibak Museum Santet

Lebih dalam lagi, ratusan boneka tergantung di dahan pohon. Tua, kusam, sebagian rusak. Mereka bergoyang pelan tertiup angin, seperti menyimpan cerita yang tak pernah selesai. Ada kesan bahwa benda-benda itu bukan sekadar pajangan.

Nugroho P.
Last updated: Maret 30, 2026 2:48 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
Museum santet, tempatnya uji nyali.
SHARE

BACAAJA, CIREBON – Langkah pertama terasa biasa, tapi begitu melewati gerbang, suasana langsung berubah. Udara seperti lebih dingin, sunyi terasa lebih tebal, dan setiap detail seolah punya cerita sendiri yang belum selesai.

Di Talaga Langit, tempat berdirinya Museum Dukun Santet, pengalaman bukan sekadar melihat benda-benda aneh. Ini seperti berjalan pelan di antara sisa-sisa kepercayaan lama yang pernah hidup di tengah masyarakat.

Lorong sepanjang beberapa meter menyambut dengan cara yang tidak biasa. Tiang-tiang berbentuk pocong berdiri diam, lengkap dengan noda merah yang membuat siapa pun refleks menahan napas. Setiap langkah seperti diawasi, bukan oleh manusia, tapi oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Di sisi taman, patung-patung kecil menyerupai tuyul berbaris tanpa ekspresi. Diam, tapi terasa “hidup” dalam cara yang sulit dijelaskan. Beberapa pengunjung mengaku merinding, bukan karena takut, tapi karena suasananya terasa terlalu nyata.

Lebih dalam lagi, ratusan boneka tergantung di dahan pohon. Tua, kusam, sebagian rusak. Mereka bergoyang pelan tertiup angin, seperti menyimpan cerita yang tak pernah selesai. Ada kesan bahwa benda-benda itu bukan sekadar pajangan.

Menurut Ujang Busthomi, semua yang ada di museum ini bukan untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya, ini adalah cara untuk membuka mata bahwa ketakutan sering kali lahir dari pikiran sendiri.

“Yang harus ditakuti itu bukan hal-hal seperti ini,” ujarnya pelan, seolah tidak ingin mengganggu suasana yang sudah lebih dulu sunyi.

Di dalam ruangan, aroma lembap bercampur tanah tua menyambut. Koleksi benda seperti keris, patung, hingga boneka ritual ditata tanpa banyak penjelasan panjang. Seakan sengaja dibiarkan “berbicara” sendiri kepada siapa pun yang melihatnya.

Beberapa tulisan terpampang dengan gaya yang tidak biasa. Kalimat-kalimat itu seperti sindiran sekaligus pengingat, bahwa di balik cerita santet dan dunia klenik, ada batas antara percaya dan terseret terlalu jauh.

Perjalanan belum selesai. Rasa penasaran membawa langkah ke timur, menuju Banyuwangi Park, tempat lain yang menyimpan cerita serupa dalam kemasan berbeda.

Jika Cirebon terasa sunyi dan mencekam, Banyuwangi justru menghadirkan nuansa yang lebih terbuka, tapi tetap menyimpan sisi gelap yang sama. Di sini, museum santet dikemas lebih interaktif, namun tetap menyentuh akar kepercayaan lama.

Banyuwangi sejak lama dikenal sebagai wilayah yang lekat dengan cerita santet. Bahkan julukan “Kota Santet” pernah begitu kuat melekat, seiring dengan kisah-kisah lama tentang ilmu hitam yang diwariskan turun-temurun.

Di museum ini, cerita itu tidak disembunyikan. Justru dihadirkan sebagai bagian dari sejarah yang pernah membentuk cara pandang masyarakat.

Pengunjung diajak memahami, bukan sekadar melihat. Bahwa santet, dalam konteks budaya, adalah refleksi dari rasa takut, kekuasaan, dan kepercayaan manusia terhadap sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Namun, di balik semua itu, ada pesan yang terasa sama di kedua tempat. Bahwa dunia mistis bukan untuk diagungkan, apalagi ditakuti berlebihan.

Setiap sudut, setiap benda, seolah mengajak berpikir ulang: apakah yang menyeramkan itu benar-benar ada di luar sana, atau justru lahir dari dalam diri sendiri.

Ketika langkah keluar dari area museum, suasana perlahan kembali normal. Tapi ada sesuatu yang tertinggal—bukan rasa takut, melainkan kesadaran bahwa dunia yang tak terlihat sering kali lebih dekat dari yang kita kira.

Dan mungkin, bukan soal percaya atau tidak, tapi bagaimana kita memaknai cerita-cerita lama yang masih hidup hingga hari ini. (*)

You Might Also Like

Pengusaha Akui Biasa Beri Uang Tip ke Lurah dan Camat di Semarang, Berapa?

Dari Pendopo hingga Hati: Kisah Cinta Putri Karlina dan Maula Akbar yang Menyatukan Dua Keluarga Besar Jawa Barat

Momen Kabid Humas Polda Jateng Selamatkan Mobil Mogok di Lintasan Rel KA Madukoro Semarang

Begini Nasib Surat Usulan Pemakzulan Gibran di Rapat Paripurna DPR

Tersandung Kasus Pornografi, Bambang Raya Resmi Ditahan Polisi

TAGGED:cirebonmistismuseum santetunik
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Tips Agar Tidak Terjebak Gogle Maps yang Ngaco
Next Article Rupanya Begini Rasanya Menjadi Pasangan Muda yang Baru Menikah

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Undip Kenalkan Kopi Tawangmangu ke Dunia

KPK Kulik Aktivitas Fadia Arafiq Saat Menjabat

Bayar Sampah di Semarang Sekarang Nggak Tunai Lagi

Waisak Belum Mulai, Borobudur Sudah Full Booking

Ibu-Ibu Pegang Pisau Kurban, Ternyata Hukumnya Bikin Banyak Kaget

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Bolehkah Zakat Fitrah Diwakilkan?

Maret 18, 2026
Tips

Otak Tetap Ngegas Tanpa Ribet, Ini Rahasia Kebiasaan Simpel

Maret 31, 2026
Viral

Wah! Keluarga Pengantin Perempuan Pacitan Yakin Cek Rp3 Miliar Itu Asli, Nggak Main-main!

Oktober 11, 2025
Unik

Punya Duit Nanggung, Haruskah Kurban atau Beli Rumah Dulu?

Mei 27, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Lorong Pocong dan Boneka Gantung, Menyibak Museum Santet
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?