BACAAJA, JAKARTA- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat kolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menggenjot riset prioritas nasional, khususnya di bidang energi dan pengelolaan sampah.
Langkah ini jadi bagian dari arahan Prabowo Subianto yang mendorong riset nggak berhenti di konsep, tapi benar-benar bisa dipakai di lapangan. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan, LPDP punya peran krusial dalam membangun ekosistem riset nasional. Bukan cuma soal beasiswa, tapi juga jadi “mesin” pendanaan inovasi.
Baca juga: Wamendiktisaintek: Mahasiswa Jangan Cuma Jadi Penonton, Ikut Nyemplung di Riset Dosen!
“LPDP itu pilar penting buat pengembangan SDM dan riset. Kolaborasi ini harus terus ditingkatkan, terutama buat program prioritas,” ujarnya. Fokus riset yang dibidik pun nggak main-main. Mulai dari teknologi pengolahan sampah jadi energi (waste-to-energy), konversi kompor LPG ke listrik, sampai pengembangan kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik.
Menariknya, riset ini nggak cuma ngomongin teknologi. Tapi juga dikaji dari sisi sosial, ekonomi, sampai kebijakan, biar solusi yang dihasilkan nggak mentok di teori, tapi bisa langsung diterapkan di masyarakat.
Brian juga mendorong pola riset yang lebih “turun ke bawah”, alias desentralistik. Artinya, kampus-kampus di daerah didorong aktif kolaborasi dengan pemerintah daerah dan industri, bukan cuma bergantung pada pusat.
“Dengan pendekatan ini, solusi bisa lebih cepat diimplementasikan, sekaligus memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi,” katanya.
Agenda Riset
Dari sisi pendanaan, Plt Direktur Utama LPDP, Sudarto, memastikan pihaknya siap full support, termasuk lewat skema kolaborasi pembiayaan atau co-funding. LPDP juga bakal mengintegrasikan program beasiswa dengan agenda riset nasional.
Jadi, mahasiswa nggak cuma kuliah, tapi juga ikut terlibat dalam proyek-proyek strategis, bahkan sampai kolaborasi internasional dan jaringan diaspora akademik. “Untuk program prioritas seperti energi dan sampah, kami siap mendukung.
Baca juga: Undip Bukan Kaleng-kaleng, Kampus Nomor 4 Terbaik Nasional Versi EduRank 2026
Semakin cepat dirumuskan, semakin baik,” ujar Sudarto. Dengan model ini, riset diharapkan nggak lagi jalan sendiri-sendiri. Tapi jadi gerakan bersama yang melibatkan kampus, pemerintah, industri, hingga jejaring global.
Di negara yang masalah sampahnya nyata dan energi terus jadi isu, riset memang nggak boleh cuma jadi bahan seminar. Karena kalau ujungnya cuma jadi PDF yang tersimpan rapi… ya yang berubah cuma judulnya, bukan kondisi di lapangan. (tebe)


