Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ketupat dan Cerita yang Tak Pernah Usai Setelah Lebaran
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Ketupat dan Cerita yang Tak Pernah Usai Setelah Lebaran

Banyak yang mengaitkan tradisi ini dengan Sunan Kalijaga. Ia dikenal tidak memaksa orang untuk meninggalkan budaya lama, tapi justru masuk lewat cara-cara yang dekat dengan keseharian masyarakat. Jadi, simbol-simbol seperti ketupat itu bukan muncul begitu saja, tapi bagian dari cara menyampaikan ajaran agar lebih mudah diterima.

Nugroho P.
Last updated: Maret 23, 2026 3:45 pm
By Nugroho P.
3 Min Read
Share
ketupat.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Lebaran boleh saja sudah lewat, tapi suasananya belum benar-benar hilang. Di banyak kampung, orang-orang masih punya satu momen lagi yang terasa spesial “Lebaran Ketupat”.

Biasanya dirayakan sekitar seminggu setelah Idulfitri, tepatnya di 7 Syawal. Suasananya santai, tidak seramai hari pertama Lebaran, tapi justru di situlah hangatnya terasa. Dapur kembali hidup, ketupat direbus berjam-jam, lalu dibagikan ke tetangga. Ada yang sekadar mampir, ada juga yang duduk lama sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Kalau dilihat sekilas, ini cuma tradisi makan bersama. Tapi sebenarnya, ada cerita panjang di balik ketupat itu sendiri.

Banyak yang mengaitkan tradisi ini dengan Sunan Kalijaga. Ia dikenal tidak memaksa orang untuk meninggalkan budaya lama, tapi justru masuk lewat cara-cara yang dekat dengan keseharian masyarakat. Jadi, simbol-simbol seperti ketupat itu bukan muncul begitu saja, tapi bagian dari cara menyampaikan ajaran agar lebih mudah diterima.

Pendekatan seperti ini juga pernah dibahas oleh sejarawan M. C. Ricklefs, yang melihat Islam di Jawa tumbuh dengan cara berbaur, bukan berbenturan. Hal yang mirip juga disampaikan Clifford Geertz, tradisi lama tidak hilang, tapi pelan-pelan diberi makna baru.

Nah, dari situ ketupat jadi punya arti yang lebih dalam. Orang Jawa sering bilang “kupat” itu singkatan dari ngaku lepat, mengakui kesalahan. Maknanya sederhana, tapi kena setelah Lebaran, bukan cuma saling maaf-maafan, tapi juga benar-benar sadar dan mengakui kesalahan.

Bentuk ketupat yang dianyam itu juga sering dimaknai. Rumit, saling silang, seperti kesalahan manusia yang kadang tidak sederhana. Tapi begitu dibelah, isinya putih bersih. Seolah jadi pengingat, setelah Ramadan, hati diharapkan kembali bersih.

Janur pembungkusnya juga tidak lepas dari makna. Banyak yang mengaitkannya dengan “jatining nur”, atau cahaya sejati. Ya semacam harapan, setelah sebulan berpuasa, hidup bisa dimulai lagi dengan lebih terang.

Di sisi lain, tradisi ini juga sering dikaitkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, seperti yang disebut dalam hadis riwayat Muslim. Jadi, Lebaran Ketupat ini seperti penutupnya, semacam momen santai setelah ibadah.

Tapi yang paling terasa sebenarnya bukan itu. Yang paling terasa justru kebersamaannya. Ketika orang datang tanpa janji, ketika makanan dibagi tanpa hitung-hitungan, ketika obrolan mengalir begitu saja.

Menurut Koentjaraningrat, tradisi seperti ini penting karena menjaga hubungan antarwarga tetap hidup. Dan itu terasa nyata di momen seperti ini. sederhana, tapi hangat.

Mungkin itu kenapa tradisi ketupat masih bertahan sampai sekarang. Bukan karena makanannya semata, tapi karena ada rasa yang ikut dibawa. Rasa dekat, rasa saling punya, dan rasa ingin tetap terhubung.

Jadi, meskipun Lebaran sudah lewat, ketupat seperti bilang satu hal. silaturahmi itu jangan ikut selesai. (Dul/*)

You Might Also Like

Dedi Mulyadi Cabut Izin Penambangan Gunung Kuda, Korban Longsor Terus Bertambah

Niat Mandi Wajib Sebelum Puasa Ramadhan, Biar Hati Siap, Belum Telat Kok

Puan Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Ojol Meninggal Terlindas Barracuda: “Jangan Sampai Terjadi Lagi!”

Nadiem Makarim Buka Suara soal Kasus Dugaan Korupsi Laptop, “Sudah Dikawal Sejak Awal”

Puan Maharani Diminta Berpidato Dalam Forum Global di Kampus CSUS Amerika

TAGGED:ketupatkulinerkuliner lebaranorang jawa
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Syawal Datang, Puasa Enam Hari Bikin Nagih
Next Article Baju Kena Opor Saat Lebaran? Tenang, Ini Cara Simpelnya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Lapas Purwodadi Serius Bersih-Bersih

Bos Bank Dibebaskan di Kasus Sritex, Kejagung: Kami Pelajari Dulu

KORBAN CURHAT - Ayah korban pelecehan (bermasker) didampingi kuasa hukumnya menceritakan kasus yang dialami putrinya, Jumat (8/5/2026). (bae)

Pengakuan Getir Ayah Korban Ashari Pati: Anak Dipondokin Biar Pinter, Malah Dilecehin Kiai

Asamnya Nampol Banget, Jeruk Nipis Diam-Diam Bikin Lambung Kewalahan

Rumah Baru Nggak Cuma Jual Lokasi, Tapi Juga Gas Gratis?

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Unik

Suap Rp1.75 M Belum Diserahkan ke Mbak Ita, Rachmat Utama Dituntut Bui 2,5 Tahun

Mei 28, 2025
Unik

Di Sini Uang Diselamatkan dari Rentenir, Kisah Purwokerto dan Lahirnya Bank Pertama di Indonesia

Mei 24, 2025
Luncuran awan panas erupsi Gunung Semeru.
Viral

Melaju di Abu Semeru, Sepasang Nyawa Hampir Terbang

November 20, 2025
Foto illustrasi kereta petani pedagang di China yang bisa diduplikasi di Indonesia. Foto: dok/Djoko S.
Unik

Kereta Petani–Pedagang: Jalan Tengah Membangun Ekonomi Desa dan Menekan Urbanisasi

Agustus 27, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ketupat dan Cerita yang Tak Pernah Usai Setelah Lebaran
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?