BACAAJA, BANJARNEGARA – Malam itu Terminal Parakancanggah terasa beda dari biasanya. Ratusan pemudik datang membawa cerita perjalanan panjang. Suasana haru dan bahagia langsung terasa sejak mereka turun dari bus.
Sebanyak 700 warga Banjarnegara akhirnya tiba dengan selamat. Mereka ikut program mudik gratis yang difasilitasi pemerintah daerah. Wajah lelah langsung berubah jadi senyum saat menginjak kampung halaman.
Kedatangan mereka disambut langsung oleh Amalia Desiana. Ia hadir bersama jajaran pemerintah daerah. Momen ini jadi penuh kehangatan.
Sebanyak 14 bus mengangkut para pemudik dari berbagai kota. Dua belas bus berangkat dari Jakarta dan dua lainnya dari Bandung. Perjalanan panjang itu akhirnya terbayar lunas dengan rasa lega.
Rombongan dari Jakarta dilepas langsung oleh Ahmad Luthfi. Pelepasan dilakukan dari kawasan Museum Purna Bhakti Pertiwi. Hal ini menambah kesan spesial bagi para pemudik.
Saat menyambut, Amalia tampak bahagia melihat warganya pulang dengan selamat. Ia menyampaikan ucapan selamat datang dengan penuh kehangatan. Suasana pun makin terasa emosional.
“Alhamdulillah, selamat datang kembali di Banjarnegara,” ucapnya. Ia berharap perjalanan ini membawa kebahagiaan. Terutama untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Ia juga memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat. Termasuk dukungan dari Badan Amil Zakat Nasional. Peran mereka dinilai membantu kelancaran program ini.
Program mudik gratis ini disebut sebagai bentuk kepedulian pemerintah. Terutama bagi warga yang merantau di luar daerah. Harapannya bisa terus berlanjut setiap tahun.
Amalia menegaskan program ini bukan sekadar fasilitas. Tapi juga bentuk perhatian nyata kepada masyarakat. Ia ingin ke depan jumlah peserta bisa bertambah.
Kepala Dinas Perhubungan Banjarnegara, Mohammad Iqbal, juga ikut menjelaskan. Menurutnya, program ini punya banyak manfaat. Tidak hanya bagi pemudik, tapi juga untuk lalu lintas.
Dengan adanya bus mudik gratis, jumlah kendaraan pribadi bisa berkurang. Hal ini membantu mengurangi kemacetan. Risiko kecelakaan pun bisa ditekan.
Antusiasme pemudik terlihat jelas sejak awal kedatangan. Banyak yang merasa sangat terbantu dengan program ini. Mereka bisa pulang tanpa beban biaya besar.
Perwakilan Paguyuban Solidaritas Warga Banjarnegara, Misad, ikut menyampaikan apresiasi. Ia mengaku program ini sangat membantu perantau. Terutama yang ingin pulang saat Lebaran.
Hal serupa dirasakan oleh Waris, pemudik asal Kalibenda. Ia baru pertama kali ikut program ini. Pengalamannya terasa sangat berkesan.
Waris berharap kuota bisa ditambah ke depannya. Supaya lebih banyak warga bisa ikut. Ia yakin program ini sangat dinanti setiap tahun.
Dalam acara tersebut, pemerintah juga memberi bantuan simbolis. Bantuan itu diberikan langsung kepada peserta mudik. Hal ini jadi bentuk perhatian tambahan.
Suasana penyambutan pun terasa hangat dan sederhana. Tidak berlebihan, tapi penuh makna. Semua larut dalam kebahagiaan pulang kampung.
Program ini diharapkan jadi tradisi tahunan. Selain membantu, juga mempererat hubungan antara pemerintah dan warga. Ikatan emosional pun semakin kuat.
Bagi para pemudik, momen ini tak tergantikan. Setelah lama merantau, akhirnya bisa berkumpul lagi. Lebaran pun terasa lebih lengkap.
Banjarnegara malam itu bukan sekadar tempat tujuan. Tapi jadi titik pulang penuh cerita. Dan bagi banyak orang, ini adalah kebahagiaan yang sederhana tapi sangat berarti. (*)


