BACAAJA, SEMARANG- Setahun sudah duet Agustina-Iswar memegang kemudi Kota Semarang. Hasilnya? Pemerintah kota mengklaim banjir rob mulai jinak. Ratusan hektare area terdampak disebut berhasil “diselamatkan”.
Angkanya kelihatan manis di atas kertas. Wilayah genangan banjir rob yang pada 2024 masih 3,29 persen, turun jadi 2,71 persen di 2025. Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut ini sebagai progres yang signifikan.
“Selama satu tahun kepemimpinan Agustina-Iswar, telah mengentaskan wilayah genangan banjir rob seluas 230, 98 hektare,” ujarnya saat konferensi pers, Jumat (20/2/2026). Meski begitu, Agustina mengakui banjir adalah bagian dari siklus alam.
Baca juga: Tiga Orang Meninggal karena Banjir Semarang
Ia juga menurunkan ekspektasi publik. Jangan berharap Semarang bebas banjir sepenuhnya. “Tidak akan mungkin tidak banjir, itu pasti banjir. Karena banjir adalah anugerah itu dari Tuhan yang menciptakan alam. Dari atas ke bawah, kita masih akan teraliri air itu,” katanya.
Tugas pemerintah, katanya, bukan menghapus banjir dari kamus, tapi mengatur supaya air cepat jalan dan warga tak terlalu lama kebanjiran. Kalau bicara banjir Semarang, Agustina paham betul daerah mana yang paling sering jadi bahan omongan.
“Biasanya kalau hujan itu hebohnya banjir paling berat di wilayah timur. Genuk, Gayamsari, sebagian Pedurungan, Tembalang, Telogosari,” katanya. Menariknya, Agustina juga tak ragu menyentil dirinya sendiri.
Rumitnya Persoalan
Di awal menjabat, ia mengaku sempat kebingungan menghadapi rumitnya persoalan infrastruktur. “Saya ini sarjana sastra jadi wali kota di sebuah kota yang membutuhkan pemahaman infrastruktur yang luar biasa. Memang gagal,” ujarnya, setengah satire, setengah pengakuan dosa.
Pelan-pelan, sambil belajar dari kejadian demi kejadian, ia mulai menemukan biang keroknya. Menurut Agustina, banjir yang bandel itu ternyata bersumber di muara. Dan urusan muara, ceritanya tak sesederhana urusan got kampung.
Baca juga: Delapan Pompa Ngebut Sedot Banjir Semarang
Masalahnya, kata dia, penanganan di muara sudah masuk wilayah kerja pemerintah pusat lewat program Giant Sea Wall dan kolam retensi. Saat proyek membentengi laut itu dipercepat, sempat dipilih cara cepat, bikin jembatan dari tanah.
Tapi hasilnya malah blunder. Air bukannya ngalir ke laut, malah balik lagi ke rumah warga. “Airnya enggak ngalir-ngalir, (bajir) sampai 10 hari di Genuk,” kata Agustina. Akhirnya, jembatan tanah itu dibongkar. Masalahnya, efek domino tak terhindarkan. Proyek ikut molor. Target rampung yang semula diharapkan cepat, mau nggak mau mundur. (bae)


