Ahmad Rofiul Khoir, mahasiswa aktif jurusan Sosiologi FISIP UIN Walisongo Semarang angkatan 2022.
“Nonton MU kok yo kalah terus. Haiiiisssh, gatheeeel, taingasuuu! Suk tak dadi suporter klub ping-pong Manunggal Jaya wae lah. Ndukung MU ketoke keblondrok terus.”
Saya bukan bukan penggemar sepak bola. Bahkan saya termasuk orang yang tidak tahu alasan jelas kenapa bisa terjadi offside dan alasan mengapa wasit bisa mengeluarkan kartu merah atau kuning. Yang saya tahu, sepak bola terdiri dari sebelas pemain dalam satu tim, 1 kiper dan 10 lainnya.
Tapi saya merasakan satu hal yang menarik perhatian saya ahir-ahir ini. Setiap kali membuka media sosial, lini masa saya lebih banyak tertuju pada tim sepak bola dari Inggris “Manchester United”. Sebagai orang yang nggak suka-suka amat dengan sepak bola, melihat MU menang, kalah, ataupun seri, ia tetap saja menjadi satu objek yang menghibur bagi saya.
Yang menarik, semua orang ikut terlibat dalam hiburan itu. Bahkan oleh mereka yang tidak paham bola. Setiap MU mengalami kekalahan, netizen tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Lini masa akan dibanjiri oleh hujatan-hujatan yang kreatif dan menghibur. Bahkan jutaan orang dari berbagai belahan dunia berkumpul secara virtual hanya untuk menertawakan klub yang sama,
“Ini solidaritas global yang luar biasa, kalau dipikir-pikir.” Bayangkan, orang dari berbagai negara, bahasa, dan budaya, bersatu hanya untuk menertawakan Manchester United. Namun, saat MU menang, ikut-ikutan posting meme bergambar matahari logo MU terbit dari timur juga menjadi satu hal yang menghibur bagi saya.
Sebelum Michael Carrick (Pak Carik) datang memberi ilham kepada MU, klub ini sedang berada dalam fase yang bahkan penggemarnya sendiri mengatakan, “Ngene iki MU ketulung regone larang wae. Umpomo regone murah, paling wis diakuisisi karo Polri njuk dimerger karo Bhayangkara FC.”
Bayangkan, tim dengan budget puluhan triliun rupiah, skuad penuh bintang, tapi performanya seperti tim yang baru belajar main bola kemarin sore. Tak jarang, MU juga sering mendapat makian dari pendukungnya sendiri.“Nonton MU kok yo kalah terus. Haiiiisssh, gatheeeel, taingasuuu! Suk tak dadi suporter klub ping-pong Manunggal Jaya wae lah. Ndukung MU ketoke keblondrok terus.”
Kemudian Pak Carik datang bak nabi pembawa keberuntungan. Lihat saja yang terjadi pekan ini. Manchester United atau yang sekarang dijuluki King MU oleh para pendukungnya, entah pendukung tulen maupun karbitan. MU memang baru saja menang empat kali berturut-turut. Terahir berlaga pada Sabtu 7 Februari 2026, MU berhasil mengalahkan Tottenham 2-0 di Old Trafford, setelah sebelumnya mengalahkan Manchester City, Arsenal, dan Fulham.
Peristiwa itu sudah tentu membuat fans MU ndangak dan melompat kegirangan. Dosen saya saja, yang sebelumnya tidak pernah buat status WA tentang MU, sekarang mulai ikut posting kemenangan MU lengkap dengan caption, “boleh sombong, yang penting king MU jago.”
Pasca-kemenangan beruntun itu, tentu saja ini menjadi momentum para fans MU untuk membalikan situasi setelah menghadapi masa gelap dan penuh makian. Video kompilasi dengan backsound dramatis, lengkap dengan caption panas semacam, “Iku Arsenal meh mudun dewe, opo njaluk didunno King MU?” Kurang lebih artinya, “Itu Arsenal mau turun sendiri, atau minta diturunkan sama King MU?”
Lalu ada pula yang mengedit foto pemain MU dengan mahkota emas, matahari logo MU terbit dari timur, dan masih banyak konten-konten panas lainya. Tak lain, semua itu dirancang untuk satu visi, yaitu membuat ‘panas’ pendukung lawan yang telah ditaklukkan oleh MU.
Bagi fans MU, mungkin ini adalah masa-masa paling membahagiakan setelah sekian lama hidup dalam derita. Akhirnya bisa ndangak, akhirnya bisa bikin konten panas tanpa takut dibalas lebih panas. Bagi kita yang tidak mendukung siapa-siapa dan nggak ngerti-ngerti banget soal bola, lumayanlah, dapat hiburan gratis.
Intinya, mau menang, kalah, ataupun seri, MU tetap lucu. Tapi bagi tim lawan beserta fans-fansnya yang telah dibuat babak belur oleh MU, ini adalah hari-hari penuh dengan keterpurukan dan makian.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


