Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Politik Iba ala Jokowi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Politik Iba ala Jokowi

Redaktur Opini
Last updated: Februari 2, 2026 11:16 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Begitu banyak orang bisa hidup dari rasa iba terhadap orang lain. Contoh paling dekat: para pengemis lampu merah!

 

Terus terang, saya belum pernah melihat mantan presiden Jokowi berpidato seperti yang diucapkan di depan Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar, 29 – 31 Januari 2026. Biasanya, pidatonya tenang. Terjaga. Bahkan ketika ia marah, suaranya tidak meninggi dan meledak-ledak. Sorot matanya pun biasanya tanpa ekspresi yang jelas. Ia datar.

Banyak orang menghubungkan style ini dengan latar belakang Jokowi sebagai orang Jawa. Bukan hanya sekadar Jawa tapi juga orang Jawa di pusat kebudayaan Mataram Islam, yakni Solo. Indonesia punya dua presiden yang berasal dari area ini, yakni Suharto dan Jokowi.

Suharto terkenal dengan sebutan ‘the smiling general.’ Apa pun yang dihadapi, dia tersenyum. Orang susah menebak suasana hatinya. Juga susah menebak apa yang dimauinya dan ke mana ia akan melangkah. Kabarnya, ia tetap tersenyum bahkan ketika memerintahkan pembantaian.

Jokowi tidak terkenal karena senyumnya. Ia datar saja. Kadang tersenyum kecil. Postur tubuhnya yang kerempeng dengan jari bengkoknya yang khas membuat ia selalu diolok-olok dengan julukan ‘plonga-plongo.’ Namun, ia orang yang mampu menahan dan menyerap pukulan, makian, dan ejekan.

Dia menanggapi semua itu dengan gaya Jawa yang khas, “Aku rapopo”. Ia sebenarnya merasakan sakit hati yang amat sangat tetapi dibalikkan lewat semiotika Jawa yang elegan, “Aku rapopo”. Itu semacam “menang tanpo ngasorake”. Memukul dengan menyemburkan energi positif. Dan, hasilnya? Bum! Orang menjadi sangat bersimpati padanya.

Nah, inilah yang dalam pengamatan saya tidak terlihat pada pidatonya di Makassar. Di kesempatan ini, sangat jelas terlihat kilatan marah pada matanya. Sangat jelas terlihat dendam kesumat yang membuncah dan menuntut untuk disalurkan.

Tidak ada lagi Jokowi yang cengengesan he-he-he-he. Tidak ada lagi kemurahan hati yang memberi makan dan oleh-oleh kepada siapa saja yang mengunjunginya di rumahnya.

Dan, dia mengatakan bahwa ia akan kerja keras dan mati-matian untuk PSI. “Saya masih sanggup,” katanya. Dia berjanji akan keliling ke semua provinsi, ke kabupaten-kabupaten, dan bahkan ke kecamatan-kecamatan.

Cuma ada satu masalah: Siapakah Jokowi untuk PSI? Dia tidak ada dalam struktur. Dia bukan pengurus. Dia juga bukan organ partai. Dia tidak duduk di Dewan Pembina atau Dewan Penasihat. Juga tidak di Dewan Pengawas. Dia hanyalah bapak dari Kaesang Pangarep, yang menjadi ketua PSI hanya dua hari setelah menjadi anggota. Ya, di PSI, Jokowi cuma bapaknya Kaesang!

Seberapa besarkah pengaruh Jokowi? Apakah dia bisa mengangkat PSI menjadi parti besar, partai yang berusaha menubuhkan (embodied) dirinya dengan melabelkan ideologinya sebagai Jokowisme? Sementara, jika orang bertanya, apa itu Jokowisme, jawabnya masih … hmmm nganu!

Mungkin Jokowi masih punya residual power. Masih ada sisa-sisa orang yang mengikutinya. Namun, jaman sudah berubah. Manusia-manusia politik Indonesia itu seperti ayam. Mereka akan berkerumun di mana Anda menaburkan gabah!

Kalau kita perhatikan, berapa banyak para pekerja politik, baik partai, polisi, hingga militer, yang jadi gemuk karena program-program pemerintahan Prabowo Subianto. Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya. Program yang luar biasa besarnya, dengan manfaat yang belum jelas dan malah meracuni anak-anak Indonesia. MBG adalah program redistribusi kekayaan, terutama di kalangan sesama orang kaya berkuasa. Untuk rakyat? Emang lo kira siapa diri lo?

Begitu juga Koperasi Merah Putih. Lihat bagaimana kebijakan pemerintah berubah-ubah. Setelah gerakan koperasi dari bawah gagal, pemerintah memutuskan membuat gerai dan perlengkapan koperasi senilai 2,5 milyar. Pelaksanaannya? PT Agrinas Pangan dan Kodim setempat. Kepala desa harus menyediakan lahan yang memenuhi syarat untuk bangunan koperasi. Dan, banyak lahan yang memenuhi syarat adalah … lapangan sepak bola! Jadilah ketegangan antara rakyat dan aparat karena lapangan bermainnya jadi bangunan koperasi.

Begitu banyak program kesejahteraan untuk yang kaya dan berkuasa dilaksanakan oleh pemerintahan ini. Dan, Jokowi? Ia ada di dalamnya, tetapi tetap berdiri di luar. Dia memang tidak disingkirkan. Tapi juga tidak bisa masuk. Prabowo dan orang-orang di sekitarnya cukup pintar.

Mereka tahu, Jokowi malah akan kuat ketika digebuki. Jadi lebih baik dirangkul saja. Saya kira kekuatan terbesar Jokowi adalah ia mampu membuat orang iba dan kasihan kepadanya. Ini klasik dari politisi yang tidak menguasai tentara, polisi, atau partai. Dan, orang Indonesia adalah bangsa yang sangat pengiba. Sehingga iba bisa diakali menjadi sumber profesi. Begitu banyak orang bisa hidup dari rasa iba terhadap orang lain. Contoh paling dekat: para pengemis lampu merah!

Jika rasa iba bisa dipakai untuk hidup, mengapa tidak untuk berkuasa?(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Menimbang Keadilan Upah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Cukai Khusus Rokok Ilegal: Menimbang Jalan Tengah antara Penertiban dan Keadilan Fiskal

Jalan Rusak: Ujian Keseriusan Tata Kelola Infrastruktur Daerah

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

Karang Gigi Merusak Senyum Kamu? Jangan Nekat Bersihin Sendiri

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Apel Operasi Keselamatan Candi 2026 di Mapolda Jateng, Senin (2/2/2026). Foto: Eka Setiawan Jelang Ramadan Polda Jateng Gelar Operasi Lalu Lintas: Ini Cara Bedakan Surat Tilang Asli dan Palsu
Next Article Wakapolrestabes Semarang Kombes Pol. Wiwit Ari Wibisono (paling kanan) saat Apel OKC 2026 di Mapolrestabes Semarang, Senin (2/2/2026). Foto: Dok. Polrestabes Semarang. Operasi Keselamatan Candi 2026: Polrestabes Semarang Fokus Tertibkan Balap Liar

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Disbudpar Kota Semarang

Lebaran Monyet di Gua Kreo: Kera Berpesta di Sesaji Rewanda, Wisatawan Ikutan Seru-seruan

Niacinamide Bukan Selalu Jawaban, Ini Tiga Kondisi Stop Dulu

Banjir Brebes Gak Cuma Soal Hujan, Menteri PU: Beresi Muara Dulu

PSIS vs Persipal, Laga Hidup Mati di Jatidiri

Cabai Nempel di Lidah, Cerita Lama Jadi Kebiasaan Baru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Novita Rachmah Sari, Mahasiswa Program Studi Magister Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) Yayasan Pharmasi Semarang.
Opini

Manfaat Sambiloto untuk Mengobati Diabetes Melitus

November 9, 2025
Opini

Ketika Seksualitas Dijadikan Alat Kontrol, Kekerasan Jadi Tak Terelakkan

Januari 30, 2026
Opini

Urban Parenting dan Mitos “Anak Baik-Baik Saja”

Januari 13, 2026
Opini

Mahasiswa Jawa dan Cara Inklusif Berteman ala “Jawakarta”

Februari 6, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Politik Iba ala Jokowi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?