BACAAJA, SEMARANG – Populasi harimau benggala di Semarang Zoo makin menyusut. Kondisi ini ternyata disengaja bagian dari strategi konservasi.
Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, menyebut harimau benggala yang tersisa merupakan hasil pembiakan lama. Tanpa indukan baru, risikonya justru besar bagi kelangsungan satwa.
“Kalau diteruskan, bisa terjadi inbreeding (perkawinan sedarah). Anak harimaunya berisiko cacat atau mati sebelum dewasa,” ujar Bimo, Rabu (28/1/2026).
Bacaaja: Kesaksian Pengunjung Semarang Zoo: Makin Rapi, Satwa Tampak Lebih Sehat
Bacaaja: Lagi Cari Jodoh: Tiga Orang Utan Jantan Semarang Zoo Masih Jomblo
Ia menjelaskan, tanda inbreeding terlihat dari warna bulu yang pucat hingga putih. Dampaknya bukan cuma fisik, tapi juga masalah genetik serius.
Mulai dari jantung tak berkembang sempurna, harimau malas makan, sampai daya hidup yang lemah. Karena itu, kandang harimau benggala sengaja dikosongkan.
“Memang kita kosongkan kandangnya. Nanti kita isi, salah satunya dengan Harimau Sumatera,” kata Bimo.
Menurutnya, langkah ini bagian dari tanggung jawab lembaga konservasi. Penambahan satwa bisa dilakukan lewat hibah atau tukar-menukar dengan kebun binatang lain.
Selain harimau, Semarang Zoo juga masih punya PR lain. Tiga orangutan Kalimantan jantan belum bisa berkembang biak karena tak ada betina.
Soal isu negatif yang ramai di media sosial, ia memilih tak ambil pusing. Bimo menegaskan semua kebijakan di Semarang Zoo diambil berbasis ilmu konservasi, bukan sekadar opini. (bae)


