BACAAJA, JAKARTA – Akhir tahun ini, New York City lagi-lagi disibukkan dengan lonjakan kasus flu yang bikin banyak rumah sakit kelimpungan. Kunjungan ke unit gawat darurat melonjak tajam dan tercatat sebagai yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Fenomena ini ramai disebut sebagai “superflu”. Istilahnya memang terdengar ngeri, tapi para dokter menegaskan ini bukan virus baru. Penyebab utamanya adalah varian flu yang lebih gampang menular dan datang lebih cepat dari biasanya.
Data pemantauan rumah sakit menunjukkan, pada pekan 20 Desember, jumlah pasien dengan gejala mirip flu membludak. Angkanya bahkan melampaui musim flu berat yang pernah terjadi pada 2017–2018 dan 2024–2025.
Para ahli menyebut, musim flu tahun ini belum mencapai puncaknya. Artinya, potensi kenaikan kasus masih terbuka lebar, terutama di tengah mobilitas warga yang tinggi jelang liburan akhir tahun.
Lonjakan kasus ini tidak cuma terjadi di satu wilayah. Hampir seluruh area New York City terdampak. Manhattan mencatat kenaikan paling drastis, disusul The Bronx, Staten Island, Queens, dan Brooklyn yang sama-sama menunjukkan tren naik signifikan.
Dalam satu pekan saja, hampir 10 ribu warga datang ke UGD dengan keluhan flu. Rumah sakit pun harus bekerja ekstra untuk menangani pasien yang datang silih berganti.
Hasil tes laboratorium memperkuat situasi ini. Jumlah tes flu positif melonjak tajam dibanding musim sebelumnya. Bahkan, tingkat kehadiran siswa di sekolah ikut turun menjelang libur Natal karena banyak yang jatuh sakit.
Soal penyebab, para pakar menyoroti menurunnya angka vaksinasi flu di masyarakat. Selain itu, vaksin flu musim ini dinilai kurang pas dengan strain virus yang dominan beredar.
Tahun ini, varian yang banyak menyebar adalah mutasi influenza A (H3N2) subclade K. Sayangnya, vaksin yang sudah diproduksi sejak bulan-bulan sebelumnya tidak sepenuhnya cocok dengan varian tersebut.
Efektivitas vaksin pada orang dewasa pun turun, hanya sekitar 32–39 persen. Meski begitu, pada anak-anak, perlindungan vaksinnya masih cukup tinggi.
Gejala flu yang muncul sebenarnya masih mirip musim-musim sebelumnya. Mulai dari demam, badan pegal, lemas, menggigil, pilek, sakit tenggorokan, sampai gangguan pencernaan seperti mual dan diare.
Meski vaksin tak bekerja maksimal, dokter tetap menyarankan vaksinasi. Setidaknya, vaksin bisa membantu menekan risiko gejala berat dan komplikasi serius.
Bagi yang sudah terlanjur terinfeksi, istirahat cukup, minum banyak cairan, dan konsumsi obat sesuai anjuran jadi kunci utama pemulihan. Jika muncul sesak napas atau kondisi tak kunjung membaik, pemeriksaan medis sangat dianjurkan.
Lonjakan flu di New York ini jadi pengingat penting. Flu bukan sekadar sakit musiman biasa. Di kondisi tertentu, dampaknya bisa serius dan bikin sistem kesehatan kewalahan. (*)


