BACAAJA, BANDARLAMPUNG- Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Lampung, Kamis (20/11) vibes-nya kayak lagi ngoprek bareng. Pemprov Lampung ketemu Badan Urusan Legislasi Daerah (BULD) DPD RI, tujuannya nggak muluk, nyamain frekuensi biar regulasi daerah nggak cuma keren di dokumen, tapi juga kerja beneran di lapangan.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela langsung ngasih credit ke BULD. Katanya, kolaborasi ini penting banget buat bikin Raperda dan Perda Lampung makin rapi, makin pas, dan makin bisa bantu pembangunan. “Ini komitmen nyata biar pusat-daerah nggak jalan kayak dua playlist beda genre,” ujar Jihan.
Ia juga ngingetin kalau bikin regulasi itu ribet, banyak tabrakan aturan, banyak harmonisasi yang mesti diberesin. Apalagi ruang fiskal daerah masih sempit. Tapi Lampung ternyata tetap bisa ngegas: ekonomi triwulan I tahun 2025 tumbuh 5,47 persen, paling tinggi di seluruh Sumatra.
Jihan bilang dukungan BULD bikin Pemprov bisa “ngaca lebih jernih”: evaluasi proses, beresin mekanisme, dan pastikan regulasi nyambung dengan kebutuhan masyarakat. Intinya, biar nggak ada aturan yang lahir cuma buat jadi penghuni lemari arsip.
Evaluasi Perda
Sementara dari kubu DPD RI, Ketua BULD Stefanus BAN Liow bawa kabar, mereka sekarang punya tugas baru yaitu mantau dan evaluasi Raperda/Perda. Fokusnya? Harmonisasi. Alias, jangan sampai aturan pusat dan daerah kayak chat yang telat dibales: nggak nyambung.
“Daerah mesti nyusun Perda yang selaras sama aturan pusat, dan pusat juga jangan lupa dengerin suara daerah,” tegas Stefanus.
Anggota DPD RI, Ahmad Bastian SY ikut nge-highlight posisi Lampung yang strategis buat ekonomi nasional. Dia bilang pertumbuhan ekonomi Lampung yang 5,04 persen juga nggak lepas dari peran Perda yang jadi penopang berbagai sektor.
Tapi ya, tetap aja, pembentukan Perda masih punya drama: konsep, prosedur, sampai implementasi. Makanya, kunjungan ini dipake buat gali masalah, nyari bottleneck, dan nyiapin rekomendasi supaya regulasi ke depan lebih adaptif dan nyambung sama semangat otonomi daerah. (tebe)

