Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Fenomena Curhat ke AI, Psikolog Ingatkan Risiko Ketergantungan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Viral

Fenomena Curhat ke AI, Psikolog Ingatkan Risiko Ketergantungan

AI bukan sumber terpercaya dalam memberikan informasi medis maupun psikologis. Kesalahan data dapat berisiko memperburuk kondisi seseorang yang sedang mengalami masalah mental.

Nugroho P.
Last updated: September 13, 2025 10:11 am
By Nugroho P.
3 Min Read
Share
Curhat dengan AI.
SHARE

BACAAJA, BANYUMAS – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat banyak orang mulai memanfaatkannya bukan hanya untuk mencari informasi, tetapi juga sebagai teman curhat. Di sejumlah negara, bahkan muncul fenomena pengguna yang memberi nama pada chatbot mereka dan menganggapnya sebagai sahabat pribadi.

Salah satunya dialami seorang perempuan yang kerap mencurahkan isi hati pada chatbot ciptaannya. Ia bahkan menamai bot tersebut dengan nama terpilih dan menjadikannya tempat meluapkan rasa sedih maupun senang. Fenomena ini dianggap unik, namun pakar kesehatan mental menilai ada sisi bahaya yang perlu diwaspadai.

Psikolog asal Banjarnegara, Alta Aviva menegaskan bahwa chatbot AI hanya mampu memberikan respons berdasarkan pola data, bukan empati manusia. “AI bisa memberi jawaban seolah penuh perhatian, tapi itu bukanlah pemahaman emosional yang sebenarnya,” ujar seorang pakar psikologi klinis ini.

Menurut para ahli, ketergantungan terhadap chatbot dapat menimbulkan beberapa risiko. Pertama, muncul rasa nyaman semu yang membuat pengguna seakan menemukan pendengar, padahal masalah sebenarnya belum terselesaikan. Kedua, keterikatan emosional dengan bot bisa mengurangi minat berinteraksi dengan manusia nyata.

Fenomena ini juga berpotensi mengaburkan realita. Pasalnya, chatbot sering kali salah menangkap konteks atau memberi jawaban tidak tepat. Jika dijadikan acuan dalam mengambil keputusan, pengguna bisa salah langkah.

Selain itu, AI bukan sumber terpercaya dalam memberikan informasi medis maupun psikologis. Kesalahan data dapat berisiko memperburuk kondisi seseorang yang sedang mengalami masalah mental. “Chatbot tidak bisa menggantikan peran psikolog atau psikiater yang memiliki pengalaman klinis,” tambah pakar.

Bahaya lain yang tak kalah penting adalah soal privasi. Setiap percakapan dengan AI berpotensi terekam dan tersimpan dalam sistem. Jika tidak dikelola dengan baik, data pribadi bisa bocor dan disalahgunakan pihak tertentu.

Psikolog juga mengingatkan, ketergantungan pada bot dapat membuat kemampuan sosial seseorang menurun. Minimnya interaksi nyata bisa mengurangi kepekaan terhadap ekspresi, bahasa tubuh, hingga empati sesama manusia.

Meski begitu, pakar tidak sepenuhnya menolak pemanfaatan AI. Chatbot dinilai masih bisa membantu dalam hal ringan, seperti mencari informasi umum atau memberikan distraksi sementara. Namun untuk kasus serius, intervensi profesional tetap dibutuhkan.

Masyarakat diimbau bijak dalam memanfaatkan AI sebagai teman curhat. Jika merasakan gejala stres berat, kecemasan berlebihan, atau keinginan menyakiti diri, segera mencari pertolongan tenaga kesehatan jiwa.

“AI bisa jadi alat bantu, tapi bukan solusi utama. Interaksi dengan manusia dan dukungan sosial tetap sangat penting,” pungkas psikolog. (*)

You Might Also Like

Iuran BPJS Harus Naik, Negara Nggak Kuat Lagi?

Di Kantor Dipanggil Purbaya, di Rumah Tak Berdaya

Duh! Viral Nih, Mahasiswi UNS Penerima KIP Ketahuan Malamnya Dugem

Mau Gratis Buka dan Sahur di Masjid Kampus UGM? Ini Caranya

Duka Lebanon Menggema, Rico Gugur Dunia Ikut Menoleh

TAGGED:chaatbootcurhatcurhat dengan AIcurhat ke AIpsikolog
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Rizky Ridho dkk Minta Fans: Jangan Lagi Edit Foto Pemain Timnas Pakai AI, Ini Alasannya!
Next Article 6 Minuman yang Bikin Ginjal Tetap Sehat, Nggak Bikin Nyesel

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

BARONGSAI - Sejumlah pemain barongsai mengenakan baju hijau, tengah memegang kepala barongsai dan memegang dupa, Jumat (25/9/2026). Mereka baru saja mengikuti atraksi untuk meramaikan gelaran Mooncake Festival di Kawasan Pecinan Semarang. (dul)

Barongsai Turun ke Jalan, Rangkaian Mooncake Festival Bikin Warga Berkerumun

Begini Bentuk Hisab Amal di Hari Kiamat

Kemenkum Jateng Dorong Pelaku Usaha Tak Asal Pilih Merek

Mooncake Festival 2026 Hidupkan Kawasan Pecinan Semarang

Sekda Banyumas Mundur Usai Diperiksa KPK

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Viral

Faktanya, Kupas Bawang 4 Karung, Yeyet Cuma Dapat Rp40 Ribu

Agustus 16, 2026
Viral

Teror ke Ketua BEM UGM Bertubi, Giliran Dituding Gelapkan Uang

Februari 27, 2026
Viral

Unik Banget, Bakal Ada Masjid Dibangun Dari Batu Giok

Oktober 25, 2025
Viral

Cimol Bojot, Jajanan Viral dari Garut yang Bikin Lidah Nggak Berhenti Ngunyah

September 29, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Fenomena Curhat ke AI, Psikolog Ingatkan Risiko Ketergantungan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?