BACAAJA, SEMARANG — Malam di depan Landmark UIN Walisongo, Rabu (5/11/2025), terasa berat.
Puluhan mahasiswa berdiri berjejer, sebagian menunduk, sebagian lagi menatap kosong ke arah lilin-lilin kecil yang menyala.
Mereka berkumpul untuk mendoakan enam teman KKN yang terseret arus di Kendal, Selasa (4/11/2025) siang.
Salat gaib digelar, disusul doa bersama yang dipimpin sederhana. Isak tangis pelan terdengar di antara kerumunan.
Najfa dan Jihan, dua mahasiswa yang datang sebagai bentuk solidaritas, ikut larut dalam suasana.
“Rasanya gak nyangka. Mereka cuma niat refreshing, tapi malah jadi kabar duka,” kata Najfa pelan.
Salah satu saksi yang juga teman satu posko menceritakan kejadian itu di depan Landmark kampus malam itu. Suaranya bergetar, tangannya sesekali mengepal.
“Sebelum kejadian, kami sempat mutholaah ringan, bahas soal kematian. Siangnya, mereka pamit main air di sungai. Gak lama, kabar itu datang,” ucapnya.
Menurut keterangan yang dihimpun, arus deras tiba-tiba datang saat mereka bermain di kawasan Tubing Genting Jolinggo, Desa Getas, Kecamatan Singorojo, Kendal.
Beberapa teman yang melihat mencoba menolong, tapi justru ikut terbawa arus.
Lima mahasiswa sudah ditemukan meninggal dunia. Satu lainnya, Nabila, masih dalam pencarian tim SAR gabungan. Hingga malam itu, pencarian masih terus dilakukan.
Doa dan solidaritas malam itu jadi pengingat betapa cepat hal bisa berubah. Di depan Landmark, mahasiswa saling menguatkan.
Tak banyak yang bisa mereka lakukan, selain berdoa agar pencarian segera berakhir dan semua keluarga diberi ketabahan. (dul)


