BACAAJA, SEMARANG — Rasa cemas masih menggantung di RT 03 RW 06, Kelurahan Deliksari. Hujan deras yang turun beberapa waktu lalu bukan cuma bikin jalanan basah — tapi juga kembali memicu longsor yang merusak permukiman warga.
Senin lalu, tiga rumah dilaporkan ambruk setelah tanah di kawasan tersebut tak lagi mampu menahan air. Bagi warga, ini bukan sekadar bencana dadakan. Longsor seperti sudah jadi “ancaman langganan” setiap musim hujan datang.
Natan (25), yang sudah tinggal di wilayah itu sejak 2012, mengatakan tanda-tanda longsor sebenarnya sudah muncul sejak lama. Semuanya berawal dari retakan kecil di tanah, yang pelan tapi pasti makin melebar saat diguyur hujan.
Bacaaja: Ngeri! Detik-detik Bangunan Ponpes Al Adalah Ambruk Ditelan Tanah Gerak di Tegal
Bacaaja: Triastono Risau Tanah Terus Bergerak, Warga Deliksari Bertahan di Tengah Ancaman Longsor
“Awalnya cuma retak kecil sedikit-sedikit, terus kena hujan makin melebar sampai akhirnya longsor,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (11/02/2026).
Menurut Natan, rasa waswas hampir selalu muncul tiap kali hujan turun deras dalam waktu lama. Warga pun seperti hidup dalam mode siaga, khawatir tanah tiba-tiba bergerak.
Ia menilai kondisi lingkungan ikut memperparah situasi. Penebangan pohon yang tidak terkendali disebut membuat tanah kehilangan “pegangan”, sehingga jadi lebih labil.
Tak cuma itu, perubahan fungsi lahan juga diduga berpengaruh.
“Dulu di situ belum ada rumah, cuma kandang kambing. Setelah lahannya dipakai bangun rumah, malah jadi longsor,” katanya.
Sebenarnya, longsor bukan hal baru di kawasan tersebut. Beberapa bangunan pernah terdampak sebelumnya, meski skalanya tidak sebesar sekarang. Namun setelah ada rumah yang benar-benar ambruk, kekhawatiran warga otomatis naik level.
Apalagi, warga juga mendapat informasi bahwa wilayah itu masuk jalur patahan berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Artinya, daerah tersebut memang tergolong rawan pergerakan tanah — bahkan berpotensi terdampak gempa.
Natan mengaku sempat merasakan getaran beberapa kali, termasuk saat gempa yang bersumber dari Pacitan belum lama ini.
“Waktu gempa Pacitan itu di sini juga terasa. Jadi ya sekarang paling cuma bisa lebih waspada,” tuturnya.
Saat ini, harapan warga sederhana: ada langkah nyata dari pemerintah dan pihak terkait. Bukan hanya penanganan setelah longsor terjadi, tapi juga solusi pencegahan agar mereka tidak terus hidup dalam bayang-bayang bencana.
Sebab bagi warga Deliksari, yang paling melelahkan bukan cuma longsornya, tapi rasa takut yang datang setiap kali hujan mulai turun. (*)


